Peredaran narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, tak pernah lenyap meski polisi sudah berkali-kali melakukan penggerebekan. Apa akar masalahnya? Halaman all [806] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus peredaran narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, tak juga lenyap meski polisi sudah berkali-kali melakukan penggerebekan di wilayah tersebut.
Terbaru, polisi kembali menggerebek wilayah Kampung Bahari terkait peredaran narkoba pada Sabtu (13/7/2024) pagi.
Dalam penggerebekan tersebut, sebanyak 31 orang diamankan dan sejumlah barang bukti narkoba disita, di antaranya sabu dan ganja sintetis.
Hal ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Kampung Bahari masih terus hidup, seolah tak terpengaruh dengan penggerebekan yang dilakukan polisi.
Lantas, apa penyebab peredaran narkoba di Kampung Bahari yang seperti tak bertepi?
Siklus
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengungkapkan bahwa peredaran narkoba di Kampung Bahari terus berulang karena siklus.
"Saya bilang narkoba kan siklus ya, maka yang harus kita matikan sebenernya ekosistemnya. Jangan sampai berulang," kata Gidion di Polres Metro Jakarta Utara, Sabtu (13/7/2024).
Menurut Gidion, ekosistem dalam peredaran narkoba di Kampung Bahari telah dibangun dan ditata oleh para bandar.
Hal itu membuat proses pendistribusian atau proses penyalahgunaan narkoba di Kampung Bahari bisa berjalan cukup lama, sehingga wilayah tersebut menjadi icon tempat penjualan hingga penggunaan narkoba.
"Kita tidak akan pernah lelah untuk melakukan penangkapan, penindakan, kemudian memutus mata rantai peredaran narkotika (di Kampung Bahari)," tutur Gidion.
Faktor ekonomi
Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Utara Kompol Slamet Riyanto mengungkapkan, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab penumpasan peredaran narkoba di Kampung Bahari tak kunjung usai.
“Itu kan bagaimana ya, faktor ekonomi. Kalau dari keterangan yang kami tangkap, faktor ekonomi lebih cepat mendapatkan keuntungan,” kata Slamet saat dikonfirmasi pada Rabu (10/5/2023).
Hal senada dengan Slamet juga disampaikan oleh sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat.
Dari kacamata sosiologi, kata Rakhmat, kemiskinan merupakan akar masalah yang membuat sejumlah warga Kampung Bahari terjerat peredaran narkoba yang mereka jadikan sebagai mata pencarian.
"Di Kampung Bahari itu sudah mendarah daging semua orang terlibat, dan itu menjadikan narkotika sebagai satu bisnis, ladang ekonomi, dan dijadikan sumber pencarian mereka," ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/12/2022).
Hal tersebut membuat pendekatan keamanan yang kerap dilakukan pemerintah tidak membuat para pengedar berhenti meski dilakukan penggerebekan berulang kali.
Selama ini, lanjut Rakhmat, untuk menangani peredaran narkoba, polisi ikut turun tangan, menggerebek, menangkap pelaku, menjalani proses hukum, kemudian dianggap selesai oleh negara.
Padahal, permasalahan ini tidak sesederhana itu dan bukan sekadar penangkapan hingga proses hukum, melainkan harus menyentuh akar masalahnya.
"Kenapa ini berulang (peredaran narkoba di Kampung Bahari)? Kalau saya lihat menjadi siklus, lingkaran setan istilahnya. Karena akar masalahnya itu adalah masalah ekonomi," jelas Rakhmat.
Peran negara untuk memutus peredaran narkoba
Rakhmat berpandangan, negara harus terus hadir di tengah penumpasan peredaran narkoba yang sudah menjadi bisnis dan sumber kehidupan warga di Kampung Bahari.
Pendekatan non-keamanan dianggap dapat menjadi pilihan untuk memutus rantai tersebut. Pasalnya, pendekatan keamanan selalu dipandang lebih efektif dan mendominasi.
"Mungkin perlu ada pendekatan yang lebih maksimal dan out of the box untuk menyelesaikan masalah ekonomi di situ, termasuk juga masalah edukasi, sosial, kulturalnya yang menurut saya belum tergarap," kata Rakhmat.
Negara disebut perlu melibatkan mediator, baik itu institusi perguruan tinggi maupun lembaga sosial yang relatif lebih netral dan tidak berkaitan langsung dengan aparat keamanan.
Pihak-pihak inilah yang dapat memasuki wilayah Kampung Bahari, untuk terlibat membangun komunitas dengan menyasar kelompok tertentu.
Nantinya, mereka bisa dibina menggunakan program berbasis komunitas termasuk pemberdayaan ekonomi.
"Memang tidak mudah, tidak instan perlu proses yang panjang, tapi ini bukan berarti enggak mungkin. Ini sesuatu yang mungkin dilaksanakan, mungkin diaplikasikan tapi dengan semangat untuk terlibat dalam pengurangan (peredaran narkoba) di sana," kata Rakhmat.
Sebagai informasi, polisi sudah berkali-kali menggerebek Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terkait kasus narkoba.
Meski begitu, peredaran narkoba dari Kampung Bahari masih terus terjadi.
Dalam beberapa penggerebekan, polisi tidak hanya menyasar para pengedar dan bandar, tetapi juga kejahatan jalan lainnya.
Terakhir, sebanyak 26 orang di Kampung Bahari ditangkap dalam kegiatan penggerebekan yang berlangsung pada Minggu (10/3/2024).
Sejumlah barang bukti berupa narkotika hingga senjata api disita.
Khusus narkotika, polisi menyebut barang terlarang itu siap diedarkan di wilayah Jakarta.
