Spiral Deflasi dan Merosotnya Keyakinan Konsumen Indonesia

Spiral Deflasi dan Merosotnya Keyakinan Konsumen Indonesia

Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan meningkatnya kekhawatiran stabilitas pekerjaan telah menciptakan atmosfer pesimisme. Halaman all

(Kompas.com) 11/07/24 16:01 10456990

SELAMA Mei dan Juni 2024, Indonesia mengadapi periode deflasi. Fenomena deflasi bisa jadi ancaman negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Belum lagi hasil survei Bank Indonesia menujukkan bahwa terjadi penurunan pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2024.

IKK bulan Juni tercatat di tingkat 123,3, menurun 1,9 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Jika penurunan ini berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi deflasi untuk ketiga kalinya sejak penurunan pertama di bulan Mei.

Dua pilar yang memengaruhi kondisi IKK juga mengalami penurunan. Pertama, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) bulan Juni tercatat di level 112,9, menurun 2,5 poin dibandingkan bulan Mei.

Kedua, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat di level 135, menurun 1,2 poin dibandingkan bulan Mei.

Meskipun angka ini masih terbilang kuat karena masih di atas ambang batas 100, tetapi ini sudah cukup menjadi sinyal bahwa Bank Indonesia perlu mewaspadai fenomena ini.

Fenomena ini mengindikasikan konsumen merasa kondisi ekonomi saat ini kurang menguntungkan dibandingkan bulan sebelumnya dan mereka cenderung pesimistis terhadap prospek ekonomi di masa depan.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi, mereka cenderung menahan pengeluaran, yang pada gilirannya memaksa produsen menurunkan harga dan mengurangi produksi.

Lingkaran setan ini bisa mengakibatkan perlambatan ekonomi berkepanjangan.

Pencetus turunnya keyakinan konsumen

Kemerosotan keyakinan konsumen di Indonesia saat ini dipicu serangkaian faktor yang saling berkaitan, mencerminkan kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi negara.

Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan meningkatnya kekhawatiran akan stabilitas pekerjaan telah menciptakan atmosfer pesimisme di kalangan masyarakat.

Kondisi ini diperparah fenomena deflasi yang terjadi dalam dua bulan terakhir, menambah tekanan pada persepsi konsumen terhadap prospek ekonomi jangka pendek dan menengah.

Ketidakpastian ekonomi Indonesia terlihat dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Rupiah menunjukkan tren pelemahan yang konsisten selama Januari-Juni, mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia.

Dimulai dari level Rp 15.485 per dollar AS pada awal Januari, nilai tukar terus melemah hingga mencapai Rp 16.395 per dollar AS pada akhir Juni.

Pelemahan ini menunjukkan adanya tekanan berkelanjutan terhadap mata uang Indonesia. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidakpastian ini meliputi tekanan eksternal dan internal, termasuk aliran keluar modal asing yang signifikan, terutama pada Mei.

Upaya Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan pada April, menandakan tingkat kekhawatiran otoritas moneter terhadap volatilitas nilai tukar.

Meskipun demikian, langkah ini tampaknya belum cukup efektif dalam menahan laju pelemahan rupiah.

Fluktuasi yang terus terjadi, terutama dengan kecenderungan melemah, dapat berdampak negatif pada berbagai aspek ekonomi Indonesia, termasuk daya beli masyarakat, biaya impor, dan stabilitas keuangan secara keseluruhan.

Ketidakpastian dalam dunia kerja telah menjadi salah satu faktor utama yang menggerus keyakinan konsumen di Indonesia.

Meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menurunnya ekspektasi ketersediaan lapangan kerja telah menciptakan atmosfer kekhawatiran di kalangan pekerja, terutama bagi mereka yang berada dalam kelompok pendapatan menengah ke bawah.

Masih dari hasil survei BI, terjadi penurunan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dari 134,5 pada Mei menjadi 131,7 pada Juni.

