#30 tag 24jam
FIFA Tunda Lagi Keputusan Banding Pelarangan Partisipasi Israel
Komite Disiplin FIFA akan diberi mandat untuk memulai penyelidikan atas dugaan pelanggaran diskriminasi yang diajukan PFA. - Halaman all [568] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #fifa-tunda-keputusan-banding #partisipasi-israel #asosiasi-sepak-bola-palestina #perang-gaza #asosiasi-sepak-bola-israel #presiden-fifa #gianni-infantino #berita-ekono
(InvestorID) 05/10/24 23:44
v/16033531/
ZURICH, investor.id – Federation Internationale de Football Association atau FIFA kembali menunda keputusan atas seruan Palestina untuk melarang Israel berpartisipasi dalam sepak bola, mengingat perang yang sedang berlangsung di Gaza.
Setelah pertemuan di markas besar di Zurich, Swiss pada Kamis (03/10/2024), FIFA, mengatakan komite disiplinernya akan meninjau kembali tuduhan diskriminasi yang diajukan oleh Palestinian Football Association (PFA) atau Asosiasi Sepak Bola Palestina.
Mengutip dari pernyataan FIFA bahwa Komite Disiplin FIFA akan diberi mandat untuk memulai penyelidikan atas dugaan pelanggaran diskriminasi yang diajukan oleh Asosiasi Sepak Bola Palestina.
“Komite Tata Kelola, Audit dan Kepatuhan FIFA akan dipercayakan dengan misi untuk menyelidiki – dan kemudian memberi saran kepada Dewan FIFA tentang – tentang partisipasi dalam kompetisi Israel dari tim-tim sepak bola Israel yang diduga berbasis di wilayah Palestina,” demikian isi pernyataan yang dilansir AL Jazeera.
Sementara Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan bahwa dewan telah menerapkan uji tuntas terkait masalah ini, dan mengikuti saran dari para ahli independen.
Seperti diberitakan, PFA pada Mei 2024 menuding Israel Football Association (IFA) atau Asosiasi Sepak Bola Israel melanggar statuta FIFA dengan perangnya di Gaza, dan langkahnya mengikutsertakan tim-tim yang berada di permukiman ilegal di wilayah Palestina dalam liga domestik.
Dalam argumen tersebut, PFA ingin FIFA menerapkan sanksi-sanksi yang sesuai terhadap tim nasional dan klub Israel, termasuk larangan bermain di laga internasional.
IFA sendiri menyebut permintaan PFA sebagai langkah politik yang sinis. Sedangkan, FIFA telah menyerahkan masalah ini kepada penasihat hukum independen yang melakukan evaluasi dan menyusun tanggapan.
Sebagai informasi, ini bukan pertama kalinya FIFA menunda keputusan. Sebelumnya mereka telah berjanji menangani masalah tersebut dalam pertemuan luar biasa dewan pada Juli, tetapi kemudian menunda keputusan hingga pertemuan terakhir pada 31 Agustus. Dan memindahkan keputusannya ke pertemuan Oktober.
Kepala Departemen Hukum PFA Katarina Pijetlovic menyebut keputusan FIFA itu murni politis.
“FIFA mengizinkan Israel FA untuk terus menggunakan wilayah Palestina (Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur) sebagai wilayah mereka sendiri, dan menggunakan sepak bola di bawah payungnya sebagai instrumen ekspansi colonial. Akankah kita menunggu dua tahun lagi, seperti pada 2015-2017, bagi komite untuk menyarankan hal yang sudah jelas dan kemudian saran mereka ditolak lagi?” kata Pijetlovic dalam unggahan di X.
Klub dan Stadion Hancur
Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan, serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 41.700 orang dan melukai lebih dari 96.000 orang. Perang juga berdampak pada sepak bola, olahraga paling populer di Palestina.
