Waspada Penipuan Berbalut Melamar Kerja di Jakarta, Kenali Modusnya!
PS diiming-imingi gaji sebesar Rp 5,1 juta per bulan untuk posisi sebagai admin bidang keuangan. Halaman all
(Kompas.com) 15/07/24 12:11 10839180
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah sulitnya orang mencari kerja di Jakarta, ada saja pihak yang tega melakukan penipuan dengan modus melamar pekerjaan.
Ibu rumah tangga berinisial PS (24) adalah salah satu korbannya. Warga Pondok Ranggon, Jakarta Timur itu kehilangan Rp 1,7 juta setelah melalui proses interview kerja.
Peristiwa berawal dari sebuah pesan yang masuk ke ponselnya, akhir Juni 2024. Pesan singkat berisi panggilan untuk mengikuti wawancara kerja dari perusahaan bernama PT MLI (inisial).
Wawancara kerja disebut digelar Rabu (3/7/2024) di sebuah kantor di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Blok 1H, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.
PS sebenarnya sempat merasa janggal dengan panggilan wawancara kerja itu. Sebab, dia memang sempat mengirim lamaran pekerjaan, tetapi bukan ke PT MLI, melainkan perusahaan jasa logistik, PT TIKI.
"Karena katanya itu (PT MLI) di bidang logistik, makanya saya kira, \'Oh mungkin itu yang saya sempat melamar kemarin, terus baru kepanggil sekarang\'. Makanya saya enggak jadi curiga," ujar PS saat menceritakan pengalamannya kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
"Akhirnya saya datang ditemani keponakan, niatnya memang memenuhi panggilan interview kerja," lanjut dia.
Kantor PT MLI berbentuk ruko. Terdapat ruko lain di sebelah kiri dan kanannya. Tapi tidak ada yang buka. Jadi, dari deretan ruko itu, hanya ruko PT MLI saja yang buka.
Dimintai Rp 17 Juta
Di dalam, PS bertemu 10 orang yang juga datang untuk wawancara kerja. Ia duga, mereka seluruhnya juga merupakan korban.
PS diwawancarai oleh seorang wanita berinisial W. PS diiming-imingi gaji sebesar Rp 5,1 juta per bulan untuk posisi sebagai admin bidang keuangan.
"Libur Sabtu-Minggu. Untuk lembur Rp 30.000 per hari dan Rp 100.000 per minggu untuk uang makan. Dapat juga BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan," tambah dia.
Akan tetapi, untuk bisa memulai kerja, PS diminta membayar uang sebesar Rp 1,7 juta secara tunai. Uang itu disebut akan digunakan untuk seragam dan biaya pelatihan awal.
Sementara, PS mengaku, hanya memiliki uang tunai sebesar Rp 100.000 di dalam dompet.
W kemudian meminta PS menyerahkan uang tunai yang ada di dompet, lalu memintanya juga untuk mengambil sisa uang di ATM. W juga mengambil KTP PS sebagai jaminan PS akan kembali membayar sisanya, yakni Rp 1,6 juta.
W meminta sekuriti PT MLI mengantar PS ke ATM Bank DKI.
Setelah mengambil uang sesuai yang dibutuhkan, PS kembali lagi ke dalam kantor untuk pelunasan pembayaran. Seiring dengan itu, PS diminta menandatangani sebuah surat bermaterai.
PS tak ingat isi surat tersebut. Ia hanya ingat materai dalam surat itu dibeli sendiri dengan harga Rp 15.000.
Tidak berhenti sampai di situ, W meminta PS pergi ke sebuah kantor di Kalideres, Jakarta Barat untuk memulai training. Di sana, PS bertemu seorang traineer pria berinisial SM.
Di kantor itu, ia juga bertemu dengan 14 orang pelamar kerja yang ia duga sebagai korban. Seluruhnya disebut telah melunasi pembayaran sebesar Rp 1,7 juta kepada W di kantor Duren Sawit.
Di sana, PS dan belasan pencari kerja lainnya diberikan penjelasan tentang teknis pekerjaan. Mereka juga diberikan informasi bahwa uang Rp 1,7 juta akan kembali apabila tidak diterima di tiga perusahaan rekanan PT MLI.
