Jamaah Islamiyah Bubar, Terorisme Dinilai Tak Akan Hilang Selama Rantai Amarah Tidak Diputus

Jamaah Islamiyah Bubar, Terorisme Dinilai Tak Akan Hilang Selama Rantai Amarah Tidak Diputus

Pengamat terorisme dari ISESS Khairul Fahmi sebut terorisme atau ekstremisme kekerasan tak akan hilang selama akar masalah dan rantainya tidak diputus Halaman all

(Kompas.com) 08/07/24 17:49 10094797

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, terorisme atau ekstremisme kekerasan tidak akan hilang meskipun salah satu organisasi kelompok teroris Al-Jamaah Al-Islamiyah atau yang dikenal dengan sebutan Jamaah Islamiyah (JI) telah bubar.

Menurut Fahmi, ekstremisme kekerasan tidak akan hilang selama akar masalahnya tidak benar-benar dituntaskan oleh pemerintah, yakni kekecewaan atau keputusasaan akibat deprivasi relatif atau adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan

Dia mengatakan, terorisme dan ektremisme kekerasan adalah bentuk kejahatan berlandaskan kebencian (hate crimes) atau balas dendam yang tumbuh karena kekecewaan atau keputusasaan karena adanya kesenjangan tadi.

"Selama akar masalah ini tidak benar-benar hilang, maka potensi teror atau kekerasan ekstrem juga tidak akan hilang. Apalagi tidak ada jaminan bahwa ideologi ini akan kehilangan penganut dan pernyataan kesetiaan oleh elite akan sepenuhnya dipatuhi,” kata Fahmi melalui pesan tertulis kepada Kompas.com, Senin (8/7/2024).

Selain itu, dia menyebut bahwa ideologi bisa dilarang atau diberantas, tapi tidak ada jaminan bahwa ideologi bisa benar-benar dihilangkan dan tidak lagi memiliki penganut.

Dalam konteks JI, Fahmi juga mengungkapkan bahwa organisasi tersebut sudah lama tidak memiliki kepemimpinan yang benar-benar kuat dan efektif.

"JI ini juga berkembang dalam sel-sel klandestine (rahasia atau diam-diam) yang jumlahnya banyak dan selain memiliki anggota, mereka juga memiliki pendukung dan simpatisan yang tidak terhubung sepenuhnya dan belum tentu benar-benar tunduk pada komando elitnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Fahmi meragukan bahwa terorisme atau ekstremisme kekerasan bakal hilang sepenuhnya di Indonesia dengan bubarnya JI. Meskipun, dia mengapresiasi keputusan para pemimpin JI yang memilih kembali mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Deradikalisasi bukan konsep tepat

Lebih lanjut, Fahmi berpandangan bahwa deradikalisasi dan moderasi bukanlah konsep yang benar-benar tepat dalam mengatasi masalah ekstremisme kekerasan.

Pasalnya, dia kembali menjelaskan bahwa ekstremisme kekerasan berbeda dengan radikalisme yang memiliki makna lebih kepada pemahanan yang mendalam. Paham atau ideologi teror bersumber pada kedangkalan dari kesesatan berpikir.

“Bukanlah sesuatu yang bersifat radikal tapi kedangkalan yang merupakan produk dari kegagalan atau kesesatan berfikir yang diakibatkan oleh kesenjangan antara harapan dan kenyataan tadi,” kata Fahmi.

“Kekerasan dan teror yang berbasis agama adalah salah satu bentuknya selain yang berbasis separatisme. Hasil yang umum dari pendangkalan dari sesuatu yang sudah dangkal adalah pragmatisme dan oportunisme,” ujarnya melanjutkan.

Oleh karena itu, menurut dia, deradikalisasi bukan cara untuk mengatasi pemahaman yang dangkal. Sebab, akar masalah sebenarnya berada pada kebencian atas kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

"Ini hanya akan tampak sukses dalam jangka pendek, namun berpotensi memelihara bahaya secara jangka panjang. Menurut saya, deradikalisasi tidak bisa diklaim telah berhasil. Program itu menghentikan ancaman eksisting, tapi tidak menghilangkan potensi ancamannya yang patah tumbuh hilang berganti dan mati satu tumbuh seribu,” katanya.

