JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi tawuran yang dulu identik dengan perseteruan antar-pelajar, kini berkembang menjadi lebih luas.
Menurut Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly, pola tawuran tidak lagi terbatas pada latar belakang sekolah, melainkan sudah melibatkan geng atau kelompok tertentu.
"Meluas, bukan berubah," kata Nicolas dalam wawancara khusus dengan Kompas.com, dikutip pada Selasa (6/8/2024).
"Kalau dulu kan antara sekolah A dan sekolah B. Sekarang sudah tidak ada batasan itu lagi," ujar dia.
Nicolas menambahkan bahwa pelaku tawuran saat ini tergabung dalam geng atau kelompok yang anggotanya bisa berasal dari berbagai wilayah di Jabodetabek.
Tawuran juga kini banyak dilakukan warga dari berbagai latar belakang.
"Ada yang warga RW ini dengan RW itu, dalam warga itu ada punya geng lagi mereka," jelasnya.
Nicolas menyebut fenomena ini sebagai tawuran yang meluas, bukan sekadar berubah.
Untuk mengantisipasi tawuran, polisi melakukan langkah-langkah preventif, baik melalui penyuluhan dan pendekatan kepada masyarakat, serta patroli yang lebih intensif.
"Preventif itu memberikan kesadaran dengan sambang ke warga. Itu preventif," ucap Nicolas.
"Jadi sebelum terjadi, sebelum upaya pencegahan, kita bangun kesadaran warga, masyarakat. Caranya dengan penyuluhan, sambangi, pendekatan kepada masyarakat," jelas dia.