Mengutip data PFA, hingga Agustus 2024, setidaknya ada 410 atlet, ofisial olahraga, atau pelatih telah terbunuh dalam perang. Dari jumlah tersebut, 297 di antaranya adalah pemain sepak bola, termasuk 84 anak-anak.
Perang juga telah memaksa tim sepak bola pria Palestina mengikuti pertandingan jauh dari rumah.
“Orang-orang Palestina tahu bahwa tim ini bertindak sebagai bentuk perlawanan dan menyampaikan pesan kepada dunia. Sepak bola adalah panggung di mana sebuah pesan dapat menjangkau jutaan orang,” ungkap seorang penulis sepak bola yang berbasis di Gaza, Abubaker Abed, kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa Palestina merasa dikecewakan oleh dunia, karena Israel terus menghancurkan fasilitas olahraga di Jalur Gaza.
“Lebih dari 50 fasilitas olahraga telah menjadi puing-puing di Gaza, termasuk sembilan dari 10 stadion di Gaza. Hampir setiap klub telah hancur dalam perang ini, sementara satu stadion di Deir el-Balah telah berubah menjadi tempat penampungan bagi ribuan pengungsi,” tutur Abed.
Editor: Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Timnas Sepakbola Palestina Pilih Malaysia Jadi Kandang Sementara
Indonesia ikut menawarkan diri jadi kandang Timnas Palestina. [965] url asal
#malaysia-kandang-palestina #timnas-palestina #sepak-bola-palestina #kualifikasi-piala-dunia #malaysia-indonesia
(Republika - News) 12/08/24 09:26
v/14277867/
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA – Malaysia akan jadi kandang sementara Tim Nasional Sepakbola Palestina pada pertandingan babak ke-3 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah federasi sepak bola dunia (FIFA) menolak pertandingan kandang Palestina dilangsungkan di wilayah Palestina.
Setelah melaju ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia, tim Palestina mengusulkan untuk mengadakan pertandingan di kandang sendiri di Al Ram. Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengumumkan bahwa FIFA telah menolak permintaannya untuk menjadi tuan rumah pertandingan putaran ketiga dan terakhir kualifikasi Piala Dunia 2026, yang dimulai pada bulan September karena perang yang sedang berlangsung di Gaza.
“Asosiasi Sepak Bola Palestina telah menerima pesan dari FIFA mengenai pertandingan kandang kami untuk tahap kualifikasi ketiga dan terakhir Piala Dunia, yang memberi tahu kami bahwa kami tidak akan memainkan pertandingan kandang kami di Palestina.” kata PFA dalam sebuah pernyataan dilansor Doha News, pekan lalu.
“Kami telah lama membela hak kami untuk memainkan pertandingan-pertandingan ini di negara kami, menegaskan kembali komitmen kami kepada para pemain, penggemar, dan semangat sepak bola, terutama mengingat keadaan yang dihadapi rakyat kami saat ini, termasuk genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza dan pendudukan ilegal. Palestina,” tambah pernyataan itu.
Sebaliknya, PFA mengumumkan bahwa Malaysia telah dipilih sebagai tempat pertandingan antara tim nasional dan Yordania, yang dijadwalkan pada 10 September. Dalam pernyataannya, PFA mengucapkan terima kasih kepada beberapa negara Teluk termasuk Qatar, atas tawaran mereka menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.
Namun, mereka memilih Malaysia karena kedekatan geografisnya dengan tempat laga pembuka timnas melawan Korea Selatan pada 5 September. “Mengingat kenyataan ini, kami memutuskan untuk memainkan pertandingan kandang pertama kami melawan Yordania pada 10 September di Malaysia. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada negara-negara yang menawarkan untuk menjadi tuan rumah pertandingan kandang kami, termasuk Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Aljazair, Malaysia, Indonesia, dan Qatar. Dukungan mereka menunjukkan solidaritas yang kuat dan persahabatan yang mendalam dengan rakyat Palestina,” tambah pernyataan itu.
