Pelni Optimalkan Peran Kapal Perintis, Jangkau Wilayah 3TP di Kepri
Pelni melakukan optimalisasi kapal perintis untuk menjangkau wilayah 3TP di Kepulauan Riau.
(Bisnis.Com) 12/07/24 18:35 10548676
Bisnis.com, JAKARTA - Suara klakson kapal terdengar dari kejauhan. Kapal Pelni, KM Sabuk Nusantara 48 pelan tapi pasti merapat ke dermaga di Pelabuhan Bintang 99, Batam, Minggu (16/6/2024) pada pukul 14.00 WIB.
Kapal ini baru saja tiba di Batam usai perjalanan panjang dari Pulau Tambelan, yang berjarak 390 kilometer dari Batam. Sabuk Nusantara 48 hanya merapat di Batam selama satu jam, karena pada pukul 15.00 WIB harus melanjutkan perjalanan lagi ke Tanjungpinang.
Sebelum kapal berangkat, puluhan calon penumpang beranjak dari tempat duduknya untuk memasuki kapal. Salah satunya karyawan swasta bernama Effendi Hasyim (25), yang akan berangkat menuju Selat Lampa di Pulau Natuna Besar, Kepulauan Riau (Kepri).
Ia mengaku mengambil cuti agar bisa berkumpul bersama dengan keluarganya di Natuna selama masa panjang libur Idul Adha. Sabuk Nusantara 48 menjadi pilihan utama, karena melambungnya harga tiket pesawat menjelang hari raya besar keagamaan.
"Meski perjalanannya lama sampai dua hari, naik Sabuk Nusantara jadi pilihan terbaik, karena tiket pesawat sangat mahal, bisa mencapai Rp 1,7 juta sekali pergi, belum lagi jalur darat. Kalau naik kapal ini, ke Selat Lampa hanya Rp 63.000," katanya.
Walaupun berada di kapal selama dua hari, Effendi mengaku tetap menikmati perjalanan. Sebelum sampai ke Selat Lampa, kapal terlebih dulu berlabuh di Pulau Tambelan dan Pulau Midai di Kepulauan Natuna.
"Perjalanannya lebih sering di laut lepas. Tapi pas sudah sampai di pulau, pemandangannya bagus. Jadi anggap saja pulang kampung sekaligus jalan-jalan," katanya sambil tersenyum.
Natuna memang terkenal dengan keindahan alamnya. Perjalanan yang panjang pun sering menjadi momen berkesan bagi para penumpang kapal buatan Indonesia tahun 2013 ini, seperti Effendi.
Penumpang yang lain, seorang guru bernama Maryati (28) sebaliknya memanfaatkan libur panjang sekolah untuk kembali ke Batam. "Saya ngajar di Natuna. Sekarang libur maka pulang ke Batam naik kapal Sabuk Nusantara ini," jelasnya.
Bukan hanya karena tiketnya murah, tapi juga mendapatkannya sangat gampang, karena bisa lewat smartphone melalui aplikasi Pelni Mobile.
Menurut dia, cara kerja Pelni Mobile mirip dengan aplikasi pencari tiket populer, seperti Traveloka, PegiPegi dan lainnya. "Tinggal masukkan kota asal dan tujuan, maka jadwal akan keluar. Lalu setelah itu, tinggal pilih tanggal kapan mau berangkat, tiket langsung tercetak secara online. Pembayarannya juga cukup mudah, bisa lewat M-Banking atau bayar di minimarket terdekat," ujarnya.
Ia merasa bersyukur dengan keberadaan Kapal Sabuk Nusantara 48, yang memudahkan mobilitas para penduduk di wilayah perbatasan Indonesia, seperti di Anambas dan Natuna.
Sebagai provinsi kepulauan, Kepri sebagian besar terdiri dari lautan dengan luas 417.012,97 km2, dan daratan dengan luas 8.201,72 km2.
