#30 tag 24jam
OPM Ancam Serang Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Papua
OPM meminta orang asli Papua tidak ikut merayakan Kemerdekaan Indonesia ke-79. [459] url asal
#opm-serang-17-agustus #opm-serang-upacara-kemerdekaan #tni-gugur-di-papua #organisasi-papua-merdeka #papua-merdeka #sebby-sambom #kekerasan-di-papua #opm-serang-tni
(Republika - News) 16/08/24 17:29
v/14490609/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kelompok separatis bersenjata Papua Merdeka mengancam akan melakukan penyerangan untuk menggagalkan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Bumi Cenderawasih, 17 Agustus 2024. Kelompok separatis Papua Merdeka itu pun meminta agar seluruh masyarakat asli Papua (OAP) tak ikut-ikut dalam perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-79.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menegaskan, OAP bukan bagian dari Indonesia. Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, OAP pun dalam sejarahnya tak pernah ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan asing. Oleh sebab itu, kata dia, tak patut jika ada OAP turut serta merayakan hari kemerdekaan Indonesia.
“Kami perlu sampaikan bahwa Bangsa Papua tidak pernah ikut dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, dengan tegas OAP tidak perlu ikuti perayaan hari kemerdekaan Indonesia,” begitu kata Sebby dalam siaran pers, Jumat (16/8/2024).
Sebby menegaskan, sayap bersenjata TPNPB-OPM di seluruh wilayah operasi di Papua akan melakukan segala upaya untuk menggagalkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia di Papua. Termasuk dengan melakukan serangan bersenjata.
“Pasukan TPNPB-OPM yang sudah siap, tetap akan lakukan penembakan untuk gagalkan perayaan HUT Indonesia 2024 ini,” begitu kata Sebby.
Dia mengatakan, serangkaian serangan untuk menggagalkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia pun sudah mulai dilakukan sejak Kamis (15/8/2024). Kata Sebby, laporan yang sampai ke markas pusat TPNPB-OPM, dari wilayah Sinak dan Puncak Jaya disebutkan adanya penyerangan yang dilakukan sayap bersenjata Papua Merdeka terhadap prajurit TNI.
Di Kota Baru Sinak, kata Sebby, satu anggota ditembak dan mengalami luka-luka. Sedangkan satu penyerangan lagi dilakukan di Puncak Jaya, dengan menewaskan satu prajurit TNI Serka JEM.
“Pasukan kami tembak dua anggota TNI di Kota Baru Sinak, Kabupaten Puncak. Satu anggota mati dan yang satunya luka tembak,” begitu ujar Sebby.
TNI pun membenarkan kabar tentang gugurnya Serka JEM dalam penyerangan tersebut. Kapendam Cenderawasih Letnan Kolonel (Letkol) Candra Kurniawan mengabarkan, Serka JEM meninggal dunia saat melakukan pengamanan persiapan Pilkada 2024 di Distrik Pagaleme, di Puncak Jaya, pada Kamis (15/8/2024) waktu setempat.
“OPM (Organisasi Papua Merdeka) telah membunuh putra terbaik Papua, Serka JEM yang merupakan anggota Kodim 1714/PJ,” begitu kata Letkol Candra dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, pada Jumat (16/8/2024).
Letkol Candra menyampaikan, kejadian penembakan tersebut terjadi pada Kamis (15/8/2024). Serka JEM ditembak kelompok separatis di area Sport Center saat berlangsungnya sosialisasi Pilkda Puncak Jaya-Papua Tengah 2024.
“Saat kejadian Serka JEM sedang berada di dalam mobil di area tersebut. Dan tiba-tiba, ditembak oleh gerombolan OPM yang mengakibatkan meninggal dunia,” begitu kata Letkol Candra.
Saat ini, pasukan TNI masih melakukan pengejaran terhadap kelompok separatis pelaku penyerangan tersebut. Sedangkan jenazah Serka JEM sudah dievakuasi ke RSUD Mulia untuk selanjutnya diserahkan ke pihak keluarga agar dimakamkan.
