JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus penipuan lowongan kerja oleh sebuah perusahaan bodong yang semula bermarkas di ruko kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, terungkap baru-baru ini.
Dalam sebuah video yang viral di media sosial Instagram dan Tiktok, para korban mengaku dimintai sejumlah uang saat wawancara. Jumlahnya mencapai jutaan rupiah.
Namun, usai membayarkan uang tersebut, para korban tak mendapat pekerjaan seperti yang dijanjikan.
Menjaring korban lewat WA
Menurut seorang saksi bernama Zaky (55), banyak korban tertipu lowongan pekerjaan di perusahaan tersebut setelah menerima panggilan wawancara melalui WhatsApp (WA).
Padahal, korban sebelumnya tak pernah mengirimkan lamaran kerja.
"Kebanyakan yang kena tipu ini dapat panggilan untuk wawancara dari WA," kata Zaky saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
"Biasanya kan kita ngelamar dulu baru nanti menunggu, katakan sebulan baru ada panggilan wawancara. Nah, ini enggak," lanjut dia.
Pria yang berprofesi sebagai sekuriti di ruko kawasan Duren Sawit ini mengatakan, perusahaan itu ilegal atau tidak mengantongi izin beroperasi.
"Nah yang dipermasalahkan, perusahaan itu semacam yayasan gelap. Kalau resmi kan biasanya ada izin Depnaker (Departemen Ketenagakerjaan), nomor-nomor, dan sebagainya," terangnya.
"Jadi kasihan saja, orang-orang hanya tahu dari medsos. Sudah datang jauh-jauh untuk wawancara malah kena tipu," ujar Zaky.
Senada dengan Zaky, saksi lainnya bernama Banar (40) juga mengamini bahwa perusahaan tersebut banyak menjaring korban lewat pesan WhatsApp.
"Pernah ada korban saya minta bentuk WA-nya kayak gimana. Jadi ya itu langsung panggilan wawancara kerja saja," kata Banar.
Dimintai uang saat wawancara
Berdasarkan penuturan para korban, kata Zaky, nama perusahaan tersebut kerap kali berubah-ubah.
Namun, modus penipuan hampir selalu sama. Korban dimintai sejumlah uang untuk pembayaran seragam atau penyaluran kerja ke perusahaan lain.
"Katanya sih, PT-nya itu ada bermacam-macam. Cuma sebelum wawancara korban pasti dimintai uang dengan alasan untuk membayar seragam atau pendaftaran ke PT yang lain, jadi semacam penyaluran kerja gitulah," ujar Zaky.
Zaky mengatakan, uang yang diminta pelaku ke korban jumlahnya beragam.
"Yang nominalnya paling tinggi itu yang diminta sampai Rp 1,7 juta," kata dia.
Menurut pengakuan salah seorang korban kepada Zaky, mulanya korban mentransfer uang ke pihak perusahaan senilai Rp 1,2 juta. Selanjutnya, korban diminta untuk mengirimkan uang tambahan sebesar Rp 500.000.
"Setelah transfer itu, korban kemudian disuruh ke Kalideres karena katanya ditunggu lamarannya di sana," terang Zaky.
"Sesampainya di Kalideres, dia cerita kalau enggak ketemu sama orang yang dijanjikan untuk menyerahkan lamaran itu," lanjut dia.
Sementara itu, Banar mengungkapkan, korban dimintai uang dengan jumlah yang beragam saat proses wawancara, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari Rp 1 juta.
"Sampai ada yang cuma punya duit Rp 20.000 itu tetap diminta, kan sudah kacau banget," tambah dia.
Karyawan tak interaksi
Kecurigaan warga sekitar terhadap perusahaan bodong itu semakin diperkuat dengan gerak-gerik karyawan ruko yang cenderung tertutup.
Banar mengaku, ia tidak pernah melihat karyawan di ruko tersebut berinteraksi dengan warga sekitar.
"Kayaknya karyawan-karyawannya itu pada enggak boleh bersosialisasi," kata dia.
"Jadi, misalnya ya, ada yang mau beli bakso, nanti ada office boy (OB) yang keluar. Itu makanan dibawa ke dalam. Orangnya enggak boleh keluar," lanjutnya.
Sependapat dengan Banar, Zaky juga mengakui bahwa karyawan di ruko bernomor 1H itu sangat tertutup.
"Kita masing-masing saja sih, enggak pernah mau ikut campur juga. Soalnya dari awal sudah tertutup," ungkapnya.