Kepri terdiri dari 12 kabupaten dan kota, yang dipisahkan oleh lautan yang sangat luas. Ibukota Kepri berada di Tanjungpinang yang berlokasi di Pulau Bintan. Sedangkan pusat ekonomi sekaligus terbesar adalah Batam.
Sementara itu Kabupaten Anambas dan Kabupaten Natuna terpisah jauh dari Batam dan Tanjungpinang, dan menjadi daerah perbatasan Indonesia.
Kepulauan Anambas yang terdiri dari 255 pulau ini berada di Laut China Selatan, dan berbatasan langsung dengan perairan internasional. Luasnya mencapai 590,14 km2. Sedangkan jumlah penduduknya sebanyak 49.090 jiwa, yang bermukim di 10 kecamatan. Kota terbesar adalah Tarempa di Pulau Siantan.
Sedangkan Kepulauan Natuna, terdiri dari 159 pulau. Berlokasi di sebelah timur laut Anambas. Natuna juga berbatas langsung dengan perairan internasional. Luasnya mencapai 1.978,49 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak 85.670 jiwa yang bermukim di 17 kecamatan. Kota terbesar adalah Ranai di Pulau Bunguran.
Mata pencaharian utama di dua daerah ini, yakni nelayan dan sektor pertanian.
Kedua kabupaten ini memiliki potensi pariwisata yang besar. Misalnya Anambas terkenal lewat Pulau Bawah, yang menyajikan pemandangan pantai berpasir putih, air laut biru, serta menjadi spot menarik untuk snorkeling. Sedangkan Natuna memiliki panorama yang tidak kalah indah, apalagi disana terdapat Taman Natuna Geopark, yang menyandang status sebagai Geopark Nasional Indonesia.
Potensi lain dari Anambas dan Natuna yakni kekayaan alamnya berupa minyak dan gas bumi, yang telah memberi banyak lapangan kerja buat masyarakat Kepri. Banyak warga dari Batam dan daerah lainnya di Kepri yang mengadu nasib di perusahaan migas yang terdapat di wilayah perbatasan tersebut, sehingga kehadiran transportasi massal seperti kapal Pelni menjadi kebutuhan utama ketika bepergian antar pulau.
Dari Batam, Kabupaten Natuna berjarak 565 km. Sedangkan Batam ke Kabupaten Anambas berjarak 282 km. Kemudian dari Anambas ke Natuna, jaraknya 305 km. Dengan jarak yang sangat jauh serta terpisah lautan, maka kehadiran kapal perintis seperti Sabuk Nusantara menjadi sangat berarti buat warga Kepri.
Kepala Dinas Perhubungan Lingkungan Hidup (Dishub-LH) Kabupaten Anambas, Abdul Kadir mengatakan wilayah Anambas yang terdiri dari 255 pulau ini memang sangat membutuhkan transportasi laut yang memadai.
"Banyak sekali orang Anambas yang bepergian ke Natuna dan sebaliknya. Ada yang untuk urusan pekerjaan, keluarga, atau berdagang," katanya Kamis (4/7/2024) melalui sambungan telepon.
Menurut Kadir, dahulu warga kepulauan tidak punya banyak pilihan terkait moda transportasi laut. Setelah kehadiran kapal perintis dari Pelni, bukan hanya membantu mobilitas antar pulau, tapi juga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Daya tarik utama kapal perintis Pelni dibandingkan pesawat, yakni harganya yang terjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Harga tiketnya bervariasi tergantung dari jarak yang ditempuh. Tiket yang paling murah Rp 42.000, dan yang paling mahal Rp 88.000.
"Dengan adanya kapal perintis ke daerah kami, banyak dimanfaatkan masyarakat untuk membawa barang dagangannya ke kota lain. Misal dari Anambas ke Natuna atau langsung ke Tanjungpinang," katanya lagi.
Menurut Kadir, barang dagangan yang biasa dibawa warga ke kota lain, berupa hasil tangkapan laut seperti ikan, serta barang-barang konsumsi seperti ikan salai, kerupuk, serta sayur-sayuran. "Dari Tanjungpinang juga sering ada pedagang yang menjual buah-buahan di tempat kami," ungkapnya.