“Aparat keamanan, masih melakukan pengejaran terhadap OPM pelaku penembakan,” begitu ujar dia.
OPM tak Akui Pembunuhan Pilot Selandia Baru, Ini Tantangan Mereka kepada TNI-Polri
OPM menolak untuk mengakui terlibat dalam pembunuhan pilot Selandia Baru. [1,164] url asal
#pilot-selandia-baru #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #pilot-glen-malcolm-conning #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #sebby-sambom #opm-tidak-bunuh-pilot-selandia-baru #opm-sadis-bunuh-pilot-selandia
(Republika - News) 09/08/24 06:42
v/13878218/
REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA — Kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) masih menolak untuk mengakui terlibat dalam peristiwa penyerangan dan pembunuhan pilot asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning yang terjadi di Distrik Alama, Mimika, Papua Tengah, Senin (5/8/2024). Kelompok bersenjata Papua Merdeka itu menuntut aparat keamanan Indonesia membuktikan tuduhan yang menyudutkan TPNPB-OPM adalah kelompok pelaku penyerangan dan pembunuhan pilot helikopter sipil milik PT Intan Angkasa Air Service tersebut.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, sampai hari ke-4 setelah penyerangan dan pembunuhan di Distrik Alama tersebut, belum ada satupun sayap militer Papua Merdeka yang berbasis di kawasan Mimika, Papua Tengah melaporkan perihal peristiwa tersebut ke Markas Pusat TPNPB-OPM. Karena itu, kata Sebby, penyampaian Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Satgas Damai Cartenz yang menuding kelompok bersenjata Papua Merdeka adalah kelompok pelaku dalam penyerangan dan pembunuhan Glen Malcolm tersebut tak dapat diterima.
“Berdasarkan fakta hukum apa pihak Indonesia mempublikasikan bahwa pilot asal New Zealand (Selandia Baru) Glen Malcolm Conning dibunuh oleh TPNPB-OPM? Apakah ada hasil dari investigasi dari tim independen yang sudah dilakukan?,” begitu kata Sebby melalui pesan singkat yang diterima, Kamis (8/8/2024). “Kami perlu jelaskan, bahwa sampai hari ke-4 tidak laporan konfirmasi dari TPNPB-OPM di wilayah tersebut. Oleh karena itu perlu investigasi independen, dan kami menunggu fakta-fakta hukumnya,” begitu ujar Sebby.
Sebby, pada Rabu (7/8/2024) menyampaikan kecurigaan TPNPB-OPM atas peristiwa penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm. Selama ini memang dalam setiap peristiwa penyerangan ataupun pembunuhan yang dilakukan sayap bersenjata Papua Merdeka, selalu mendapatkan respons dan pengakuan tanggung jawab dari Markas Pusat TPNPB-OPM. Namun terkait peristiwa penyerangan helikopter sipil PT Intan Angkasa Air Service dan pembunuhan pilot Glen Malcolm di Distrik Alama itu, alih-alih bertanggung jawab, TPNPB-OPM menuding bahwa peristiwa tersebut dilakukan oleh kelompok pelaksana skenario bikinin aparat militer dan keamanan Indonesia.
Kata Sebby, pelaku penyerangan dan pembunuhan tersebut dilakukan oleh kelompok bersenjata binaan TNI maupun Polri. “Kami curiga bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru adalah sudah diskenariokan oleh militer dan polisi Indonesia itu sendiri,” begitu kata Sebby, Rabu (7/8/2024). Dikatakan Sebby, penyerangan dan pembunuhan pilot asal Selandia Baru itu, terkait dengan rencana TPNPB-OPM yang berada di bawah komando Egianus Kogeya di wilayah Nduga, di Papua Pegunungan yang berencana membebaskan pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Marthens.
Kapten Philip juga pilot penerbangan sipil yang berkewarganegaraan Selandia Baru. Pilot Susi Air itu, sudah satu setengah tahun dalam penyanderaan sejak Februari 2023. Penyampaian terbuka TPNPB-OPM untuk membebaskan Kapten Philip tersebut, disampaikan langsung oleh Egianus Kogeya, pada Sabtu (3/8/2024). Sedangkan peristiwa penyerangan dan pembunuhan terhadap pilot Glen Malcolm di Distrik Alama tersebut pada Senin (5/8/2024). Kata Sebby, peristiwa di Distrik Alama tersebut, bertujuan untuk mendegradasi kepercayaan publik atas niat baik TPNPB-OPM dalam memulangkan Kapten Philip.
