#30 tag 24jam
Perlunya Finansial Matang untuk Masa Pensiun
Masa pensiun harus diikuti dengan finansial yang matang - Halaman all [939] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #masa-pensiun #sun-life #asia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 07/10/24 21:23
v/16125335/
JAKARTA, Investor.id -Masa pensiun harus diikuti dengan finansial yang matang. Banyak pensiunan tidak menduga biaya hidup pasca pensiun akan lebih tinggi dan menyesal tidak mempersiapkannya Sedini Mungkin. Chief Client Officer Sun Life Indonesia Kah Jing Lee menerangkan, perubahan sosial dan peningkatan usia harapan hidup telah memengaruhi proses perencanaan masa pensiun di Asia.
Studi terbaru Sun Life Asia yang berjudul Pensiun dalam Perspektif Masa Kini: Mempersiapkan Diri untuk Mewujudkan Hari Tua yang Tenang dan Sejahtera mengungkap tantangan dan peluang dalam perencanaan pensiun di Asia, menunjukkan bahwa 67% responden baru akan mulai merencanakan dana pensiun dalam jangka waktu lima tahun atau kurang sebelum pensiun, sementara 19% lainnya sama sekali tidak memiliki rencana pensiun.
Survei ini melibatkan 509 responden di Indonesia dan lebih dari 3.500 responden di berbagai negara Asia, termasuk Tiongkok, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Tujuan survei ini adalah untuk memahami aspirasi dan praktik perencanaan pensiun di kalangan masyarakat Asia. Dia mengatakan, dalam survei menunjukkan bahwa meskipun kesadaran akan pentingnya kemapanan finansial di masa pensiun semakin meningkat, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan aksi nyata masyarakat. "Padahal, perencanaan pensiun yang dipersiapkan sedini mungkin adalah kunci untuk meraih hari tua yang sejahtera," ucap Kah Jing Lee dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (7/10/2024).
Hal ini menjadi catatan penting bagi generasi mendatang, di mana 25% pensiunan mengaku tidak mempersiapkan anggaran pengeluaran untuk masa pensiun mereka, dan 11% tidak menduga bahwa biaya hidup akan jauh lebih tinggi dari perkiraan. "Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan inflasi yang semakin menekan," ujar dia.
Meski mayoritas responden mengalokasikan setidaknya 10% dari pendapatan mereka untuk pensiun, sayangnya 27% responden tidak mengalokasikan dana khusus untuk pensiun, dan rata-rata responden hanya mengandalkan tabungan konvensional sebesar 23% untuk memenuhi kebutuhan finansial di hari tua. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan literasi keuangan masyarakat terkait pentingnya perencanaan pensiun yang komprehensif, termasuk diversifikasi aset ke dalam instrumen investasi yang lebih produktif.
Bagi mereka yang tidak menduga dan belum mempersiapkan diri, faktor utamanya adalah biaya hidup sehari-hari (80%) dan biaya kesehatan (53%). Akibatnya, banyak dari mereka harus mengurangi pengeluaran (67%) dan mengurangi aset yang disiapkan untuk warisan (47%). Sekitar 13% pensiunan menyatakan penyesalan atas keputusan keuangan yang mereka buat di masa muda, dengan alasan utama tidak berinvestasi dengan bijak (72%), diikuti oleh kurangnya tabungan (39%) dan tidak berkonsultasi dengan perencana keuangan (39%).
Menariknya, generasi muda semakin sadar akan tantangan finansial di masa mendatang dan mulai menyesuaikan ekspektasi mereka. Pekerja saat ini memperkirakan akan pensiun pada usia rata-rata 65 tahun, lima tahun lebih lambat dibandingkan dengan usia rata-rata pensiunan saat ini, yang berhenti bekerja pada usia 60 tahun. Selain itu, 21% dari mereka yang belum pensiun secara aktif menunda rencana pensiun, sedangkan, saat ini hanya 13% pensiunan yang melakukan hal serupa. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan kondisi ekonomi pada masyarakat Asia.
Alasan utama penundaan pensiun juga beragam, di antaranya adalah masih menikmati pekerjaan (64%), keinginan untuk tetap aktif secara fisik dan mental di usia tua (63%), serta kebutuhan untuk menabung lebih banyak untuk pensiun (63%). 37% penduduk yang berencana pensiun di usia lebih tua juga menyebutkan kenaikan biaya hidup adalah alasan utama mereka, dibandingkan dengan 28% pensiunan saat ini yang menunda pensiun karena alasan yang sama.
Survei mengungkapkan perbedaan mencolok antara dua kelompok: mereka yang merencanakan masa pensiun dengan matang sedini mungkin yang disebut Gold Star Planners, dan mereka yang tidak memiliki rencana pensiun sama sekali yang disebut Retirement Rebels. Kelompok pertama merencanakan pensiun mereka lebih dari lima tahun sebelum pensiun tiba, menabung lebih dari 10% dari pendapatan mereka untuk pensiun, dan melengkapi perlindungan dengan produk asuransi hari tua.
Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki perencanaan pensiun sama sekali, perbedaan yang signifikan terlihat. Di Asia, mereka yang merencanakan pensiun dengan matang cenderung tetap berada dalam batas pengeluaran yang diharapkan (73% vs. 31%) dan lebih jarang menyesali keputusan keuangan setelah pensiun (14% vs. 40%). Kelompok yang mempersiapkan masa pensiun dengan matang juga lebih sering berkonsultasi dengan konsultan perencanaan pensiun, termasuk lembaga keuangan dan perencana keuangan independen, serta lebih percaya diri mengenai kesehatan dan kesejahteraan finansial mereka di masa tua.
Bagi seluruh responden, aspirasi utama pensiun adalah menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman (49%), diikuti oleh keinginan untuk lepas dari rutinitas pekerjaan dan bersantai (16%), serta memberikan kembali kepada masyarakat (15%). Kekhawatiran terbesar terkait masa tua adalah masalah kesehatan dan penurunan fisik (60%), faktor-faktor yang dapat membahayakan pencapaian impian tersebut.
Kah Jing Lee menjelaskan, menjamin kesejahteraan populasi lanjut usia yang terus bertambah menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Meskipun kesehatan adalah pilar terpenting, hal ini juga erat kaitannya dengan kemapanan finansial, pekerjaan yang produktif, serta hubungan keluarga dan sosial yang harmonis. Saat ini, Sun Life masih memiliki kesempatan untuk mendefinisikan kembali bagaimana masa pensiun yang tenang dan sejahtera. "Dengan kata lain, perlu dilakukan edukasi proaktif agar generasi muda saat ini siap menghadapi masa pensiun dengan percaya diri melalui perencanaan keuangan yang matang,” ucap dia.
Sun Life Indonesia menyediakan solusi finansial untuk mempersiapkan masa pensiun lebih dini melalui produk Sun Protekti Tepat untuk mendukung gaya hidup hemat atau frugal living, memberikan perlindungan jiwa yang komprehensif sekaligus mendorong menyisihkan dana untuk perencanaan masa depan dan pengelolaan uang yang bijak.
Sun Proteksi Tepat menawarkan beragam keunggulan produk, mulai dari proteksi yang terjangkau, pembayaran singkat selama 5 tahun dengan perlindungan maksimal hingga 20 tahun, serta fleksibilitas dalam menentukan pilihan perlindungan yang dapat disesuaikan dengan tujuan masa depan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Sun Proteksi Tepat, hubungi Tenaga Pemasar Sun Life untuk berkonsultasi perencanaan keuangan atau kunjungi situs web resmi Sun Life Indonesia di www.sunlife.co.id.
Editor: Leonard (severianocruel@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Sun Life Indonesia Gandeng Bank Muamalat untuk Hadirkan Asuransi Khusus untuk Calon Jemaah Haji
Asuransi Salam Hijrah Sejahtera menjadi jawaban atas risiko kesehatan yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia dan panjangnya masa tunggu haji. [322] url asal
(WE Finance) 10/09/24 18:30
v/14949411/
Warta Ekonomi, Jakarta -PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) bersama PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk (Bank Muamalat) telah meluncurkan produk Asuransi Salam Hijrah Sejahtera, sebuah solusi asuransi yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nasabah Bank Muamalat dalam perencanaan dan perlindungan jangka panjang. Produk ini sangat cocok untuk mereka yang terdaftar dalam program Haji Reguler, memberikan fleksibilitas serta pengembalian kontribusi di akhir masa perlindungan.
Kehadiran Asuransi Salam Hijrah Sejahtera menjadi jawaban atas risiko kesehatan yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia dan panjangnya masa tunggu haji. Tantangan kesehatan seperti iklim ekstrem, aktivitas fisik berat, dan keramaian jutaan jemaah sering kali menjadi masalah utama bagi calon jemaah haji. Data dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi menunjukkan bahwa sekitar 25% jemaah haji mengalami masalah kesehatan terkait panas, terutama di kalangan lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan lemah.
Produk ini menawarkan perlindungan hingga 25 tahun dengan keunggulan pengembalian kontribusi hingga 150% jika tidak ada klaim selama masa perlindungan. Nasabah dapat menikmati fleksibilitas pembayaran, dengan pilihan jangka waktu 5 atau 10 tahun, tanpa memerlukan medical check-up.
"Asuransi Salam Hijrah Sejahtera dirancang untuk memberikan ketenangan hati bagi nasabah Bank Muamalat dalam mempersiapkan perjalanan ibadah hajinya," ujar Danning Wikanti, Chief Distribution Officer & Sharia Director Sun Life Indonesia.
Produk ini memberikan perlindungan jiwa selama masa asuransi dan masa tunggu keberangkatan haji, serta potensi pengembalian kontribusi di akhir masa asuransi yang dapat digunakan untuk melunasi biaya ibadah haji.
Manfaat asuransi ini mencakup santunan 100% dari nilai asuransi plus nilai tunai jika nasabah meninggal dunia selama masa perlindungan, dan meningkat menjadi 200% jika meninggal di bulan suci atau saat menjalankan ibadah haji. Selain itu, ahli waris juga akan menerima santunan tambahan sebesar Rp10.000.000. Di akhir masa kontrak, jika tidak ada klaim, nasabah akan menerima manfaat hibah.
SEVP Retail Banking Bank Muamalat, Dedy Suryadi Dharmawan, menyambut positif kemitraan ini, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan nasabah akan solusi perlindungan, tetapi juga membantu mereka merencanakan perjalanan haji dengan tenang dan aman.