Akan tetapi, uang tersebut tak akan kembali apabila mereka diterima di salah satu perusahaan rekanan.
"Jadi nanti kita ada pilihan tempat kerja. Kalau di tempat A enggak diterima, dicarikan di tempat B atau C. Mentok di tiga pilihan. Kalau enggak keterima, dana bakal kembali," tambah dia.
Belum selesai sampai di situ, PS beserta belasan pencari kerja lain diminta untuk mengikuti sesi wawancara lanjutan di sebuah restoran seafood di daerah Jatikarya, Bekasi pada 8 Juli 2024.
PS pun pulang dan menceritakan pengalaman melamar kerjanya itu ke sang suami. Mendengar cerita PS, sang suami merasa bahwa proses itu adalah bentuk penipuan.
Setelah berpikir masak-masak, akhirnya PS memutuskan untuk tidak meneruskan sesi wawancara di restoran itu dan merelakan uang Rp 1,7 jutanya.
Kejanggalan pada sekuriti
PS sebenarnya sempat curiga ketika menjalani proses melamar kerja di PT MLI di Duren Sawit.
Pihak sekuriti meminta keponakan PS tidak masuk ke dalam kantor. Keponakan PS diminta menunggu di luar ruko, tepatnya di sebuah warung yang jaraknya kira-kira 10 meter.
Ketika PS keluar ruko untuk mengambil uang di ATM, keponakannya menghampiri dan memberitahukan kejanggalan pada gerak-gerik sekuriti.
"Sekuritinya nyuruh keponakan saya cari makan. Cari makannya juga katanya yang jauh karena ini (proses interview-nya) masih lama, dua jam katanya," ungkap PS.
Selain itu, sekuriti selalu datang saat keponakannya itu berinteraksi dengan warga sekitar dan pedagang warung. Sekuriti seolah-olah menghalau komunikasi antara keponakan dengan warga yang berada di dekat ruko.
"Jadi setiap warga di warung mau ngomong sama keponakan saya, sekuriti selalu dateng nyamperin," kata PS.
Tetapi, keponakannya itu sempat berbincang dengan warga yang beraktivitas di warung dekat ruko. Warga itu berpesan agar sebaiknya tidak melanjutkan melamar kerja di sana.
"Waktu saya mau ambil uang ke ATM, kan sempat ngomong tuh sama keponakan. Kata dia, warga sekitar bilang, \'jangan daftar di sana\'," ujar PS.
Rangkaian peristiwa ini membuat PS semakin yakin bahwa pembukaan kerja oleh PT MLI itu diduga kuat merupakan penipuan.
Keyakinan itu bertambah setelah kasus itu mencuat di media massa dan tersebar di media sosial, ternyata banyak akun yang mengaku sebagai korban.
Kesaksian warga sekitar
Salah seorang warga sekitar berinisial SJ (49) mengatakan, ruko tempat PT MLI diduga melakukan penipuan itu sudah beroperasi sejak sekitar satu tahun terakhir.
Selama rentang waktu itu, ia sering mendapati cekcok pelamar kerja dengan pihak PT MLI dan sekuritinya.
"Sepuluh kali ribut mungkin ada tuh selama setahun terakhir," ujar dia.
Tetapi, dia tidak pernah mendalami apa penyebab cekcok itu. Ia hanya mendengar sepintas pelamar kerja itu protes karena telah memberikan uang, tetapi tidak kunjung mendapat pekerjaan.
SJ mengatakan, orang-orang di ruko itu memang tertutup. Mereka membatasi diri berinteraksi dengan warga yang beraktivitas di sekitar ruko.
Pihak sekuriti juga melarang pelamar kerja untuk beristirahat sekadar beli kopi di warung dekat ruko. Para pelamar kerja itu diminta segera pulang apabila proses di dalam sudah selesai.
#interview-bodong-duren-sawit #penipuan-kerja-duren-sawit #penipuan-bermodus-pencarian-kerja-di-duren-sawit