Evolusi Manusia Jelaskan Penyebab Fobia Kumpulan Lubang Kecil
Bukan sekedar keanehan manusia semata, ada alasan ilmiah dibalik fobia ini Halaman all
(Kompas.com) 09/07/24 12:00 10181871
KOMPAS.com - Kesadaran soal fobia makin luas dalam beberapa tahun terakhir yang membuat komunitas ilmiah makin tertarik untuk mempelajarinya.
Salah satu fobia itu adalah trypophobia yang merupakan ketakutan terhadap kumpulan lubang kecil.
Tapi apakah fobia tersebut muncul karena keanehan manusia semata ataukah ada akar evolusi yang jadi pemicunya?
Seperti dikutip IFL Science, Senin (8/7/2024) psikologi evolusioner menyebutkan otak kita mungkin masih menerapkan algoritma mental tertentu yang diperoleh selama sejarah evolusi.
Artinya, meski kita tidak hidup dalam lingkungan dan kondisi seperti nenek moyang dahulu kala, namun perilaku kita dapat dipicu oleh hal-hal tertentu di dunia saat ini.
Sehingga peneliti percaya bahwa manusia mewarisi respons rasa takut sebagai mekanisme untuk menjaga kita tetap aman dari tekanan di masa lalu.
Nah, apakah hal ini juga berlaku pada trypophobia?
Fobia tersebut sebagian besar tidak diketahui hingga munculnya internet pada tahun 2000an.
Pada saat orang-orang dapat berbagi konten dengan orang-orang dari seluruh dunia, segera menjadi jelas bahwa banyak juga yang menunjukkan keengganan yang aneh terhadap gambar lubang-lubang kecil. Misalnya saja sarang lebah, gelembung sup, dan bahkan lubang udara di dalam coklat.
Trypophobia mungkin tampak sebagai fobia yang tidak biasa, namun sebagian besar populasi sebenarnya mengalami beberapa gejala yang terlihat. Hal ini menunjukkan mungkin ada reaksi bawaan dan bahkan adaptif terhadap rangsangan tertentu.
Salah satu penjelasan untuk hal ini adalah apa yang disebut hipotesis “hewan berbahaya”. Hal ini menyatakan bahwa reaksi tripofobik mungkin merupakan sisa dari perilaku adaptif evolusioner yang dirancang untuk menghindari hewan berbahaya.
Pasalnya, banyak makhluk berbisa, termasuk laba-laba dan ular, memiliki pola yang menyerupai kumpulan lubang.
Trypophobia juga dapat dijelaskan dengan hipotesis “penghindaran penyakit kulit” yang menunjukkan bahwa rasa takut berevolusi dari mekanisme untuk menghindari penyakit menular.
Parasit dan penyakit tertentu membuat pola pada kulit menyerupai kumpulan lubang. Penyakit menular yang serius seperti cacar, wabah penyakit, kusta, tipus, dan rubella semuanya menghasilkan stigmata melingkar atau kumpulan pustula pada kulit.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa reaksi trypophobia sangat mirip dengan rasa jijik, yang juga merupakan respons utama dalam menghindari penyakit.
Pada saat yang sama, penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap rasa jijik terhadap penyakit lebih mungkin mengalami trypophobia, yang memperkuat gagasan bahwa keduanya terkait.
Ada kemungkinan bahwa rasa jijik telah membantu nenek moyang kita menghindari potensi sumber penyakit, yang kini meninggalkan trypophobia sebagai produk sampingannya.
Namun, tropophobia belum diakui sebagai fobia yang sah oleh semua orang. Faktanya, hal tersebut tidak termasuk dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).
Namun para peneliti dalam studi terbaru ini berpendapat sebaliknya – mereka percaya bahwa trypophobia memenuhi banyak kriteria diagnostik yang seharusnya menjadikannya sebagai fobia sejati.
Jika hal ini dapat dikenali sebagai fobia yang sah, maka hal ini akan membuka peluang untuk menyelidiki metode untuk membantu mereka yang mengalaminya.
Tim menyarankan bahwa hal-hal seperti terapi perilaku kognitif, terapi pemaparan, dan pengobatan mungkin berguna untuk mengobati trypophobia.
Studi kasus sebelumnya telah menunjukkan kemanjurannya dalam meredakan gejala tersebut, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut.
“Dalam ulasan ini, kami telah meneliti mengapa individu tertentu mengalami emosi negatif ketika dihadapkan dengan gambar kumpulan lubang. Psikolog evolusioner menganggap bahwa trypophobia, seperti banyak fobia lainnya, adalah hasil dari tekanan selektif yang dihadapi oleh nenek moyang kita yang berburu dan meramu di masa lalu”, tim yang meneliti studi ini menyimpulkan.
Studi dipublikasikan di jurnal Evolutionary Psychological Science.
#fobia #evolusi-manusia #trypophobia #penyebab-fobia-kumpulan-lubang-kecil