#30 tag 24jam
Masalah Gizi Buruk di Asmat seperti Lingkaran Setan yang Sulit Diputus
Jika ada ibu hamil di Asmat, mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi harian. Sehingga ketika melahirkan, gizi anak mereka menjadi berkurang. Halaman all [827] url asal
#asmat #stunting-di-asmat #anak-anak-asmat #kekurangan-gizi-di-asmat #kasus-stunting-di-asmat
(Kompas.com) 05/08/24 16:13
v/13389339/
PAPUA, KOMPAS.com - Masalah gizi buruk telah berlangsung lama di Kabupaten Asmat, Papua.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Asmat, dokter Steven Langi mengatakan bahwa kondisi gizi buruk diibaratkan lingkaran setan yang terus berputar, memengaruhi kehidupan ribuan anak dan keluarga di daerah yang dikelilingi sungai itu.
Penyebabnya sangat kompleks dan berlapis. Mulai dari daerah Asmat yang sulit dijangkau karena kondisi geografisnya yang berat untuk dilalui alat transportasi.
Karena kondisi georafis itu, Asmat menjadi sulit diakses dan membuat distribusi makanan bergizi, seperti sayur, buah, dan protein hewani, menjadi sangat mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar warga.
Bisa dibayangkan, jika ada ibu hamil di Asmat, mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi harian. Sehingga ketika melahirkan, gizi anak mereka menjadi berkurang.
Kedua, kurangnya edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang membuat banyak orangtua tidak mengetahui cara memberikan asupan yang tepat bagi anak-anak mereka. Hal ini diperparah oleh keterbatasan informasi yang diperoleh.
Banyak keluarga yang belum memahami pentingnya memberikan asupan gizi yang cukup bagi anak-anak mereka.
Akibatnya, pola makan yang tidak sehat dan kurangnya variasi makanan menjadi hal yang umum di kalangan masyarakat Asmat.
Ketiga, faktor kemiskinan yang tinggi di Asmat turut memperburuk situasi.
Banyak keluarga yang tidak mampu membeli makanan bergizi dan hanya bergantung pada pangan yang ada, yang disebut kurang memberikan nutrisi yang cukup.
“Seperti lingkaran setan yang kita bilang. Tadi yang secara umum misalnya dia bisa tidak makan atau kurang makan, itu ada. Penyakit penyerta, kemudian ibu ada riwayat kesehatan gizi buruk,” ujar Steven kepada Kompas.com, Sabtu (3/8/2024).
Kemudian, sanitasi yang buruk dan akses terbatas ke layanan kesehatan menyebabkan tingginya angka penyakit infeksi yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada anak.
Sementara itu, uskup dari Keuskupan Agats Kabupaten Asmat Mgr Aloysius Murwito mengatakan, krisis gizi buruk di Asmat mencapai puncaknya pada 2018.
Banyak anak-anak menderita stunting dan kekurangan nutrisi, bahkan hingga ada yang meninggal.
“Tahun 2018, Asmat secara luar biasa mengalami gizi buruk. Banyak anak-anak yang meninggal. Itu (stunting) melonjak dengan terasa sekali, mengenai data-data banyak anak yang kurang nutrisi, kurang vitamin, sakit keras bahkan meninggal," ujar Aloysius.
"Waktu itu, awal mula terbongkarnya kasus ini, saya pergi merayakan Natal di kampung Asartat, ditemukan pada satu bulan itu sekitar 13 anak meninggal. Belum lagi melihat anak-anak yang kurus, perut buncit. Kemudian mama-mama, akibat banyak melahirkan, susu-susu (air susu ibu) tidak produksi lagi, tidak produktif,” imbuhnya.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah gizi buruk ini.
Pihak gereja dan lembaga swasta memberikan bantuan berupa makanan tambahan berupa kacang hijau dan susu, meski tidak rutin setiap hari karena keterbatasan persediaan.
Pemerintah setempat juga berusaha menyediakan makanan tambahan, tetapi masih belum mencukupi kebutuhan seluruh anak di Asmat.
“Secara keseluruhan kami melihat bahwa kebutuhan makanan yang bergizi masih amat diperlukan bagi anak, sedangkan makanan-makanan tambahan yang sekarang ini hanya seadanya," kata Aloysius.