Bahkan, kata Zaky, setiap ada yang selesai melakukan proses wawancara di ruko tersebut, pelamar tidak diperbolehkan untuk makan, minum, atau hanya sekadar duduk-duduk di warung terdekat.
"Meja ini pernah sampai digebrak sama sekuritinya gara-gara ada pelamar yang mau duduk-duduk sambil minum. Terus diusir enggak boleh minum di sini" imbuh dia.
Kata polisi
Sampai saat ini, polisi mengaku belum menerima laporan terkait kasus penipuan lowongan kerja tersebut.
Saat dilakukan pengecekan, ruko yang diduga menjadi markas penipuan tersebut sudah kosong.
"Terkait dengan kasus yang viral itu, langkah yang dilakukan Polres Metro Jakarta Timur adalah melakukan pengecekan di TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kapolres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Nicolas Ary Lilipaly kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (15/7/2024).
"Dan didapat bahwa ruko yang dimaksud sampai saat ini kosong, tidak berisi," ujar dia.
Kendati demikian, polisi tetap akan menindaklanjuti kasus ini apabila ada laporan dari korban atau orang-orang yang merasa dirugikan.
"Tapi untuk kelanjutannya belum dapat kita tindaklanjuti, karena belum ada laporan resmi dari pihak yang merasa dirugikan sampai saat ini," ucap Nicolas.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dengan modus operandi penipuan secara online. Apalagi, sudah banyak kasus serupa yang dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Timur.
"Untuk itu, kami harap ada partisipasi seluruh warga masyarakat di wilayah Polres Metro Jakarta Timur, khususunya, untuk menyampaikan informasi dengan segera apabila ada modus-modus, ada perilaku-perilaku warga yang seperti," imbau Nicolas.
"Kalau ada yang merasa dirugikan, silakan melapor ke Polres Metro Jakarta Timur, atau polsek di mana wilayah hukumnya di tempat kejadian perkara, supaya kita dapat menangani dengan segera," imbuh dia.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para karyawan perusahaan bodong yang diduga melakukan penipuan di ruko kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, disebut tidak boleh bersosialisasi dengan warga setempat.
Seorang saksi bernama Banar (40) mengaku, ia tidak pernah melihat karyawan di ruko tersebut berinteraksi dengan warga sekitar.
"Kayaknya karyawan-karyawannya itu pada enggak boleh bersosialisasi," kata dia saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
"Jadi, misalnya ya, ada yang mau beli bakso, nanti ada office boy (OB) yang keluar. Itu makanan dibawa ke dalam. Orangnya enggak boleh keluar," lanjutnya.
Sependapat dengan Banar, saksi lain bernama Zaky (55) juga mengakui jika karyawan di ruko bernomor 1H itu sangat tertutup.
Pria yang berprofesi sebagai sekuriti di kawasan ruko tersebut mengatakan, dirinya tidak pernah mengobrol atau berinteraksi dengan karyawan ruko itu.
"Kita masing-masing saja sih, enggak pernah mau ikut campur juga. Soalnya dari awal sudah tertutup," ungkapnya.
Bahkan, kata Zaky, setiap ada yang selesai melakukan proses wawancara di ruko tersebut, pelamar tidak diperbolehkan untuk makan, minum, atau hanya sekadar duduk-duduk di warung terdekat.
"Meja ini pernah sampai digebrak sama sekuritinya gara-gara ada pelamar yang mau duduk-duduk sambil minum. Terus diusir enggak boleh minum di sini" imbuh dia.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video yang beredar di Instagram dan TikTok memperlihatkan seorang pelamar kerja mengaku diminta membayar sejumlah uang ketika mengikuti proses wawancara kerja di sebuah perusahaan di Duren Sawit.
Saksi bernama Banar mengungkapkan, korban dimintai uang dengan jumlah yang beragam saat proses wawancara, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari Rp 1 juta.
"Sampai ada yang cuma punya duit Rp 20.000 itu tetap diminta, kan sudah kacau banget," ucapnya.
Sampai saat ini, polisi mengaku belum menerima laporan terkait kasus penipuan lowongan kerja tersebut. Saat dilakukan pengecekan, ruko yang diduga menjadi markas penipuan tersebut sudah kosong.
"Terkait dengan kasus yang viral itu, langkah yang dilakukan Polres Metro Jakarta Timur adalah melakukan pengecekan di TKP," kata Kapolres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Nicolas Ary Lilipaly kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (15/7/2024).
"Dan, didapat bahwa ruko yang dimaksud sampai saat ini kosong, tidak berisi," ujar dia.