“Kami meminta maaf kepada fans kami karena tidak bisa memainkan pertandingan kandang kami di Palestina dan kami berharap dapat menemukan formula terbaik yang memungkinkan orang-orang kami mendukung tim nasional kami,” tambah pernyataan itu. “Kami berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak kami untuk bermain di Yerusalem. Kami percaya ini adalah hak kami dan hak penggemar kami untuk mendukung tim mereka dan membuat sejarah bersama.”
Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dalam pernyataannya pada Kamis (8/8/2024) mengiyakan keputusan itu. The Star melaporkan, keputusan tersebut diambil setelah diskusi antara presiden FAM Datuk Hamidin Mohd Amin dan PFA baru-baru ini.
“Setelah berdiskusi, tercapai kesepakatan antara FAM dan PFA dimana Datuk Hamidin yang juga anggota Dewan FIFA setuju untuk menawarkan tempat netral di Malaysia dan dipilihlah Stadion Sepak Bola Kuala Lumpur,” kata FAM. FAM sekaligus menggambarkan suatu kehormatan besar bagi Malaysia menjadi satu-satunya negara yang dipercaya Palestina menjadi tempat netral bagi timnasnya. FAM juga akan memberikan dukungan dan bantuan penuh kepada PFA selama timnas Palestina berada di Tanah Air.
Bulan lalu, tim Palestina mencetak sejarah dengan melaju ke babak ketiga kualifikasi kontinental untuk pertama kalinya. Karena perang genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, mereka memainkan pertandingan kandangnya di Kuwait dan Qatar. “Bermain di tempat netral tidaklah permanen dan tidak pernah dimaksudkan untuk itu, jadi Faisal Al-Husseini siap menjadi tuan rumah.”
Susan Shabali, wakil presiden PFA, mengatakan kepada The Associated Press. Stadion Internasional Faisal Al-Husseini, dengan kapasitas 12.500 orang, terletak di kota Al Ram, Tepi Barat. Pada tahun 2019, stadion ini menjadi tuan rumah pertandingan kandang kompetitif terbaru tim, kualifikasi Piala Dunia melawan Arab Saudi yang berakhir imbang 0-0.
Di tanah air mereka, sepak bola Palestina babak belur dihajar pemboman brutal oleh Israel. Namun di tengah nelangsa itu, al-Fida’i alias Para Pejuang, julukan yang kini sangat pas bagi Tim Nasional Sepak Bola Palestina, justru mencatatkan sejarah lolos ke babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.
Palestina menciptakan sejarah itu menyusul hasil imbang tanpa gol pada Kamis melawan Lebanon di Stadion Jassin al Hammad di Doha. Palestina, yang memasuki pertandingan Grup I dengan tujuh poin, hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos. Permainan kasar Lebanon, yang mendapatkan tujuh kartu kuning, tak berhasil menembus pertahanan Para Pejuang.
Catatan ini juga akan menandai keempat kalinya berturut-turut Palestina mengamankan tempat mereka di putaran final Piala Asia AFC, yang akan diselenggarakan oleh Arab Saudi pada tahun 2027. Pasukan manajer Makram Daboub akan menghadapi Australia pada 11 Juni mendatang untuk menentukan nasib mereka selanjutnya dalam upaya meraih tiket ke Piala Dunia 2026.
Capaian Palestina ini tergolong istimewa jika menengok kondisi persepakbolaan mereka di kampung halaman. Sejumlah stadion sepak bola profesional di Gaza tampaknya telah dimasukkan dalam daftar target tentara Israel sejak awal perang.
Sempat muncul gambar dan video yang memperlihatkan sejumlah besar pemuda Palestina ditelanjangi hingga hanya mengenakan pakaian dalam di bawah todongan senjata oleh tentara Israel di Stadion Yarmuk, di Gaza utara.
Asosiasi Sepak Bola Palestina mengatakan bahwa dalam periode antara 7 Oktober dan 6 Desember, mereka mendokumentasikan pembunuhan 85 atlet Palestina. Sebanyak 55 di antara mereka yang syahid adalah pemain sepak bola dan 30 lainnya adalah atlet cabang olahraga lain.