“Oleh karena itu, perlu investigasi independen karena kami curiga, bahwa hal ini (pembunuhan Glen Malcolm) merupakan bagian dari skenario untuk menghalangi misi pembebasan pilot Susi Air (Kapten Philip), dengan tujuan untuk menggagalkan niat baik Panglima Egianus Kogeya dan pasukannya di Ndugama,” begitu ujar Sebby.
TPNPB-OPM, kata Sebby juga mengkritisi pemberitaan-pemberitaan di Indonesia dan luar negeri yang mengutip penyampaian tak benar yang disampaikan oleh Satgas Damai Cartenz perihal kronologis pilot Glen Malcolm terbunuh. Kata Sebby, semua pemberitaan menyudutkan TPNPB-OPM sebagai pelaku berdasarkan penyampaian Satgas Damai Cartenz.
Padahal, kata dia, hingga kini pun belum ada pernyataan resmi dari sayap militer Papua Merdeka di wilayah Timika, Papua Tengah. Pun kata Sebby, semua pemberitaan menyampaikan pernyataan Satgas Damai Cartenz yang menyebutkan korban Glen Malcolm dibunuh dengan cara ditembak, lalu dibacok, dan dibakar bersama-sama dengan helikopter yang dipilotinya tersebut.
Padahal, kata Sebby, dari dokumentasi yang diterima oleh TPNPB-OPM, terlihat jelas mayat Glen Malcolm dan helikopter yang dipilotinya tersebut dalam kondisi yang utuh dan tak ada tanda-tanda terbakar. “Kami sampaikan dari foto-foto yang kami terima dari PIS (Papua Intelijen Service) TPNPB-OPM, menunjukkan mayat pilot helikopter masih utuh, dan helikopter juga tidak dibakar,” begitu kata Sebby. TPNPB-OPM, kata Sebby menegaskan, penyampaian berita tentang kronologis oleh Satgas Damai Cartenz tersebut adalah informasi yang tak benar.
Satgas Operasi Damai Cartenz, tak menjawab perihal tuntutan permintaan bukti-bukti atas tudingan tentang pelaku penyerangan dan pembunuhan Glen Malcolm adalah kelompok bersenjata Papua Merdeka. Kasatgas Humas Damai Cartenz Komisaris Besar (Kombes) Bayu Suseno hanya mengatakan dari penyelidikan yang dilakukan sementara ini, bahwa pelaku penyerangan dan pembunuhan di Distrik Alama tersebut adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
“KKB ini kan memang membikin propaganda-propaganda yang memposisikan dirinya selalu menjadi benar untuk membuat-buat alasan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan masyarakat sipil,” begitu kata Kombes Bayu, Kamis (8/8/2024).
Sebelumnya, Rabu (7/8/2024) Kombes Bayu juga menegaskan, penyamapaian TPNPB-OPM yang menuding penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm tersebut adalah skenario Indonesia, merupakan watak membela diri dan sikap tak bertanggung jawab atas perbuatan tak manusiawi yang kerap dilakukan kelompok separatis Papua Merdeka terhadap warga biasa di Bumi Papua.
Kata dia, bukan sekali ini saja kelompok separatis Papua Merdeka itu, menyampaikan tudingan-tudingan tak beralasan untuk menghindari pertanggung jawaban. Sebelumnya juga, kata Kombes Bayu, TPNPB-OPM menyikapi pembunuhan Glen Malcolm tersebut, karena diyakini pilot itu adalah mata-mata keamanan Indonesia. Bahkan, kata Kombes Bayu, TPNPB-OPM menyampaikan pemakluman atas penyerangan, dan pembunuhan Glen Malcolm tersebut karena menganggap kejadian itu sebagai risiko. Karena dikatakan, alasan pilot Glen Malcolm nekat masuk ke wilayah peperangan yang sepihak diklaim oleh kelompok Papua Merdeka.
