Industri Besi Baja RI Khawatir Serbuan Produk China ke Pasar ASEAN

Industri Besi Baja RI Khawatir Serbuan Produk China ke Pasar ASEAN

Indonesia Society of Steel Construction (ISSC) mengungkapkan adanya ancaman serbuan produk besi baja dari China.

(Kumparan.com) 10/07/24 14:49 10328706

Pelaku industri baja Tanah Air yang tergabung dalam Indonesia Society of Steel Construction (ISSC), mengungkapkan pasar ASEAN mulai khawatir dengan serbuan produk impor besi dan baja asal China.

Dewan Penasihat Indonesia Society of Steel Construction (ISSC), Purwono Widodo, mengatakan dari kebutuhan sekitar 3 miliar ton besi baja dunia dalam setahun, 50 persennya dipasok China. Sementara saat ini perekonomian China yang sedang lesu membuat penyerapan dalam negerinya juga berkurang.

"Sekarang mereka harus lempar ke luar. Mereka lemparnya beda sama kita. Kalau kita paling-paling cuma 10 juta ton, keluarnya 20 persen itu cuma 2 juta. Kalau mereka dari kapasitas 1,2 miliar dikeluarkan 20 persen saja ke mana lagi kalau bukan ke tetangganya, ASEAN," kata Purwono dalam seminar Indonesian Society of Steel Construction (ISSC), di Bidakara Jakarta, (10/7).

"Jangan heran kalau sekarang jadi isu secara global mengenai ancaman mengalirnya produk-produk dari China," sambungnya.

Sebagai negara anggota WTO, kata Purwono, Indonesia tidak bisa serta merta menutup pasar dari impor besi dan baja China. Tapi ironinya, banyak negara yang membentengi diri dari serbuan impor China. Purwono mencontohkan apa yang dilakukan Amerika.

Negara-negara ASEAN sudah berdiskusi membahas ancaman aliran produk besi baja dari China. Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih bagus, Indonesia menjadi salah satu sasaran mengalirnya produk besi baja dari China.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor besi dan baja dari China yang masuk Indonesia dari tahun 2020 hingga 2023 selalu meningkat.

Pada 2020 volumenya 1,8 juta ton atau senilai USD 1,3 miliar, tahun 2021 naik jadi 2,5 juta ton senilai USD 2,7 miliar, 2022 naik jadi 2,7 juta ton senilai USD 3,2 miliar, dan tahun 2023 naik lagi menjadi 3,7 juta ton senilai USD 3,09 miliar.

Sementara tren impor besi dan baja dari China dari tahun 2017 ke 2020 menurun, berturut-turut 2,6 juta ton (USD 1,9 miliar), 2,83 juta ton (USD 2,16 miliar), 2,89 juta ton (USD 2,10 miliar), dan 1,8 juta ton (USD 1,3 miliar).

Dengan adanya kekhawatiran negara ASEAN ini, China mengambil langkah strategis untuk ekspansi pabrik besi baja mereka, termasuk di Indonesia.

"Mereka pintar juga, kalau kita tak boleh begitu (ekspor ke negara ASEAN) kami saja investasi ke sana. Makannya mereka melakukan investasi langsung. Ya enggak apa-apa, paling tidak kalau dibangun di Indonesia tenaga kerjanya dari Indonesia, kita juga dapat pajak dan sebagainya," ujarnya.

#industri #impor #baja #china

https://m.kumparan.com/kumparanbisnis/industri-besi-baja-ri-khawatir-serbuan-produk-china-ke-pasar-asean-236LulwKgYN