Meski sudah terhubung lewat Sabuk Nusantara, Kadir menilai Anambas dan Natuna masih membutuhkan sarana transportasi laut yang baru.
Ia kemudian mengungkapkan penyebabnya. Pertama yakni waktu tunggu yang terlalu lama. Seperti yang diketahui, Sabuk Nusantara berlayar mengitari sebagian besar wilayah Kepri hingga dua minggu lamanya. Kemudian karena tingginya animo masyarakat, banyak yang tidak bisa tertampung karena terbatasnya kapasitas kapal, yang hanya bisa menampung sebanyak 200 penumpang.
"Orang Anambas banyak yang bepergian ke Natuna. Tapi ketika harus balik, malah harus mutar dulu ke Tanjungpinang, yang jaraknya sekitar 540-an km. Jadinya waktu bertambah tidak semestinya," ungkapnya.
Kadir menilai dengan bertambahnya sarana transportasi laut baru khusus untuk Anambas dan Natuna, maka akan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
"Warga kepulauan disini banyak yang taraf ekonomi menengah ke bawah, kalau naik pesawat terlalu mahal, maka kapal sering menjadi pilihan utama karena lebih terjangkau. Mudah-mudahan kapal baru bisa masuk lagi, sehingga kami punya banyak pilihan," imbuhnya.
Ia juga menyebut potensi pariwisata di Anambas dan Natuna sangat potensial, tapi masih belum digarap secara optimal. Sehingga dengan penambahan moda transportasi laut, tentu akan menambah daya tarik dari segi aksesibilitas untuk berkunjung menikmati keindahan alam di wilayah perbatasan tersebut.
Selain Sabuk Nusantara 48, ada juga KM Sabuk Nusantara 36 dan KM Bukit Raya. Sabuk Nusantara 36 juga berkiprah melayari perairan Anambas dan Natuna hingga Sintete di Kalimantan Barat. Rutenya jauh lebih pendek karena tidak berlayar ke wilayah Batam Karimun dan Lingga.
KM Bukit Raya merupakan kapal penumpang berkapasitas 1000 pax, yang melayani rute cukup jauh, termasuk wilayah Anambas dan Natuna hingga ke Surabaya.
Satu lagi kapal Pelni yang beroperasi di wilayah Kepri yakni KM Logistik Nusantara 4. Berbeda dari tiga kapal yang disebut sebelumnya, kapal Pelni ini merupakan kapal pengangkut barang atau kapal kargo tol laut.
Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, Junaidi Kapal tol laut KM Logistik Nusantara 4 ini berangkat dari pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat lalu singgah ke Bintan, Anambas dan Natuna, lalu kembali lagi ke Patimban dengan memakan waktu perjalanan sekitar 23 hari.
"KM Logistik Nusantara 4 ini bertugas mendistribusikan barang penting dan kebutuhan pokok ke daerah terpencil, terluar, dan perbatasan, khususnya di Kepri," katanya.
Menurut Junaidi, program tol laut mampu menekan biaya transportasi pengiriman barang-barang ke Kepri, sehingga harga barang menjadi lebih murah.
Selain itu, tol laut juga ikut berkontribusi menekan disparitas harga kebutuhan pokok di pulau-pulau terluar Kepri seperti Anambas dan Natuna, yang selama ini harganya relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan, seperti Batam dan Tanjungpinang.
"Efek tol laut membuat harga sembako jadi lebih murah. Ini juga sejalan dengan kebijakan Bapak Presiden Jokowi untuk menekan inflasi di tengah krisis global yang tengah terjadi," ucapnya.
Kehadiran KM Logistik Nusantara 4 disambut hangat oleh para pengusaha sembako hingga agen kargo, karena dapat mempermudah mendatangkan maupun mengirimkan barang kebutuhan pokok dari satu daerah ke daerah lainnya di Kepri.