“Diindikasikan bahwa pasukan pendudukan Israel, dalam agresi berkelanjutan mereka terhadap wilayah utara dan selatan negara itu, menargetkan atlet dan fasilitas olahraga Palestina, terutama pemain sepak bola, dan presiden klub, administrator, wasit, dan lainnya,” tulis asosiasi sepak bola Palestina dalam surat meminta Israel disanksi oleh FIFA.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA bahwa di antara para pemain sepak bola yang terbunuh termasuk 18 anak-anak dan 37 remaja. Dua di antaranya dibunuh di Tepi Barat. Jauh sebelum dimulainya perang Israel, para pemain sepak bola Palestina kerap menjadi sasaran militer Israel, sering kali dibunuh, disakiti, dan ditahan dengan berbagai alasan. Tim sepak bola Palestina, termasuk tim nasional, sering kali dilarang bergerak bebas antara Tepi Barat yang diduduki dan Gaza yang terkepung. Para pemain Gaza telah berulang kali dilarang bergabung dengan skuad tim nasional dalam pertandingan regional dan internasional.
Palestina Pilih Malaysia Jadi Kandang Sementara Timnas Sepakbola
Indonesia ikut menawarkan diri jadi kandang Timnas Palestina. [582] url asal
#malaysia-kandang-palestina #timnas-palestina #sepak-bola-palestina #kualifikasi-piala-dunia #malaysia-indonesia
(Republika - News) 12/08/24 09:26
v/14272058/
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA – Malaysia akan jadi kandang sementara Tim Nasional Sepakbola Palestina pada pertandingan babak ke-3 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah federasi sepak bola dunia (FIFA) menolak pertandingan kandang Palestina dilangsungkan di wilayah Palestina.
Setelah melaju ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia, tim Palestina mengusulkan untuk mengadakan pertandingan di kandang sendiri di Al Ram. Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengumumkan bahwa FIFA telah menolak permintaannya untuk menjadi tuan rumah pertandingan putaran ketiga dan terakhir kualifikasi Piala Dunia 2026, yang dimulai pada bulan September karena perang yang sedang berlangsung di Gaza.
“Asosiasi Sepak Bola Palestina telah menerima pesan dari FIFA mengenai pertandingan kandang kami untuk tahap kualifikasi ketiga dan terakhir Piala Dunia, yang memberi tahu kami bahwa kami tidak akan memainkan pertandingan kandang kami di Palestina.” kata PFA dalam sebuah pernyataan dilansor Doha News, pekan lalu.
“Kami telah lama membela hak kami untuk memainkan pertandingan-pertandingan ini di negara kami, menegaskan kembali komitmen kami kepada para pemain, penggemar, dan semangat sepak bola, terutama mengingat keadaan yang dihadapi rakyat kami saat ini, termasuk genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza dan pendudukan ilegal. Palestina,” tambah pernyataan itu.
Sebaliknya, PFA mengumumkan bahwa Malaysia telah dipilih sebagai tempat pertandingan antara tim nasional dan Yordania, yang dijadwalkan pada 10 September. Dalam pernyataannya, PFA mengucapkan terima kasih kepada beberapa negara Teluk termasuk Qatar, atas tawaran mereka menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.
Namun, mereka memilih Malaysia karena kedekatan geografisnya dengan tempat laga pembuka timnas melawan Korea Selatan pada 5 September. “Mengingat kenyataan ini, kami memutuskan untuk memainkan pertandingan kandang pertama kami melawan Yordania pada 10 September di Malaysia. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada negara-negara yang menawarkan untuk menjadi tuan rumah pertandingan kandang kami, termasuk Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Aljazair, Malaysia, Indonesia, dan Qatar. Dukungan mereka menunjukkan solidaritas yang kuat dan persahabatan yang mendalam dengan rakyat Palestina,” tambah pernyataan itu.
