JAKARTA, KOMPAS.com - Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) lebih diminati oleh investor asing dibanding Surat Berharga Negara (SBN).
Hal ini tercermin dari aliran modal asing masuk ke instrumen SRBI yang lebih deras, dibanding ke SBN.
Dalam laporan bertajuk Indonesia Economic Prospect edisi Juni 2024, Bank Dunia menyebutkan, salah satu pemicu SRBI lebih diminati dari instrumen surat utang pemerintah ialah tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Hal ini memicu investor besar mengalihkan dananya dari SBN ke SRBI.
SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi saham.Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, tingkat imbal hasil atau yield SBN dibentuk oleh mekanisme pasar.
Sebagai instrumen yang dapat diperdagangkan, yield SBN dapat berubah setelah dilelang pemerintah.
"Namun demikian, tentu pemerintah berkepentingan bahwa yield SBN itu rasional, sehingga di situ kan misalnya pemerintah tentu dalam penerbitan SBN memiliki strategi penerbitan," tutur dia, ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (9/7/2024).
Suminto menjelaskan, di tengah tren tingkat suku bunga acuan global yang tinggi, pemerintah berupaya untuk mengkontrol tingkat yield SBN agar dapat tetap kompetitif. Namun pada saat bersamaan, yield SBN dijaga agar tidak mengganggu keberlanjutan anggaran negara.
"Jadi kita tentu akan terus menjaga stabilitas pasar SBN dan juga tentu pada level yield yang terkendali," katanya.
Meskipun SRBI lebih dilirik oleh investor, Suminto bilang, SBN sebenarnya masih menarik. Hal ini tercermin dari tingkat penawaran lelang SBN yang masih tinggi, dan yield tetap terjaga.
"Ini kan menggambarkan kinerja pasar SBN kita cukup baik," ucap Suminto.
Sebagai informasi, tingginya minat investor asing terhadap SRBI terlihat dari nilai aliran modal asing masuk secara tahun kalender yang mencapai Rp 139,79 triliun hingga 4 Juli 2024 lalu. Sementara itu, pada periode yang sama, terjadi aliran modal asing keluar sebesar Rp 32,58 triliun dari pasar SBN.