Terlihat bahwa angka ini mencerminkan melemahnya optimisme masyarakat terhadap prospek pekerjaan.

Kondisi ini diperburuk dengan lonjakan jumlah PHK yang signifikan, yaitu mencapai 27.222 orang dalam lima bulan pertama tahun ini, meningkat 48,5 persen periode yang sama tahun lalu.

Dampak negatif ini terlihat jelas pada kelompok pengeluaran menengah ke bawah, dengan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja anjlok hingga 12,7 poin untuk kelompok pengeluaran Rp 1 juta - Rp 2 juta per bulan.

Bahkan kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta - Rp 4 juta mengalami penurunan hingga 10,9 poin, mencapai level terendah dalam tiga tahun terakhir.

Situasi ini menciptakan lingkaran setan di mana ketidakpastian ekonomi dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi, yang pada gilirannya dapat memperlemah aktivitas ekonomi dan semakin menekan pasar tenaga kerja.

Akibatnya, keyakinan konsumen terus menurun, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi.

Memerangi spiral deflasi

Serangkaian strategi perlu dilakukan untuk mengatasi ancaman ekonomi ke depan. Dibutuhkan strategi yang komprehensif dan terkoordinasi antarstakeholder.

Strategi ke depan perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, bank sentral, hingga sektor swasta dan masyarakat umum.

Langkah-langkah yang diambil harus fokus pada pemulihan kepercayaan konsumen, stimulasi ekonomi, dan penciptaan stabilitas jangka panjang.

Pertama, menurunkan tingkat suku bunga dapat menjadi solusi untuk mengatasi deflasi dan meningkatkan keyakinan konsumen.

Namun dalam kondisi saat ini di mana Indonesia harus mempertimbangkan kebijakan The Fed, menurunkan suku bunga bukan pilihan tepat.

Untuk Juli ini, Bank Indonesia dapat mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini atau bahkan mempertimbangkan kenaikan bertahap jika diperlukan.

Hal ini penting untuk menjaga selisih suku bunga dengan AS, mencegah arus modal keluar berlebihan, dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Maka Bank Indonesia didorong untuk fokus pada instrumen kebijakan moneter lainnya. Salah satunya adalah melonggarkan kebijakan makroprudensial, seperti menurunkan rasio loan-to-value (LTV) untuk kredit properti atau meningkatkan batas maksimum rasio kredit terhadap pendapatan (debt-to-income ratio) untuk kredit konsumsi.

Langkah ini dapat mendorong penyaluran kredit tanpa harus menurunkan suku bunga acuan.

Kedua dari sisi fiskal, pemerintah dapat meningkatkan belanja publik untuk proyek infrastruktur dan program sosial yang dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Pemberian insentif pajak atau subsidi kepada sektor industri tertentu juga dapat mendorong produksi dan investasi.

Sementara itu, penguatan program perlindungan tenaga kerja melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan dapat membantu pekerja yang terkena PHK beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja baru.

Ketiga, masyarakat juga memiliki peran penting dalam upaya pemulihan dan pencegahan spiral deflasi.

Masyarakat didorong untuk tetap rasional dalam pengelolaan keuangan pribadi. Meskipun ada kecenderungan untuk menahan pengeluaran, penting untuk tetap melakukan konsumsi yang bijak untuk mendukung perputaran ekonomi.

Penting juga bagi masyarakat untuk tetap mengikuti perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah, sehingga dapat mengambil keputusan finansial yang lebih informed.

Terakhir, menjaga optimisme dan membangun jaringan sosial yang kuat dapat membantu menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Dengan mengambil langkah-langkah proaktif ini, masyarakat tidak hanya dapat menjaga stabilitas keuangan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada upaya pemulihan ekonomi nasional secara keseluruhan.

#konsumen #deflasi

https://money.kompas.com/read/2024/07/11/160149526/spiral-deflasi-dan-merosotnya-keyakinan-konsumen-indonesia