“Kami meminta maaf kepada fans kami karena tidak bisa memainkan pertandingan kandang kami di Palestina dan kami berharap dapat menemukan formula terbaik yang memungkinkan orang-orang kami mendukung tim nasional kami,” tambah pernyataan itu. “Kami berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak kami untuk bermain di Yerusalem. Kami percaya ini adalah hak kami dan hak penggemar kami untuk mendukung tim mereka dan membuat sejarah bersama.”
Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dalam pernyataannya pada Kamis (8/8/2024) mengiyakan keputusan itu. The Star melaporkan, keputusan tersebut diambil setelah diskusi antara presiden FAM Datuk Hamidin Mohd Amin dan PFA baru-baru ini.
“Setelah berdiskusi, tercapai kesepakatan antara FAM dan PFA dimana Datuk Hamidin yang juga anggota Dewan FIFA setuju untuk menawarkan tempat netral di Malaysia dan dipilihlah Stadion Sepak Bola Kuala Lumpur,” kata FAM. FAM sekaligus menggambarkan suatu kehormatan besar bagi Malaysia menjadi satu-satunya negara yang dipercaya Palestina menjadi tempat netral bagi timnasnya. FAM juga akan memberikan dukungan dan bantuan penuh kepada PFA selama timnas Palestina berada di Tanah Air.
Bulan lalu, tim Palestina mencetak sejarah dengan melaju ke babak ketiga kualifikasi kontinental untuk pertama kalinya. Karena perang genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, mereka memainkan pertandingan kandangnya di Kuwait dan Qatar. “Bermain di tempat netral tidaklah permanen dan tidak pernah dimaksudkan untuk itu, jadi Faisal Al-Husseini siap menjadi tuan rumah.”
Susan Shabali, wakil presiden PFA, mengatakan kepada The Associated Press. Stadion Internasional Faisal Al-Husseini, dengan kapasitas 12.500 orang, terletak di kota Al Ram, Tepi Barat. Pada tahun 2019, stadion ini menjadi tuan rumah pertandingan kandang kompetitif terbaru tim, kualifikasi Piala Dunia melawan Arab Saudi yang berakhir imbang 0-0.
Standar Ganda FIFA: Rusia Dulu Disanksi, Timnas Israel Dibolehkan Tampil di Olimpiade
Israel telah membunuh sekitar 100 pesepakbola Palestina dalam genosida kali ini. [755] url asal
#sanksi-fifa-israel #fifa-tak-sanksi-israel #genosida-di-gaza #sepak-bola-israel #gugatan-sepak-bola-palestina #genosida-di-lapangan-hijau
(Republika - News) 19/07/24 07:22
v/11290373/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) telah menunda keputusan atas proposal Palestina untuk menangguhkan Israel dari sepak bola internasional terkait genosida di Jalur Gaza yang menewaskan banyak pemain sepak bola. Langkah ini kontras dengan sikap FIFA pada 2022 yang lekas melarang Timnas Rusia bertanding selepas serangan ke Ukraina.
Dilansir Times of Israel, keputusan FIFA membuka jalan bagi tim nasional putra Israel untuk bermain di Olimpiade Paris. Badan sepak bola dunia tersebut sebelumnya dijadwalkan untuk mengambil keputusan pada Sabtu dalam pertemuan dewan luar biasa setelah meminta penilaian hukum independen terhadap proposal Palestina dua bulan lalu.
Keputusan itu diambil hanya empat hari sebelum dimulainya turnamen sepak bola Olimpiade, di mana Israel tergabung dalam satu grup bersama Jepang, Mali, dan Paraguay. Namun, FIFA mengatakan bahwa mereka telah memundurkan jadwal tersebut karena “dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proses ini dengan hati-hati dan lengkap” – yang berarti keputusan akan diambil setelah Olimpiade selesai.