Kendati demikian, polisi tetap akan menindaklanjuti kasus ini apabila ada laporan dari korban atau orang-orang yang merasa dirugikan.
"Tapi untuk kelanjutannya belum dapat kita tindaklanjuti, karena belum ada laporan resmi dari pihak yang merasa dirugikan sampai saat ini," ucap Nicolas.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dengan modus operandi penipuan secara online. Apalagi, sudah banyak kasus serupa yang dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Timur.
"Untuk itu, kami harap ada partisipasi seluruh warga masyarakat di wilayah Polres Metro Jakarta Timur, khususunya, untuk menyampaikan informasi dengan segera apabila ada modus-modus, ada perilaku-perilaku warga yang seperti," imbau Nicolas.
Saat proses wawancara, para korban dimintai sejumlah uang yang disebut untuk pembayaran seragam atau penyaluran kerja ke perusahaan lain. Halaman all [473] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com- Penipuan lowongan kerja oleh perusahaan bodong yang semula bermarkas di sebuah ruko di Duren Sawit, Jakarta Timur, memiliki modus yang hampir selalu sama.
Saat proses wawancara, para korban dimintai sejumlah uang yang disebut untuk pembayaran seragam atau penyaluran kerja ke perusahaan lain.
"Katanya sih, PT-nya itu ada bermacam-macam. Cuma sebelum wawancara korban pasti dimintai uang dengan alasan untuk membayar seragam atau pendaftaran ke PT yang lain, jadi semacam penyaluran kerja gitulah," ungkap seorang saksi bernama Zaky (55) saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
Zaky mengatakan, uang yang diminta pelaku ke korban jumlahnya beragam.
"Yang nominalnya paling tinggi itu yang diminta sampai Rp 1,7 juta," kata dia.
Menurut pengakuan salah seorang korban kepada Zaky, mulanya korban sudah mentransfer uang ke pihak perusahaan senilai Rp 1,2 juta.
Namun, korban diminta untuk mengirimkan uang tambahan sebesar Rp 500.000 dengan alasan untuk keperluan membayar seragam.
"Setelah transfer itu, korban kemudian disuruh ke Kalideres karena katanya ditunggu lamarannya di sana," ujar Zaky.
"Sesampainya di Kalideres, dia cerita kalau enggak ketemu sama orang yang dijanjikan untuk menyerahkan lamaran itu," lanjut pria yang berprofesi sebagai sekuriti di ruko tersebut.
Saksi lainnya, Banar (40), menambahkan, setiap korban dimintai uang dengan jumlah yang beragam. Bahkan, ada yang nominalnya puluhan ribu rupiah.
"Sampai ada yang cuma punya duit Rp 20.000 itu tetap diminta, kan sudah kacau banget," ucapnya sambil terheran-heran.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video yang beredar memperlihatkan adanya dugaan penipuan wawancara kerja.
Dalam video yang tersebar di Instagram dan TikTok, seorang pelamar kerja mengaku diminta membayar sejumlah uang ketika mengikuti proses wawancara kerja di sebuah perusahaan di Duren Sawit.
Terkait ini, seorang perempuan asal Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, berinisial PS (24) mengaku kehilangan uang sebesar Rp 1,7 juta setelah mengikuti proses wawancara kerja di perusahaan yang mengatasnamakan diri sebagai PT MLI.
PS tak sendirian saat mengikuti proses wawancara. Saat itu, Rabu (3/7/2024), sekitar belasan orang hadir mengikuti wawancara kerja.
"Waktu saya sesi ketiga, itu ada 14 orang jumlahnya," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
Saat proses wawancara, PS diiming-imingi gaji Rp 5,1 juta per bulan dengan tambahan uang makan Rp 100.000 setiap minggu jika dirinya diterima.
JAKARTA, KOMPAS.com - Korban penipuan lowongan kerja oleh perusahaan bodong yang semula bermarkas di ruko Duren Sawit, Jakarta Timur, disebut dimintai sejumlah uang saat melakukan proses wawancara kerja.
Uang yang diminta para pelaku ke korban jumlahnya beragam. Paling tinggi nominalnya mencapai Rp 1,7 juta.
"Yang nominalnya paling tinggi itu yang diminta sampai Rp 1,7 juta," kata Zaky (55), sekuriti di kawasan ruko tersebut kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
Zaky mengatakan, salah seorang korban pernah bercerita bahwa ia mentransfer uang Rp 1,2 juta ke perusahaan saat proses wawancara.
Namun, korban diminta untuk mengirimkan uang tambahan sebesar Rp 500.000 dengan alasan untuk keperluan seragam.