Karena kekurangan bahan pangan untuk dikonsumsi, anak-anak di Asmat jadi sering absen bersekolah.
"Karena makan tidak mencukupi, tidak bisa masuk sekolah. Mereka lapar, akibatnya sering tidak masuk, sering absen,” ujarnya.
Saat ini, mulai tumbuh beberapa titik kesadaran di masyarakat untuk meningkatkan pola makan mereka. Namun, upaya ini masih jauh dari harapan.
Menurut Aloysius, saat ini diperlukan program-program pemberdayaan berkelanjutan untuk mengajarkan masyarakat Asmat bagaimana memanfaatkan pekarangan mereka untuk menanam sayur-mayur, meski kondisi alam di sana sangat bergantung pada pasang surut sungai.
“Perlu ada karya-karya pemberdayaan. Memberdayakan usaha-usaha pemberdayaan ditingkatan pangan bagi keluarga-keluarga,” tutur Aloysius.
Maksy Azrul selaku fasilitator wilayah Kabupaten Asmat dari Wahana Visi Indonesia mengatakan, kondisi ini menyebabkan banyak anak sering tidak sarapan ke sekolah karena tidak adanya makanan yang bisa dikonsumsi di pagi hari.
Akibatnya, anak-anak di Asmat pergi ke sekolah dalam kondisi lemas karena kurangnya asupan gizi yang memadai.
“Kita bisa lihat anak makan atau tidak itu saat anaknya bermain. Kalau hanya duduk, lemas, tidak tahu mau aktivitas apa, kadang kita tanya, ‘Kau kenapa? Kenapa kau tidak mau ikut bermain dengan teman-teman?’. Jawabannya, ‘Lapar’. 'Kenapa lapar? Tidak makan di rumah?' Jawabannya, ‘Iya, tidak makan di rumah’,” ungkap Maksy.
Gizi buruk di Asmat merupakan masalah kompleks yang tidak dapat diatasi dengan satu solusi tunggal.
Diperlukan kerja sama antara pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat setempat untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan berkelanjutan.
Dengan demikian, diharapkan masyarakat Asmat dapat mencapai pola makan yang lebih sehat dan mengurangi angka stunting di kalangan anak-anak.
Menaklukkan Stunting di Asmat Papua, Upaya dan Harapan di Tengah Tantangan...
Di wilayah ini, stunting atau kondisi kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan anak menjadi masalah serius. Halaman all [749] url asal
#stunting-di-asmat #kasus-stunting
(Kompas.com) 31/07/24 21:44
v/12783179/
PAPUA, KOMPAS.com - Di sudut timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Asmat, Papua, kisah tentang perjuangan melawan stunting mengalir seperti sungai-sungai yang membentang di wilayah ini.
Kabupaten Asmat yang terkenal kaya akan budaya ukir dan alam yang memukau ternyata menghadapi tantangan besar terkait masalah kesehatan, salah satunya stunting.
Di wilayah ini, stunting atau kondisi kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan anak menjadi masalah serius.
Angka stunting
Menurut data orientasi penguatan pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), angka stunting di Kabupaten Asmat tahun 2024 mencapai 26,4 persen.
Perinciannya, dari 4.085 jumlah balita yang diukur, sebanyak 1.080 di antaranya mengalami stunting.
Adapun jumlah tersebut didapatkan dari penghitungan di 19 puskesmas yang ada di Kabupaten Asmat, dengan rincian sebagai berikut:
- Puskesmas Kamur: dari 417 jumlah balita diukur, 98 mengalami stunting.
- Puskesmas Primapun: dari 267 balita diukur, 108 mengalami stunting.
- Puskesmas Basim: 317 balita, 126 stunting.
- Puskesmas Atsy: 534 balita, 173 stunting.
- Puskesmas Binam: 299 balita, 86 stunting.
- Puskesmas Kolfbrasa 0 stunting.
- Puskesmas Ayam: 144 balita, 38 stunting.
- Puskesmas Agats: 1.050 balita, 169 stunting.
- Puskesmas Sawaerma: 223 balita, 17 stunting.