FIFA mengatakan kedua belah pihak telah mengajukan permintaan perpanjangan “untuk menyerahkan posisi masing-masing” dan penilaian independen sekarang akan dibagikan kepada FIFA paling lambat tanggal 31 Agustus. Final Olimpiade putra akan berlangsung pada 9 Agustus.
Asosiasi Sepak Bola Palestina telah mengajukan proposal untuk menangguhkan Israel pada bulan Mei, dan FIFA memerintahkan evaluasi hukum yang mendesak, serta berjanji untuk membahasnya pada pertemuan luar biasa dewannya pada bulan Juli, menurut laporan Reuters. Presiden PFA Jibril Al-Rajoub mengatakan bahwa FIFA tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap “pelanggaran atau genosida yang sedang berlangsung di Palestina.” Konfederasi Sepak Bola Asia juga memberikan dukungannya terhadap tindakan melawan Israel.
Usulan Palestina tersebut menuduh Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) terlibat dalam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan pemerintah Israel dan diskriminasi terhadap pemain Arab. IFA menolak tuduhan tersebut.
Al-Rajoub mengutip preseden di Kongres FIFA dan analisisnya mengatakan skorsing Israel akan sejalan dengan keputusan FIFA di masa lalu yang menangguhkan atau mengeluarkan asosiasi anggota yang melanggar tujuannya. Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan, misalnya, ditangguhkan pada tahun 1961 karena kebijakan apartheid negara tersebut, sementara Yugoslavia dilarang pada tahun 1992 menyusul sanksi PBB di tengah agresi pemerintah yang didominasi Serbia di Balkan. Baru-baru ini, pada tahun 2022, baik FIFA dan UEFA bertindak cepat dengan menangguhkan tim-tim Rusia dari kompetisi mereka menyusul invasi negara tersebut ke Ukraina.
Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali PFA mengajukan mosi untuk menangguhkan Israel, FIFA tidak menjatuhkan sanksi, dan menyatakan pada tahun 2017 bahwa masalah tersebut telah ditutup dan tidak akan dibahas lebih lanjut sampai kerangka hukum atau de facto berubah.
Saat ini, sejumlah pihak berpendapat bahwa perkembangan sejak Oktober lalu telah memunculkan “kerangka hukum baru yang memerlukan intervensi FIFA”. Sejumlah pihak menegaskan, Israel dinilai layak mendapat sanksi larangan bertanding oleh FIFA.
Sedangkan Palestine Chronicle melansir, Shadi Abu al-Araj, penjaga gawang Klub Sepak Bola Shabab Khan Yunis, jadi syuhada terkini dari kalangan pesepakbola Palestina. Ia syahid pada Sabtu dalam serangan yang dilakukan oleh tentara Israel di pengungsian Al-Mawasi, di Khan Younis, Gaza selatan, pekan lalu.
Ali Dahlan, juru bicara klub, mengatakan bahwa Klub Pemuda Khan Yunis telah kehilangan seorang pemain terkemuka, Merujuk pada pembunuhan Abu al-Araj.
Dahlan menambahkan bahwa Abu al-Araj bukanlah atlet klub pertama yang dibunuh Israel. Korban sebelumnya termasuk Kapten Taha Kalab, mantan direktur teknis dan direktur sektor pemuda; dan Mohammed Barakat, kapten klub dan pemain senior.
Juru bicara tersebut mengutuk “kejahatan pembunuhan atlet Palestina,” penghancuran markas klub oleh serangan udara Israel, pembakaran fasilitas dan gedung olahraga, dan pembuldoseran lapangan mereka.
Ia juga mengkritik FIFA yang tetap bungkam atas kejahatan Israel tersebut. Menurut Asosiasi Sepak Bola Palestina, Israel telah membunuh hampir 100 pesepakbola Palestina sejak 7 Oktober.
Dua di antara pemain tersebut tergabung dalam Tim Nasional Palestina, termasuk Mohamed Barakat, yang dikenal sebagai “legenda Khan Younis”. Barakat adalah orang Palestina pertama yang mencetak lebih dari 100 gol secara profesional. Ratusan atlet muda lainnya juga syahid, kebanyakan anak-anak.
