Sungai di Jakarta Butuh Pengerukan, Jangan Sampai Didiamkan
Banjir di Sukabumi, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sudah terjadi puluhan tahun. Banjir terus terulang, karena belum ada penanganan, Halaman all
(Kompas.com) 09/07/24 07:51 10162702
JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa wilayah di DKI Jakarta belum juga bisa terlepas dari ancaman banjir yang melanda imbas hujan lebat bahkan banjir kiriman.
Pada Sabtu (6/7/2024), ada 58 RT di Jakarta terendam banjir akibat hujan deras disertai angin kencang. Ketinggian air bervariatif.
Kondisi ini sudah semestinya menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta lagi untuk menanggulangi banjir.
"Pada masa (Gubernur DKI) Pak Jokowi dan Ahok itu, masalah sungai sangat menjadi perhatian. Bahkan sungai bersih tanpa sampah," ujar pengamat tata kota, Yayat Supriyatna kepada Kompas.com, Senin (8/7/2024).
Dilakukan Pengerukan
Salah satu wilayah yang terendam banjir pada Sabtu sore itu yakni di RT 4 Jalan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Banjir yang terjadi disebut sudah puluhan tahun. Banjir datang dan pergi, serta terus terulang ketika hujan lebat.
Warga sekitar menyebut penanganan banjir terakhir yakni dilakukan pada era kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok dengan cara pengerukan Kali Sekretaris.
Yayat mengatakan, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) pada kepempinan sebelumnya bagitu rajin untuk melakukan pembersihan.
"PPSU rajin dan terus melakukan pembersihan sampai sungai dan selokan. Bahkan sempat viral ada yang rela nyemplung di selokan kotor untuk ambil sampah," kata Yayat.
Selain itu, pompa yang ada di setiap titik-titik wilayah yang rawan banjir dipastikan berfungsi guna menanggulangi banjir.
"Zaman Ahok mesin pompa siap setiap saat dan normalisasi di jalankan," ucap Yayat.
Warga Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakbar berharap upaya penanganan banjir kembali dilakukan, salah satunya bisa dengan pengerukan lumpur lagi.
Masyarakat sekitar mengeluhkan Kali Sekretaris di dekat permukiman mereka sudah semakin sempit sehingga tak mampu menampung air hujan deras.
Namun, Yayat mengatakan, setiap gubernur memiliki cara yang berbeda-beda dalam penangan banjir di Jakarta.
"Di masa Pak Anies fokus di trotoar. Sungai dan selokan kurang diperhatikan, fokus di sumur resapan. Jadi Setiap gubernur ada beragam pendekatan," ucap Yayat.
"Kalau warga yang kena normalisasi ketika zaman Ahok ada rencana pembangunan 50.000 unit rusunawa. Sehingga ada sinergi antara penataan sungai dan permukiman," sambung Yayat.
Kerja sama dengan warga
Yayat mengatakan, penanganan banjir atau genangan tidak bisa diatasi secara sepihak, namun harus multi sektor agar hasilnya lebih maksimal.
"Warga itu harus punya kesadaran mitigasi bencana," ucap Yaya.
Banjir disebut masih menjadi bagian dari kehidupan Jakarta. Warga yang tidak paham tentang fenomena banjir dan penanganan akan menjadi masalah bersama.
Dengan demikian, Pemprov DKI dan warga dapat kerja sama dalam menanggulangi banjir dengan cara memahami upaya pencegahannya.
"Perlu juga dilakukan lomba Kampung Bersih Sampah dan Drainase rapi," ucap Yayat.
"Nanti yang juara dapat bantuan fasilitas publik dan infrastruktur," sambungnya.
#banjir-di-sukabumi-selatan-kebon-jeruk #banjir #kebon-jeruk