Khusus di Kepulauan Natuna, para pengusaha perikanan di daerah tersebut sering memanfaatkan kapal tol laut untuk menjual hasil tangkapan nelayan lokal ke Pulau Jawa.
Komitmen Pelni Melayani Kebutuhan Masyarakat 3TP di Kepri
Dengan karakteristik sebagai wilayah kepulauan, Provinsi Kepri secara otomatis terhubung melalui jalur laut.
Keberadaan kapal perintis milik Pelni, KM Sabuk Nusantara 48 dan KM Sabuk Nusantara 36 yang dikelola Pelni menjadi sarana transportasi penting, yang mampu menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya di wilayah perbatasan Indonesia.
Kepala Cabang Kantor Pelni Batam, Teuku Muhammad Ikbal Rama mengatakan kedua kapal tersebut memiliki rute yang menjangkau keseluruhan Kepri hingga ke Sintete di Kalimantan Barat dan Belinyu di Pulau Bangka.
Kedua kapal ini milik Kementerian Perhubungan yang diserahkan ke Pelni, agar dioperasikan di wilayah terpencil, terdepan, terbelakang dan perbatasan (3TP), seperti Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna.
"Sebagai perusahaan pelayaran dan logistik maritim, Pelni berkomitmen terus melayani kebutuhan masyarakat akan transportasi laut dengan mengoptimalkan rute yang ada, tidak terkecuali untuk masyarakat di wilayah 3TP," katanya Senin (8/7/2024) di Kantor Cabang Pelni Batam, Sekupang, Batam, Kepri.
Adapun rute Kapal Sabuk Nusantara 48 terbagi atas dua rute. Rute pertama mulai dari Tanjungpinang, Karimun (Kabupaten Karimun), Moro (Kabupaten Karimun), Jagoh (Kabupaten Lingga), Pekajang (Kabupaten Lingga), Belinyu (Pulau Bangka), kembali ke Pekajang, lalu kembali ke Jagoh, dan setelah itu ke Tanjungpinang. Rute ini berlangsung selama seminggu.
Sedangkan rute kedua dilakukan setelah rute pertama usai, mulai dari Tanjunpinang, Pulau Tambelan (Kabupaten Bintan), Pulau Midai (Kabupaten Natuna), Selat Lampa (Kabupaten Natuna), Pulau Laut (Kabupaten Natuna), kembali ke Selat Lampa, Pulau Subi (Kabupaten Natuna), Pulau Serasan (Kabupaten Natuna), Sintete (Kalimantan Barat), kembali ke Tambelan, Pulau Batam (Kotamadya Batam), dan terakhir kembali ke Tanjungpinang. Rute ini pun berlangsung selama seminggu. Sehingga membutuhkan waktu dua minggu untuk kembali ke titik awal di rute pertama.
"Dimulai dari Tanjungpinang menuju Tambelan lalu memutari Kepulauan Natuna hingga ke Kalimantan Barat. Lalu setelah itu kembali ke Tanjungpinang. Rute tersebut ditempuh dalam waktu seminggu," katanya lagi.
Sedangkan rute kapal Sabuk Nusantara 36 berada di lingkup Kabupaten Kepulauan Anambas dan juga Natuna. Rute dimulai dari Tanjungpinang, Tambelan, Sintete, Pulau Serasan, Pulau Subi, Penagi (Kabupaten Natuna), Pulau Laut, Pulau Sedanau (Kabupaten Natuna), Pulau Midai (Kabupaten Natuna), Tarempa (Kabupaten Anambas), Letung (Kabupaten Anambas), dan terakhir kembali ke Tanjungpinang. Rute ini juga memakan waktu sekitar satu minggu.
Rama menjelaskan kedua kapal perintis ini sangat diandalkan masyarakat di kepulauan terpencil di perbatasan Indonesia.
"Natuna dan Anambas masuk dalam wilayah terpencil, terdepan, terbelakang dan perbatasan (3TP). Tanpa adanya dua kapal tersebut, urat nadi perekonomian di wilayah tersebut akan terganggu," ungkapnya.