Setidaknya 90 warga Palestina syahid dan 289 lainnya terluka pada hari Sabtu ketika pasukan pendudukan Israel menargetkan tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, sebuah wilayah yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah ‘aman’.
Aljazirah melaporkan bahwa tentara Israel melakukan serangan kekerasan dengan lima rudal di kamp pengungsian di sebelah barat Khan Yunis, yang mengakibatkan puluhan kematian dan cedera.
Para aktivis sebelumnya menyerukan boikot terhadap Olimpiade mendatang di Paris atas partisipasi Israel dalam Olimpiade tersebut. Hal ini menyusul pembunuhan sejumlah tokoh olahraga terkemuka, termasuk anak-anak, di Gaza.
Perkiraan dari para aktivis di Gaza bahwa sekitar 350 pemain olahraga dan atlet telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya perang di wilayah tersebut pada tanggal 7 Oktober. Angka tersebut mencakup setidaknya 250 pesepakbola.
Standar Ganda FIFA, Timnas Israel Dibolehkan Tampil di Olimpiade
Israel telah membunuh sekitar 100 pesepakbola Palestina dalam genosida kali ini. [755] url asal
#sanksi-fifa-israel #fifa-tak-sanksi-israel #genosida-di-gaza #sepak-bola-israel #gugatan-sepak-bola-palestina #genosida-di-lapangan-hijau
(Republika - News) 19/07/24 07:22
v/11274465/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) telah menunda keputusan atas proposal Palestina untuk menangguhkan Israel dari sepak bola internasional terkait genosida di Jalur Gaza yang menewaskan banyak pemain sepak bola. Langkah ini kontras dengan sikap FIFA pada 2022 yang lekas melarang Timnas Rusia bertanding selepas serangan ke Ukraina.
Dilansir Times of Israel, keputusan FIFA membuka jalan bagi tim nasional putra Israel untuk bermain di Olimpiade Paris. Badan sepak bola dunia tersebut sebelumnya dijadwalkan untuk mengambil keputusan pada Sabtu dalam pertemuan dewan luar biasa setelah meminta penilaian hukum independen terhadap proposal Palestina dua bulan lalu.
Keputusan itu diambil hanya empat hari sebelum dimulainya turnamen sepak bola Olimpiade, di mana Israel tergabung dalam satu grup bersama Jepang, Mali, dan Paraguay. Namun, FIFA mengatakan bahwa mereka telah memundurkan jadwal tersebut karena “dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proses ini dengan hati-hati dan lengkap” – yang berarti keputusan akan diambil setelah Olimpiade selesai.
FIFA mengatakan kedua belah pihak telah mengajukan permintaan perpanjangan “untuk menyerahkan posisi masing-masing” dan penilaian independen sekarang akan dibagikan kepada FIFA paling lambat tanggal 31 Agustus. Final Olimpiade putra akan berlangsung pada 9 Agustus.
Asosiasi Sepak Bola Palestina telah mengajukan proposal untuk menangguhkan Israel pada bulan Mei, dan FIFA memerintahkan evaluasi hukum yang mendesak, serta berjanji untuk membahasnya pada pertemuan luar biasa dewannya pada bulan Juli, menurut laporan Reuters. Presiden PFA Jibril Al-Rajoub mengatakan bahwa FIFA tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap “pelanggaran atau genosida yang sedang berlangsung di Palestina.” Konfederasi Sepak Bola Asia juga memberikan dukungannya terhadap tindakan melawan Israel.
Usulan Palestina tersebut menuduh Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) terlibat dalam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan pemerintah Israel dan diskriminasi terhadap pemain Arab. IFA menolak tuduhan tersebut.
