Peredaran Narkoba yang Terus Berulang di Kampung Bahari, Antara Siklus dan Masalah Ekonomi

Peredaran Narkoba yang Terus Berulang di Kampung Bahari, Antara Siklus dan Masalah Ekonomi

Peredaran narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, tak pernah lenyap meski polisi sudah berkali-kali melakukan penggerebekan. Apa akar masalahnya? Halaman all

(Kompas.com) 15/07/24 09:00 10826030

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus peredaran narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, tak juga lenyap meski polisi sudah berkali-kali melakukan penggerebekan di wilayah tersebut.

Terbaru, polisi kembali menggerebek wilayah Kampung Bahari terkait peredaran narkoba pada Sabtu (13/7/2024) pagi.

Dalam penggerebekan tersebut, sebanyak 31 orang diamankan dan sejumlah barang bukti narkoba disita, di antaranya sabu dan ganja sintetis.

Hal ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Kampung Bahari masih terus hidup, seolah tak terpengaruh dengan penggerebekan yang dilakukan polisi.

Lantas, apa penyebab peredaran narkoba di Kampung Bahari yang seperti tak bertepi?

Siklus

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengungkapkan bahwa peredaran narkoba di Kampung Bahari terus berulang karena siklus.

"Saya bilang narkoba kan siklus ya, maka yang harus kita matikan sebenernya ekosistemnya. Jangan sampai berulang," kata Gidion di Polres Metro Jakarta Utara, Sabtu (13/7/2024).

Menurut Gidion, ekosistem dalam peredaran narkoba di Kampung Bahari telah dibangun dan ditata oleh para bandar.

Hal itu membuat proses pendistribusian atau proses penyalahgunaan narkoba di Kampung Bahari bisa berjalan cukup lama, sehingga wilayah tersebut menjadi icon tempat penjualan hingga penggunaan narkoba.

"Kita tidak akan pernah lelah untuk melakukan penangkapan, penindakan, kemudian memutus mata rantai peredaran narkotika (di Kampung Bahari)," tutur Gidion.

Faktor ekonomi

Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Utara Kompol Slamet Riyanto mengungkapkan, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab penumpasan peredaran narkoba di Kampung Bahari tak kunjung usai.

“Itu kan bagaimana ya, faktor ekonomi. Kalau dari keterangan yang kami tangkap, faktor ekonomi lebih cepat mendapatkan keuntungan,” kata Slamet saat dikonfirmasi pada Rabu (10/5/2023).

Hal senada dengan Slamet juga disampaikan oleh sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat.

Dari kacamata sosiologi, kata Rakhmat, kemiskinan merupakan akar masalah yang membuat sejumlah warga Kampung Bahari terjerat peredaran narkoba yang mereka jadikan sebagai mata pencarian.

"Di Kampung Bahari itu sudah mendarah daging semua orang terlibat, dan itu menjadikan narkotika sebagai satu bisnis, ladang ekonomi, dan dijadikan sumber pencarian mereka," ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/12/2022).

Hal tersebut membuat pendekatan keamanan yang kerap dilakukan pemerintah tidak membuat para pengedar berhenti meski dilakukan penggerebekan berulang kali.

Selama ini, lanjut Rakhmat, untuk menangani peredaran narkoba, polisi ikut turun tangan, menggerebek, menangkap pelaku, menjalani proses hukum, kemudian dianggap selesai oleh negara.

Padahal, permasalahan ini tidak sesederhana itu dan bukan sekadar penangkapan hingga proses hukum, melainkan harus menyentuh akar masalahnya.

"Kenapa ini berulang (peredaran narkoba di Kampung Bahari)? Kalau saya lihat menjadi siklus, lingkaran setan istilahnya. Karena akar masalahnya itu adalah masalah ekonomi," jelas Rakhmat.

Peran negara untuk memutus peredaran narkoba

Rakhmat berpandangan, negara harus terus hadir di tengah penumpasan peredaran narkoba yang sudah menjadi bisnis dan sumber kehidupan warga di Kampung Bahari.

Pendekatan non-keamanan dianggap dapat menjadi pilihan untuk memutus rantai tersebut. Pasalnya, pendekatan keamanan selalu dipandang lebih efektif dan mendominasi.

"Mungkin perlu ada pendekatan yang lebih maksimal dan out of the box untuk menyelesaikan masalah ekonomi di situ, termasuk juga masalah edukasi, sosial, kulturalnya yang menurut saya belum tergarap," kata Rakhmat.

Negara disebut perlu melibatkan mediator, baik itu institusi perguruan tinggi maupun lembaga sosial yang relatif lebih netral dan tidak berkaitan langsung dengan aparat keamanan.

Pihak-pihak inilah yang dapat memasuki wilayah Kampung Bahari, untuk terlibat membangun komunitas dengan menyasar kelompok tertentu.

Nantinya, mereka bisa dibina menggunakan program berbasis komunitas termasuk pemberdayaan ekonomi.

"Memang tidak mudah, tidak instan perlu proses yang panjang, tapi ini bukan berarti enggak mungkin. Ini sesuatu yang mungkin dilaksanakan, mungkin diaplikasikan tapi dengan semangat untuk terlibat dalam pengurangan (peredaran narkoba) di sana," kata Rakhmat.

Sebagai informasi, polisi sudah berkali-kali menggerebek Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terkait kasus narkoba.

Meski begitu, peredaran narkoba dari Kampung Bahari masih terus terjadi.

Dalam beberapa penggerebekan, polisi tidak hanya menyasar para pengedar dan bandar, tetapi juga kejahatan jalan lainnya.

Terakhir, sebanyak 26 orang di Kampung Bahari ditangkap dalam kegiatan penggerebekan yang berlangsung pada Minggu (10/3/2024).

Sejumlah barang bukti berupa narkotika hingga senjata api disita.

Khusus narkotika, polisi menyebut barang terlarang itu siap diedarkan di wilayah Jakarta.

Dalam penggerebekan sebelumnya lagi di Kampung Bahari, tepatnya 8 Mei 2023, polisi mendapatkan perlawanan. Mereka melempar kayu dan batu ke arah aparat.

Oleh karena itu, petugas yang berada di lokasi meminta tambahan personel untuk membuat situasi kondusif.

(Penulis: Baharudin Al Farisi, Zintan Prihatini | Ihsanuddin, Ambaranie Nadia Kemala Movanita)

#kampung-bahari #peredaran-narkoba-di-kampung-bahari #penggerebekan-kampung-bahari #kampung-bahari-digerebek

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/15/09000441/peredaran-narkoba-yang-terus-berulang-di-kampung-bahari-antara-siklus-dan