Penyampaian-penyampaian oleh TPNPB-OPM tersebut, menurut Kombes Bayu, bentuk putus asa atas ketidakpercayaan masyarakat Papua terhadap TPNPB-OPM. “Saya kira, KKB ini dan juga juru bicaranya ini, tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang humaniter (hukum perang). Mereka selalu menuduh dan melakukan pembenaran atas setiap kejahatan yang mereka lakukan terhadap masyarakat sipil, baik masyarakat asli Papua (OAP) dan juga masyarakat lainnya,” begitu kata Kombes Bayu. “Pernyataan-pertanyaan juru bicara KKB tersebut, hanya propaganda untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka yang benar,” sambung Bayu.
Mengenai kondisi mayat Glen Malcolm, sebelumnya Kombes Bayu mengatakan, dari informasi saksi-saksi pada saat kejadian, Senin (5/8/2024), dan juga laporan saat dilakukan evakuasi, Selasa (6/8/2024) memang menyebutkan keadaan nahas tak bernyawa pilot 50-an tahun tersebut. Kombes Bayu mengatakan, dari saksi-saksi saat kejadian penyerangan dan pembunuhan dilakukan, Glen Malcolm ditembak, lalu dibacok, dan mayatnya diletakkan di kokpit helikopter lalu dibakar. Namun dari laporan evakuasi, pada Selasa (6/8/2024) memang terlihat kondisi mengenaskan jenazah Glen Malcolm yang terkulai di kokpit helikopter.
Kata Kombes Bayu, dari evakuasi yang dilakukan memang terlihat adanya bekas pembakaran yang dilakukan kelompok sepratis usai melakukan aksi kejamnya tersebut. “Memang benar helikopternya dibakar. Tetapi, yang terbakar hanya kursi bagian belakang. Untuk kursi bagian depan yang berada di kokpit pilot, tidak terbakar,” begitu ujar Kombes Bayu.
Situasi hujan pada saat kejadian pembunuhan, kata Kombes Bayu yang memungkinkan helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service tersebut dan jasad pilot Glen Malcolm dapat terhindar dari api. “Mungkin disebabkan hujan, pada pada saat api berjalar, mati karena hujan tersebut,” ujar Kombes Bayu.
Usai Bunuh Pilot Selandia Baru, OPM Malah Salahkan TNI-Polri
Jubir menyampaikan, OPM tidak bertanggungjawab dalam terbunuhnya pilot Glen Malcolm. [643] url asal
#tpnpb-opm #sebby-sambom #egianus-kogeya #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #opm-tuding-tni-polri-atas-tewasnya-pilot-selandia-baru #pilot-glen-malcolm-conning #glen
(Republika - News) 07/08/24 17:42
v/13670344/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Markas Pusat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) tak bersedia bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap pilot helikopter asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning. Alih-alih mengakui sebagai pihak yang melakukan perbuatan keji tersebut, TPNPB-OPM curiga aksi tak manusiawi itu merupakan skenario yang dilakukan oleh kelompok separatis binaan pemerintah, dalam hal ini TNI-Polri.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, pembunuhan Glen Malcolm yang terjadi di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Senin (5/8/2024), berkaitan dengan kesediaan kelompok Papua merdeka tersebut untuk membebaskan Kapten Philip Mark Marthens. Kapten Philip adalah pilot Susi Air, yang juga berkebangsaan Selandia Baru.
Dia sejak Februari 2023, dalam penyanderaan OPM di bawah Egianus Kogeya yang beroperasi di Nduga, Papua Tengah. Pada Sabtu (3/8/2024), Egianus Kogeya melalui siaran video terbuka kepada TNI dan pemerintah Indonesia menyampaikan kesediannya untuk bernegosiasi membebaskan Kapten Philip.