"Setelah transfer itu, korban kemudian disuruh ke Kalideres karena katanya ditunggu lamarannya di sana," ujar Zaky.
"Sesampainya di Kalideres, dia cerita kalau enggak ketemu sama orang yang dijanjikan untuk menyerahkan lamaran itu," sambungnya.
Adapun modus penipuan lowongan kerja ini hampir selalu sama. Saat proses wawancara, korban dimintai uang untuk pembayaran seragam atau penyaluran kerja ke perusahaan lain.
"Katanya sih, PT-nya itu ada bermacam-macam. Cuma sebelum wawancara korban pasti dimintai uang dengan alasan untuk membayar seragam atau pendaftaran ke PT yang lain, jadi semacam penyaluran kerja gitulah," tambahnya.
Sementara itu, saksi lain bernama Banar (40) mengungkapkan, korban dimintai uang dengan jumlah yang beragam saat proses wawancara. Bahkan ada yang nominalnya hanya puluhan ribu.
"Sampai ada yang cuma punya duit Rp 20.000 itu tetap diminta, kan sudah kacau banget," imbuh dia.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video yang beredar memperlihatkan adanya dugaan penipuan wawancara kerja.
Dalam video yang tersebar di Instagram dan TikTok, seorang pelamar kerja mengaku diminta membayar sejumlah uang ketika mengikuti proses wawancara kerja di sebuah perusahaan di Duren Sawit.
Terkait ini, seorang perempuan asal Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, berinisial PS (24) mengaku kehilangan uang sebesar Rp 1,7 juta setelah mengikuti proses wawancara kerja di perusahaan yang mengatasnamakan diri sebagai PT MLI.
PS tak sendirian saat mengikuti proses wawancara. Saat itu, Rabu (3/7/2024), sekitar belasan orang hadir mengikuti wawancara kerja.
"Waktu saya sesi ketiga, itu ada 14 orang jumlahnya," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
Saat proses wawancara, PS diiming-imingi gaji Rp 5,1 juta per bulan dengan tambahan uang makan Rp 100.000 setiap minggu jika dirinya diterima.
Polisi menyebut ruko yang diduga menjadi tempat penipuan lowongan kerja di Duren Sawit, Jakarta Timur, sudah kosong dan tak ada aktivitas. Halaman all [470] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi menyebut ruko yang diduga menjadi tempat penipuan lowongan kerja di Duren Sawit, Jakarta Timur, sudah kosong.
"Terkait dengan kasus yang viral itu, langkah yang dilakukan Polres Metro Jakarta Timur adalah melakukan pengecekan di TKP," kata Kapolres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Nicolas Ary Lilipaly kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (15/7/2024).
"Dan, didapat bahwa ruko yang dimaksud sampai saat ini kosong, tidak berisi," ujar dia.
Saat dicek, ruko tersebut sudah ditutup dan tidak terlihat ada aktivitas sama sekali.
Polisi telah menanyai sejumlah saksi di TKP yang mengetahui proses wawancara bagi pelamar kerja.
Meski begitu, polisi tetap akan menindaklanjuti kasus ini apabila ada laporan dari korban atau orang-orang yang merasa dirugikan.
"Tapi untuk kelanjutannya belum dapat kita tindaklanjuti, karena belum ada laporan resmi dari pihak yang merasa dirugikan sampai saat ini," ucap Nicolas.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dengan modus operandi penipuan secara online.
Apalagi sudah banyak kasus serupa yang dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Timur.
"Untuk itu, kami harap ada partisipasi seluruh warga masyarakat di wilayah Polres Metro Jakarta Timur, khususunya, untuk menyampaikan informasi dengan segera apabila ada modus-modus, ada perilaku-perilaku warga yang seperti," imbau Nicolas.
"Kalau ada yang merasa dirugikan, silakan melapor ke Polres Metro Jakarta Timur, atau polsek di mana wilayah hukumnya di tempat kejadian perkara, supaya kita dapat menangani dengan segera," imbuh dia.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video yang beredar memperlihatkan adanya dugaan penipuan wawancara kerja.
Dalam video yang tersebar di Instagram dan TikTok, seorang pelamar kerja mengaku diminta membayar sejumlah uang ketika mengikuti proses wawancara kerja di sebuah perusahaan di Duren Sawit.
Seorang perempuan asal Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, berinisial PS (24) mengaku kehilangan uang sebesar Rp 1,7 juta setelah mengikuti proses wawancara kerja di perusahaan yang mengatasnamakan diri sebagai PT MLI.