Al-Rajoub mengutip preseden di Kongres FIFA dan analisisnya mengatakan skorsing Israel akan sejalan dengan keputusan FIFA di masa lalu yang menangguhkan atau mengeluarkan asosiasi anggota yang melanggar tujuannya. Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan, misalnya, ditangguhkan pada tahun 1961 karena kebijakan apartheid negara tersebut, sementara Yugoslavia dilarang pada tahun 1992 menyusul sanksi PBB di tengah agresi pemerintah yang didominasi Serbia di Balkan. Baru-baru ini, pada tahun 2022, baik FIFA dan UEFA bertindak cepat dengan menangguhkan tim-tim Rusia dari kompetisi mereka menyusul invasi negara tersebut ke Ukraina.
Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali PFA mengajukan mosi untuk menangguhkan Israel, FIFA tidak menjatuhkan sanksi, dan menyatakan pada tahun 2017 bahwa masalah tersebut telah ditutup dan tidak akan dibahas lebih lanjut sampai kerangka hukum atau de facto berubah.
Saat ini, sejumlah pihak berpendapat bahwa perkembangan sejak Oktober lalu telah memunculkan “kerangka hukum baru yang memerlukan intervensi FIFA”. Sejumlah pihak menegaskan, Israel dinilai layak mendapat sanksi larangan bertanding oleh FIFA.
Sedangkan Palestine Chronicle melansir, Shadi Abu al-Araj, penjaga gawang Klub Sepak Bola Shabab Khan Yunis, jadi syuhada terkini dari kalangan pesepakbola Palestina. Ia syahid pada Sabtu dalam serangan yang dilakukan oleh tentara Israel di pengungsian Al-Mawasi, di Khan Younis, Gaza selatan, pekan lalu.
Ali Dahlan, juru bicara klub, mengatakan bahwa Klub Pemuda Khan Yunis telah kehilangan seorang pemain terkemuka, Merujuk pada pembunuhan Abu al-Araj.
Dahlan menambahkan bahwa Abu al-Araj bukanlah atlet klub pertama yang dibunuh Israel. Korban sebelumnya termasuk Kapten Taha Kalab, mantan direktur teknis dan direktur sektor pemuda; dan Mohammed Barakat, kapten klub dan pemain senior.
Juru bicara tersebut mengutuk “kejahatan pembunuhan atlet Palestina,” penghancuran markas klub oleh serangan udara Israel, pembakaran fasilitas dan gedung olahraga, dan pembuldoseran lapangan mereka.
Ia juga mengkritik FIFA yang tetap bungkam atas kejahatan Israel tersebut. Menurut Asosiasi Sepak Bola Palestina, Israel telah membunuh hampir 100 pesepakbola Palestina sejak 7 Oktober.
Dua di antara pemain tersebut tergabung dalam Tim Nasional Palestina, termasuk Mohamed Barakat, yang dikenal sebagai “legenda Khan Younis”. Barakat adalah orang Palestina pertama yang mencetak lebih dari 100 gol secara profesional. Ratusan atlet muda lainnya juga syahid, kebanyakan anak-anak.
Setidaknya 90 warga Palestina syahid dan 289 lainnya terluka pada hari Sabtu ketika pasukan pendudukan Israel menargetkan tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, sebuah wilayah yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah ‘aman’.
Aljazirah melaporkan bahwa tentara Israel melakukan serangan kekerasan dengan lima rudal di kamp pengungsian di sebelah barat Khan Yunis, yang mengakibatkan puluhan kematian dan cedera.
Para aktivis sebelumnya menyerukan boikot terhadap Olimpiade mendatang di Paris atas partisipasi Israel dalam Olimpiade tersebut. Hal ini menyusul pembunuhan sejumlah tokoh olahraga terkemuka, termasuk anak-anak, di Gaza.
Perkiraan dari para aktivis di Gaza bahwa sekitar 350 pemain olahraga dan atlet telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya perang di wilayah tersebut pada tanggal 7 Oktober. Angka tersebut mencakup setidaknya 250 pesepakbola.