Dalam penggerebekan sebelumnya lagi di Kampung Bahari, tepatnya 8 Mei 2023, polisi mendapatkan perlawanan. Mereka melempar kayu dan batu ke arah aparat.
Oleh karena itu, petugas yang berada di lokasi meminta tambahan personel untuk membuat situasi kondusif.
Polisi menyita sejumlah barang bukti dalam penggerebekan di Kampung Bahari, di antaranya sabu, alat isap, alat, senjata tajam, sampai drone. Halaman all [372] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengungkapkan berbagai barang bukti yang disita anggotanya dalam penggerebekan di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (13/7/2024).
Barang bukti yang disita berkaitan dengan peredaran narkoba di wilayah tersebut secara langsung dan tidak langsung.
"(Barang bukti yang disita) Paket besar sabu dengan berat bruto 103 gram, lalu 26 paket kecil sabu, 12 timbangan digital, 2 televisi, empat unit decorder, satu unit laptop," ungkap Gidion kepada wartawan di Polres Metro Jakarta Utara, Sabtu.
"Lalu 1 unit alat hitung uang, 11 alat isap atau bong, 1 senapan angin, 4 air gun berikut gas CO2, 25 senjata tajam, 1 unit drone, 1 kotak petasan, dan 3 alat isap," sambungnya.
Berkait dengan sejumlah barang elektronik yang disita, di antaranya televisi, decorder, laptop, hingga drone, itu digunakan bandar untuk memantau pergerakan polisi.
"Ini alat yang digunakan untuk memantau kalau terjadi penegakan hukum di wilayah tersebut," ujar Gidion.
Dalam penggerebekan yang dilakukan, polisi turut mengamankan 31 orang yang terdiri dari pria dan wanita.
"Dilakukan pengamanan terhadap 26 orang laki-laki dan 5 orang perempuan," kata Gidion.
Sebelumnya diberitakan, Polres Metro Jakarta Utara kembali menggerebek Kampung Bahari pada Sabtu (13/7/2024) pagi.
Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Utara AKBP Prasetyo Nugroho mengungkapkan bahwa setidaknya 200 personel terjun dalam kegiatan operasi.
“Pada pagi ini, kita akan sama-sama melaksanakan kegiatan operasi di Kampung Bahari,” kata Prasetyo dalam memberikan arahan kepada anggotanya di Polres Metro Jakarta Utara.
Berdasarkan Kompas.com, sejumlah petugas tiba di Kampung Bahari pukul 06.00 WIB.
Kedatangan polisi langsung menjadi sorotan sejumlah warga.
Bandar narkoba di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, mempunyai banyak akal demi menghindari penggerebekan polisi. Halaman all [521] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Bandar narkoba di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara sengaja memasang kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) dan drone demi memantau pergerakan polisi.
Alat perekam itu tersambung ke sebuah laptop dan monitor. Kini CCTV tersebut telah dirusak oleh pihak kepolisian saat penggerebekan di Kampung Bahari pada Sabtu (13/7/2024) pagi.
Polisi membawa 2 unit televisi, 4 unit decoder, dan 1 unit laptop.
“Ini alat yang digunakan untuk memantau kalau terjadi penegakan hukum di wilayah tersebut,” ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan di Polres Metro Jakarta Utara, Sabtu.
Dalam penggerebekan, polisi juga merusak bedeng atau “apotek” yang berada di pinggir rel Kampung Bahari.
“Apotek” yang dimaksudkan merupakan tempat para pelaku untuk mengonsumsi sekaligus bertransaksi narkoba di Kampung Bahari.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com dalam penggerebekan Polres Metro Jakarta Utara di Kampung Bahari, “apotek” ini seperti sebuah bedeng yang berdiri menggunakan triplek beratap asbes.
Di dalam bedeng berukuran panjang tiga meter dan lebar empat meter tersebut terdapat karpet yang digunakan para pelaku untuk bersantai.
KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI Sejumlah bedeng yang berlokasi di pinggir rel Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, menjadi salah satu titik sasaran penggerebekan pada Sabtu (13/7/2024).
Pada sebuah banner putih yang menjadi lapisan dalam bedeng terdapat coretan “sewa alat Rp 5.000” dan “bayar dulu boskuh!”.
Maksud dari tulisan tersebut diduga penyewaan alat bong untuk mengonsumsi narkotika.
Selain tulisan tersebut, terdapat coretan “aku tahu tapi aku diam.”
Saat polisi menggeledah bedeng, setidaknya ada beberapa bong sisa pakai. Barang bukti tersebut langsung dikumpulkan lalu dibawa ke Polres Metro Jakarta Utara.
Sementara itu, tulisan lain juga terpampang. Salah satunya adalah sebuah rekening dari sebuah bank yang diduga untuk para pelaku bertransaksi secara non-tunai
Dalam kegiatan penggerebekan, polisi mengamankan 31 orang di Kampung Bahari.
Sebagai informasi, polisi sudah berkali-kali menggerebek Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terkait kasus narkoba.
Meski begitu, peredaran narkoba dari Kampung Bahari masih terus terjadi.
Dalam beberapa penggerebekan, polisi tidak hanya menyasar para pengedar dan bandar, tetapi juga kejahatan jalan lainnya.
Terakhir, sebanyak 26 orang di Kampung Bahari ditangkap dalam kegiatan penggerebekan yang berlangsung pada Minggu (10/3/2024).
Sejumlah barang bukti berupa narkotika hingga senjata api disita. Khusus narkotika, polisi menyebut barang terlarang itu siap diedarkan di wilayah Jakarta.
Dalam penggerebekan sebelumnya lagi di Kampung Bahari, tepatnya 8 Mei 2023, polisi mendapatkan perlawanan. Mereka melempar kayu dan batu ke arah aparat.