- Puskesmas Tomor: 194 balita, 52 stunting.
- Puskesmas Unir Sirau: 187 balita, 91 stunting.
- Puskesmas Nakai: 179 balita, 43 stunting.
- Puskesmas Comoro: 0 stunting.
- Puskesmas Yausakor: 0 stunting.
- Puskesmas Mumugu: 69 balita, 30 stunting.
- Puskesmas Bayun: 205 balita, 49 stunting.
- Puskesmas Kolfbrasa dan Puskesmas Kolfbrasa 01: 0 stunting.
Masalah kompleks
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, Darman, mengatakan, penyebab tingginya stunting di Asmat kompleks dan berlapis.
Mulai dari terbatasnya akses ke makanan bergizi, fasilitas kesehatan yang minim, hingga pengetahuan yang kurang tentang pentingnya gizi dalam pertumbuhan anak.
Infrastruktur yang kurang memadai juga menjadi tantangan besar untuk mendistribusikan pangan sehat ke daerah ini.
Banyak wilayah di Asmat yang hanya bisa dijangkau melalui jalur air dengan perahu yang memakan waktu dan biaya tinggi.
“Setengah dari anak-anak kami tidak bisa kami jangkau. Sementara untuk menjangkau tempat-tempat mereka itu biayanya sangat luar biasa besarnya,” ucap Darman kepada Kompas.com, Rabu (31/7/2024).
Belum lagi, kondisi lahan yang berlumpur dan air pasang membuat masyarakat Asmat sulit untuk menanam sayur-sayuran atau makanan bergizi lainnya.
Sebenarnya bisa saja, tetapi memerlukan keterampilan dan pengenalan jenis tanaman.
Selain itu, masih ada pula masyarakat Asmat yang hidup nomaden dengan sistem berpindah ladang garapan.
Lantas, bahan makanan mereka bergantung pada kondisi alam yang seringkali kurang kandungan gizi dan kurang higienis untuk dikonsumsi.
“Bahan pangan ketersediaannya kurang,” tutur Darman.
Makanan bergizi
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi stunting di Asmat adalah dengan memberikan makanan bergizi ke setiap ibu hamil di pos pemberian makan.
Program ini bertujuan untuk memastikan asupan gizi yang cukup bagi ibu hamil sehingga dapat mencegah stunting pada bayi yang akan lahir.
Namun, Darman mengungkapkan adanya tantangan dalam pelaksanaan program ini. Katanya, anyak ibu hamil yang membawa pulang makanan yang diberikan untuk dikonsumsi bersama keluarga.
Hal ini karena para ibu merasa tidak tega jika hanya mereka yang makan, sementara keluarga di rumah tidak mendapat makanan.
“Padahal, ibu hamil harus mengonsumsi banyak makanan yang bergizi, sampai kami bilang ‘Sudah makan di sini, kami tungguin’, mungkin dipikiran mereka ‘saya makan, tapi keluarga di rumah tidak makan’” tutur Darman.
Anggaran Rp 15 miliar
Dinkes Kabupaten Asmat pun menggelontorkan dana kurang lebih Rp 15 miliar dalam setahun untuk mengatasi persoalan stunting.
Untuk program makan bergizi anak-anak, satu porsi makanan dianggarkan Rp 48.000.
“Jumlah tersebut diberikan untuk konsumsi anak-anak harus makanan seimbang itu masuk, menunya bisa ikan, ayam, telur, karbohidrat, sayur, labu siam, buncis, susu sapi,” tutur Darman.
Sementara, untuk ibu hamil, dianggarkan sebesar Rp 60.000 per orang dengan jumlah porsi makanan yang lebih besar.
“Porsinya harus besar, sayur-sayuran, daging, ikan, multivitamin sudah masuk dari program juga diberikan,” tuturnya.
Darman menambahkan, perlu kerja sama lintas sektor untuk menurunkan angka stunting di Asmat.
Menurutnya, hal itu sudah dilakukan. Tetapi angka stunting di wilayah ini masih cukup tinggi.
“Saya yakin kalau dinas-dinas yang lain membantu pun, belum bisa mengatasi stunting,” ungkap Darman.