Anggota DPR Soroti Isu Restrukturisasi Utang Kimia Farma Rp 8,7 T

Anggota DPR Soroti Isu Restrukturisasi Utang Kimia Farma Rp 8,7 T

Anggota Komisi VI DPR RI Harris Turino mendengar informasi restrukturisasi utang PT Kimia Farma Tbk.

(detikFinance) 08/07/24 15:48 10089958

Jakarta -

Komisi VI DPR RI menyoroti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terkait rencana restrukturisasi utang PT Kimia Farma Tbk. Anggota Komisi VI DPR RI Harris Turino, mengaku mendengar informasi itu.

Ia menyebut jumlah kredit Kimia Farma yang bakal direstrukturisasi Rp 8,7 triliun. BNI disebut memberikan kredit terbanyak kepada Kimia Farma.

"Kaitannya dengan restrukturisasi dengan BUMN lain, saya mendengar akan ada restrukturisasi utang Kimia Farma yang besarnya Rp 8,7 triliun dan kemungkinan yang paling banyak (memberikan kredit) adalah (BNI), krediturnya adalah bapak, ya, pak? BNI ya?" kata Harris dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2024).

Harris mewanti-wanti Direktur Utama BNI Royke Tumilaar soal kabar tersebut. Menurutnya, jangan sampai restrukturisasi utang Kimia Farma menjadi pengalihan kerugian dari satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke perusahaan pelat merah lain.

"Nah, sikapnya BNI seperti apa? Apakah ini pengalihan kerugian dari satu BUMN ke BUMN lain? Apalagi kalau nanti kayak konsep restrukturisasinya Garuda diperpanjang 22 tahun dengan tingkat bunga 0,1%, ini kan kerugiannya cuma dialihkan kepada pocket bapak yang masih tebal, kira-kira sikapnya seperti apa?" bebernya.

Ditemui usai rapat, Royke tidak menampik pernyataan yang dilontarkan Harris. Meskipun demikian, Royke membantah jika disebut pihaknya menjadi pemberi kredit terbesar ke Kimia Farma, menurutnya ada BUMN lain yang juga terlibat.

"Ya, nggak semua BNI. Semua BUMN ada lah. Sama lah, kita sudah antisipasi Kimia Farma. Kita harus restrukturisasi, kita lihat, Kimia Farma bisnisnya kan juga masih ada yang jalan, bagus kan. Jadi restrukturisasi pasti akan jalan dengan Kimia Farma," sambungnya.

Kimia Farma Rugi

Sebelumnya berdasarkan catatan detikcom, PT Kimia Farma Tbk mencatatkan kerugian Rp 1,82 triliun pada 2023. Direksi perusahaan pelat merah bidang farmasi ini pun membeberkan penyebabnya.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Lina Sari mengatakan kerugian 2023 disebabkan masalah operasional perusahaan. Dia juga bicara efisiensi menjadi 5 pabrik dari total 10 pabrik.

"Kalau kita bicara operasional terkait efisiensi pabrik tadi, di mana memang kapasitas terlalu besar sementara utilisasi rendah," kata Lina dalam acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jakarta, Selasa (25/6/2024).

Kemudian, komposisi pada 2023 didominasi produk bermargin rendah. Untuk itu, pihaknya akan meningkatkan persediaan produk-produk yang bermargin tinggi.

Penyebab lainnya, lanjut Lina, adanya dugaan pelanggaran integritas penyediaan data laporan keuangan perusahaan tersebut pada periode 2021-2022. Terkait hal tersebut, dia bilang belum dapat menjelaskan lebih detail karena masih dalam progress.

Meskipun demikian, Lina menyebut salah satu upaya perbaikan perusahaan adalah melakukan reorientasi bisnis dan restrukturisasi keuangan dalam rangka menjaga kinerja perseroan tumbuh positif dan berkelanjutan.

Rencana transformasi perseroan tersebut dilakukan untuk penguatan operasional dan peningkatan profitabilitas dilakukan bersama-sama dengan Project Management Office (PMO) Restrukturisasi Keuangan dan Reorientasi Bisnis yang dibentuk Kementerian BUMN.

(ara/ara)

#bni #kimia-farma #restrukturisasi-kredit

https://finance.detik.com/moneter/d-7428600/anggota-dpr-soroti-isu-restrukturisasi-utang-kimia-farma-rp-8-7-t