Imbal Hasil SUN Bakal Naik Gara-gara Ini

Imbal Hasil SUN Bakal Naik Gara-gara Ini

imbal hasil SUN diperkirakan naik pada pekan ini, karena risiko global yang kembali meningkat - Halaman all

(InvestorID) 15/07/24 04:00 10806927

JAKARTA, investor.id - Imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) diperkirakan nailk pada kisaran 6,8-7,2% untuk tenor 10 tahun pada pekan ini, karena risiko global yang kembali meningkat. Hal ini akan menjadi kesempatan emas oleh para investor untuk mengoleksi Surat Utang Indonesia.

"Saya memperkirakan pasar akan cenderung tertekan pekan ini, mengingat peningkatan sentimen negatif eksternal. Beberapa risiko geopolitik seperti penembakan Trump dan memanasnya tensi di Taiwan kemungkinan besar akan mempengaruhi pasar," jelas Ahmad kepada Investor Daily, Jumat (12/7/24).

Selain itu, lanjutnya, buku putih pertahanan terbaru dari Tokyo memberikan peringatan terhadap meningkatnya risiko dari China, Korea Utara, dan Rusia. "Investor asing cenderung akan menjadi lebih berhati-hati dan berspekulasi di pasar berkembang, termasuk Indonesia," tambah Ahmad.

Data terbaru tingkat inflasi dari negara maju menunjukkan kemajuan yang tipis. Pekan lalu, data inflasi AS menunjukkan perlambatan dari 3,3% pada Mei 2024 menjadi 3,0% pada Juni 2024. Namun, inflasi inti, yang menjadi fokus the Fed, hanya melambat tipis dari 3,4% menjadi 3,3%.

"Pekan ini, kita juga akan melihat rilis data tingkat inflasi Inggris yang diperkirakan tetap di 2%, dan inflasi inti Inggris hanya akan melambat sedikit dari 3,5% menjadi 3,4%," jelas Ahmad sembari menyebut zona Euro juga diperkirakan akan merilis data inflasi inti yang tetap tidak berubah di 2,9%.

Selain itu, pasar juga akan menantikan pidato Ketua the Fed, Jerome Powell, tentang arah kebijakan moneter di AS, serta rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga tetap di 4,25%.

Sentimen Asia

Sedangkan sentimen dari Asia, perhatian akan tertuju pada Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis China dan potensi reformasi besar dari kebijakan fiskal. Data pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih lambat dan kebijakan terkait Medium-Term Lending Facility dari People’s Bank of China juga akan menjadi sorotan.

Dari Jepang, rilis data inflasi Juni akan menjadi faktor penilaian arah kebijakan Bank of Japan selanjutnya. Sementara itu, dari dalam negeri, rilis data neraca perdagangan dan kebijakan suku bunga BI-Rate juga akan dinantikan, diharapkan dapat sedikit menopang pergerakan yield pekan depan.

"Secara keseluruhan, sentimen geopolitik dan rilis keputusan serta data ekonomi ini akan mewarnai kinerja pasar surat utang pekan depan. Saya memperkirakan yield akan cenderung bergerak sedikit ke atas, mengasumsikan sentimen geopolitik pekan ini akan lebih kuat daripada sentimen positif dari rilis keputusan atau data ekonomi," kata dia.

Untuk yield 10 tahun, Ahmad mempertahankan rentang prediksi sebelumnya di kisaran 6,8%-7,2%, dengan kecenderungan sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di 6,944%. "Saya memperkirakan yield akan sedikit naik dan kembali bergerak di sekitar 7% pekan depan," tutur Ahmad.

Pekan lalu, yield menurun karena investor asing mulai kembali masuk, didukung oleh fundamental permintaan domestik yang kuat. Investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp4,89 triliun pekan lalu, yang juga turut mendorong penguatan rupiah ke Rp 16.154 setelah sebelumnya berada di sekitar Rp 16.300 per dolar AS.  

Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-sun #imbal-hasil-sun #yield-sun #surat-utang-negara #risiko-geopolitik #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/366957/imbal-hasil-sun-bakal-naik-garagara-ini