Kedua kapal ini bukan hanya mengangkut penumpang, tapi juga membawa hasil bumi berupa barang konsumsi untuk masyarakat Kepri. Sebagai contoh, Kapal Sanus 48 mengangkut sekitar 25-35 ton pisang dan buah-buahan dari Sintete ke Tambelan.
Meski berada di wilayah Kabupaten Bintan, Pulau Tambelan berlokasi sangat jauh dari Pulau Bintan, jaraknya 390 kilometer. Sedangkan dari Sintete di Kalimantan Barat, jaraknya 120 kilometer.
Pulau Tambelan merupakan pulau terpencil yang hanya mengandalkan hasil dari kegiatan melaut. Untuk bahan-bahan kebutuhan pokok, penduduk pulau tersebut mengandalkan kiriman dari luar pulau.
Untuk muatan penumpang yang lebih besar, warga Kepri juga mengandalkan KM Bukit Raya, yang bisa menampung sekitar 1.000 penumpang. Adapun rute kapal ini yakni mulai dari Jakarta, Belinyu di Pulau Bangka, Kijang (Kabupaten Bintan), Letung, Tarempa, Natuna, Midai, Serasan, Pontianak, dan terakhir ke Surabaya. Waktu yang diperlukan untuk menempuh rute ini sekitar dua minggu.
Selain angkutan penumpang, Pelni punya KM Logistik Nusantara 4 yang melayani angkutan logistik. Kapal kargo tol laut ini menyediakan dua jenis kontainer, yaitu untuk muatan kering ada Dry Kontrainer dengan kapasitas muatan 20 ton/m3. Kemudian muatan beku seperti daging atau lainnya ada Reefer Kontrainer dengan kapasitas muatan 20 ton/m3.
Adapun rute trayek kapal ini bernama Trayek T-3, yang dimulai dari Tanjung Priuk (Jakarta), Patimban (Jawa Barat) Kijang (Kabupaten Bintan), Letung, Tarempa, Pulau Laut, Selat Lampa, Subi, Serasan, Midai, Kijang, kembali ke Patimban lalu terakhir kembali ke Tanjung Priuk.
Pelabuhan Patimban sendiri baru ditambahkan ke rute kapal kargo tol laut ini pada September 2022. Dari pelabuhan ini, hasil bumi dari Jawa Barat dan produk-produk daerah lainnya dapat didistribusikan ke wilayah 3TP seperti Natuna dan Anambas di Kepri.
Kapal KM Logistik Nusantara 4 berkapasitas 115 TEUs, dengan waktu tempuh kurang lebih tiga minggu.
"Tol Laut ini menjadi integrator ekonomi dan meningkatkan efisiensi pengiriman barang anta wilayah tertentu juga semakin meningkatkan pertumbuhan di banyak sektor ekonomi, ungkapnya.
Rama juga menyebut peran Kapal KM Kelud sangat besar bagi masyarakat Kepri, khususnya Batam. Kapal bertonase 14.000 GT dan berkapasitas 2.600 penumpang ini berperan besar menjaga rantai pasoka logistik di kota industri tersebut.
"Seperti yang kita ketahui, Batam mengandalkan suplai kebutuhan pokok dari luar, terutama dari Sumatera Utara. KM Kelud banyak membawa barang-barang tersebut ke Batam dari Belawan. Jumlah normalnya sekitar 15-20 kontainer, paling banyak itu 22 kontainer," ungkapnya.
Ia menjelaskan ketika KM Kelud tiba di Pelabuhan Batuampar, Batam, maka barang-barang kebutuhan pokok tersebut langsung dibongkar, untuk kemudian dikirimkan ke Pasar Tradisional Jodoh, yang merupakan pasar utama di Batam. "Banyak yang diangkut Kelud, misal bawang, cabai, tomat dan lain-lain. Kalau tidak ada Kelud, akan susah mengirimkannya," pungkasnya. (K65)