Sebby pun menjelaskan, sikap Egianus yang akan membebaskan Kapten Philip tersebut ditanggapi negatif oleh otoritas keamanan Indonesia, terutama dari Satgas Operasi Damai Cartenz. "Kami curiga bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru sudah diskenariokan oleh militer dan polisi Indonesia itu sendiri," kata Sebby kepada Republika.co.id di Jakarta pada Rabu (7/8/2024).
Menurut dia, TPNPB-OPM punya pengalaman tentang aksi dari kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Papua Merdeka. Namun, ternyata gerombolan tersebut merupakan pasukan bawah tanah binaan TNI.
Sebby mencontohkan, kasus penyerbuan mess karyawan PT Freeport di Kuala Kencana pada Maret 2020. Dalam peristiwa tersebut, kata Sebby, kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Papua Merdeka membunuh sejumlah karyawan perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.
Beberapa korban mati dalam penyerangan tersebut, Sebby menilai, juga beberapa di antaranya berkebangsaan Selandia Baru. "Dan belakangan, kami mengetahui bahwa peristiwa penembakan karyawan Freeport di Kuala Kencana itu, diskenariokan oleh militer Indonesia. Dalam hal ini, militer Indonesia bekerjasama dengan TPNPB binaannya, dan memerintah TPNPB binaannya untuk menyerang karyawan Freeport," kata Sebby.
Dari informasi intelijen TPNPB-OPM, kata Sebby, diketahui akhirnya pelaku penyerangan di Kuala Kencana ketika itu ditangkap oleh TNI dan dibunuh di Timika, Kabupaten Mimika. "Pembunuhan itu (Kuala Kencana), karena kekhawatiran militer Indonesia, bahwa dia adalah saksi, dan pelaku skenario itu. Hal ini, dilaporkan oleh PIS (Papua Intelijen Service) TPNPB - OPM tiga tahun setelah peristiwa (Kuala Kencana) itu," ucap Sebby.
Dari pengalaman di Kuala Kencana tersebut, kata Sebby, TPNPB-OPM curiga peristiwa pembunuhan pilot helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service di Distrik Alama, pelakunya adalah personel TNI atau Polri. Dia menegaskan, bukan OPM pelakunya.
"Maka kami curigai bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru tersebut adalah bagian dari skenario militer dan polisi Indonesia. Karena hal itu, terjadi setelah managemen Markas Pusat TPNPB-OPM telah umumkan pembebasan pilot Susi Air asal Selandia Baru (Kapten Philip) yang masih ditahan (disandera)," kata Sebby.
Menurut Sebby, peristiwa di Distrik Alama tersebut merupakan reaksi pihak militer dan keamanan Indonesia, agar upaya pemulangan Kapten Philip dari penyanderaan di Nduga, gagal terwujud. "Kami curiga, bahwa ini merupakan bagian dari misi untuk menghalang-halangi tujuan Komandan TPNPB Kodap III Ndugama Egianus Kogeya dan pasukannya, untuk membebaskan pilot Susi Air (Kapten Philip)," ujar Sebby.
OPM tak bertanggung jawab...
Satgas Operasi Damai Cartenz menegaskan, penyamapaian TPNPB-OPM yang menuding penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm tersebut adalah skenario Indonesia, merupakan watak membela diri. Kasatgas Humas Damai Cartenz Kombes Bayu Suseno menuding, OPM memang memiliki sikap tak bertanggung jawab.
Padahal, mereka melakukan perbuatan tak manusiawi yang kerap menyasar warga sipil di Bumi Cenderawasih. Bayu mengatakan, dari saksi saat kejadian penyerangan, Glen Malcolm ditembak dan dibacok oleh OPM. Setelah itu, mayatnya diletakkan di kokpit helikopter, lalu dibakar.
Dia menyebut, bukan sekali ini saja kelompok separatis Papua Merdeka itu menyampaikan tudingan tak beralasan untuk menghindari pertanggungjawaban.
Bayu menganggap, TPNPB-OPM sebelumnya menganggap Glen Malcolm sebagai mata-mata keamanan Indonesia sehingga harus dihabis.
"Pernyataan-pertanyaan juru bicara KKB tersebut, hanya propaganda untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka yang benar," ujar Bayu.