JAKARTA, KOMPAS.com - Tumbler atau botol minum lucu sedang naik daun belakangan ini, meski beberapa di antaranya dibanderol dengan harga yang mahal.
Setiap brand seakan berlomba-lomba mengeluarkan tumbler dengan bentuk, motif, dan warna yang unik.
Menurut salah satu kolektor tumbler asal Kota Depok, Vania (23), fenomena tumbler ini kemungkinan bakal berlangsung lama.
"Mungkin akan berlangsung lama, tapi di beberapa orang saja," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (6/10/2024).
Dia mengatakan, bagaimana pun perlu pembiasaan pada masyarakat secara lebih luas, untuk menggunakan tumbler, sebagai ganti botol kemasan plastik sekali pakai.
Sebab, masih ada yang menganggap bahwa penggunaan botol kemasan plastik sekali pakai lebih praktis.
"Pas air habis bisa langsung dibuang, tanpa repot dibawa ke mana-mana. Belum lagi tak ada risiko hilang," jelas Vania.
Namun, di balik perilaku itu, sampah plastik bakal semakin menggunung. Apalagi, jika tidak didaur ulang menjadi barang lain yang bernilai dan bermanfaat.
Moudy (27), warga Cibinong, yang juga telah mengoleksi 15 tumbler sejak tahun lalu dengan harga ratusan ribu, setuju dengan pernyataan Vania soal fenomena tumbler yang akan berlangsung lama.
"Karena semakin banyak yang aware sama sampah kemasan plastik sekali pakai," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (6/10/2024).
Menurut Vania, perlu ada lebih banyak pemain dalam industri tumbler untuk menyediakan versi harga lebih murah, tetapi kualitas dan keunikan motif atau warnanya tidak kalah saing.
Sementara menurut Moudy, perlu semakin banyak tempat yang menjual air minum tanpa wadah.
"Kayaknya enak kalau ada yang jual air minum, tapi dengan sistem isi langsung ke tumbler," terang dia.
Cara itu bisa mendorong semakin banyak orang membiasakan diri menggunakan tumbler, alih-alih membeli air dalam botol kemasan plastik sekali pakai.