Terbukti, Fahmi mengatakan, figur-figur baru masih akan terus bermunculan. Meskipun, ada banyak tokoh jaringan ekstremisme kekerasan yang sudah menyatakan kesetiaan pada negara.

"Benar juga bahwa jaringan-jaringan itu tampak melemah dan minim aksi. Tapi itu lebih merupakan wujud keberhasilan penindakan,” ujarnya.

Putus rantai amarah

Lantas langkah apa yang bisa dan tepat dilakukan pemerintah untuk menghentikan ekstremisme kekerasan tersebut terus menyebar?

Menurut Fahmi, rantai amarah memang harus segera dipotong oleh pemerintah. Caranya dengan berupaya menghilangkan kesenjangan sosial dan ketidakadilan di masyakatar.

"Kesenjangan sosial, ketidakadilan, pemiskinan dan pembodohan juga harus benar-benar bisa diakhiri bukan sekadar skema \'tongkat dam wortel\'. Jika tidak, kekerasan dan ekstremisme akan terus beranak pinak. Entah atas nama agama, separatisme atau ideologi lainnya,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga harus merealisasikan komitmen yang dijanjikan kepada para pemimpin JI tersebut. Lalu, secara berkala mengawasi dan mengevaluasi semuanya sehingga tidak kembali kepada ideologi ekstrem.

“Dibarengi langkah penindakan untuk meningkatkan efektivitas pernyataan kesetiaan itu dipatuhi oleh para anggota kelompok,” ujar Fahmi.

Kemudian, pemerintah juga disebut harus terus melakukan propaganda positif dalam jangka panjang.

Salah seorang mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) mencium bendera Merah Putih saat melakukan ikrar setia kepada NKRI dan Pancasila di Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/8/2022). ANTARA/Moch Asim.

Jamaah Islamiyah bubar

Sebagaimana dikutip dari Kompas.id, empat tokoh yang pernah menjadi pemimpin tertinggi atau amir JI menandatangani pernyataan pembubaran organisasi kelompok terorisme tersebut pada 30 Juni 2024.

Keempatnya adalah Abu Rusdan, Para Wijayanto, Zarkasih, dan Abu Dujana.

Abu Rusdan diketahui pernah menjadi amir JI pada 2003. Lalu, pada 2004-2005, JI dipimpin oleh Adum alias Sunarto. Kemudian, Zarkasih melanjutkan kepemimpinan pada kurun waktu 2005-2007.

Selanjutnya, Para Wijayanto memimpin organisasi kelompok teroris yang berdiri tahun 1993 itu mulai dari 2008 sampai 2019. Diketahui, dia berhasil dibekuk saat upaya penangkapan di daerah Bekasi, Jawa Barat, hingga Ponorogo, Jawa Timur pada 29-30 Juni 2019.

Pembubaran JI tersebut diumumkan melalui video rekaman yang memuat pernyataan atas hasil kesepakatan majelis para senior dengan para pimpinan lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang berafiliasi dengan Al Jamaah Al Islamiyah.

Terdapat enam pernyataan sikap yang disampaikan atas nama 16 orang yang diumumkan dalam rekaman video tersebut. Salah satunya poinnya menyatakan pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI.

Untuk diketahui, JI dibentuk oleh Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar pada 1993. Kelompok ini disebut berusaha mendirikan negara Islam di Asia Tenggara sehingga terornya juga terjadi di Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

#terorisme #teror #jamaah-islamiyah #jamaah-islamiyah-bubarkan-diri #jamaah-islamiyah-kembali-ke-nkri

https://nasional.kompas.com/read/2024/07/08/17492851/jamaah-islamiyah-bubar-terorisme-dinilai-tak-akan-hilang-selama-rantai