PS tak sendirian saat mengikuti proses wawancara.
Saat itu, Rabu (3/7/2024), sekitar belasan orang hadir mengikuti wawancara kerja.
"Waktu saya sesi ketiga, itu ada 14 orang jumlahnya," ujar dia kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
Saat proses wawancara, PS diiming-imingi gaji Rp 5,1 juta per bulan dengan tambahan uang makan Rp 100.000 setiap minggu jika dirinya diterima.
Korban penipuan lowongan kerja di Duren Sawit, PS, ragu untuk melaporkan kasus yang dialaminya ke polisi karena takut perusahaan punya backing-an. Halaman all [332] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Korban penipuan lowongan kerja di Duren Sawit, PS (24), ragu untuk melaporkan kasus yang dialaminya ke polisi karena takut perusahaan punya backing-an.
Dia mengaku, dirinya sempat terpikir untuk melaporkan penipuan tersebut ke polisi, namun ia mengurungkan niatnya.
"Saya sempat mikir mau laporin, cuma mungkin mikir lagi, kira-kira itu kantornya ada backing-an enggak ya," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (15/7/2024).
PS adalah seorang ibu rumah tangga asal Pondok Ranggon, Jakarta Timur yang tertipu modus lamaran pekerjaan. Dia dimintai uang sebesar Rp 1,7 juta saat melakukan wawancara di ruko itu.
Seusai ditipu pada Rabu (3/7/2024), dia berniat melaporkan hal tersebut ke polisi, namun setelah melihat kolom komentar Instagram terkait kasus serupa, ia menahan diri.
"Soalnya baca lewat komentar Instagram, ada banyak kantor yang bodong, tapi tetap merajalela, enggak ketangkap polisi," kata dia.
Dia akhirnya lebih memilih merelakan uang Rp 1,7 juta miliknya hilang begitu saja.
"Saya bingung bilang ke suami gimana, takut ngomong sama suami," ujar dia.
Untuk diketahui, sebuah video viral di media sosial menjelaskan pelamar kerja yang protes kepada pihak keamanan kantor karena diminta membayar sejumlah uang untuk dapat bekerja, Jumat (12/7/2024).
Dalam video tersebut, dijelaskan para pelamar kerja diharuskan membayar sebesar Rp 1,7 juta untuk memulai kerja.
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah sulitnya orang mencari kerja di Jakarta, ada saja pihak yang tega melakukan penipuan dengan modus melamar pekerjaan.
Ibu rumah tangga berinisial PS (24) adalah salah satu korbannya. Warga Pondok Ranggon, Jakarta Timur itu kehilangan Rp 1,7 juta setelah melalui proses interview kerja.
Peristiwa berawal dari sebuah pesan yang masuk ke ponselnya, akhir Juni 2024. Pesan singkat berisi panggilan untuk mengikuti wawancara kerja dari perusahaan bernama PT MLI (inisial).
Wawancara kerja disebut digelar Rabu (3/7/2024) di sebuah kantor di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Blok 1H, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.
PS sebenarnya sempat merasa janggal dengan panggilan wawancara kerja itu. Sebab, dia memang sempat mengirim lamaran pekerjaan, tetapi bukan ke PT MLI, melainkan perusahaan jasa logistik, PT TIKI.
"Karena katanya itu (PT MLI) di bidang logistik, makanya saya kira, 'Oh mungkin itu yang saya sempat melamar kemarin, terus baru kepanggil sekarang'. Makanya saya enggak jadi curiga," ujar PS saat menceritakan pengalamannya kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
"Akhirnya saya datang ditemani keponakan, niatnya memang memenuhi panggilan interview kerja," lanjut dia.
Kantor PT MLI berbentuk ruko. Terdapat ruko lain di sebelah kiri dan kanannya. Tapi tidak ada yang buka. Jadi, dari deretan ruko itu, hanya ruko PT MLI saja yang buka.
Dimintai Rp 17 Juta
Di dalam, PS bertemu 10 orang yang juga datang untuk wawancara kerja. Ia duga, mereka seluruhnya juga merupakan korban.
PS diwawancarai oleh seorang wanita berinisial W. PS diiming-imingi gaji sebesar Rp 5,1 juta per bulan untuk posisi sebagai admin bidang keuangan.
"Libur Sabtu-Minggu. Untuk lembur Rp 30.000 per hari dan Rp 100.000 per minggu untuk uang makan. Dapat juga BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan," tambah dia.
Akan tetapi, untuk bisa memulai kerja, PS diminta membayar uang sebesar Rp 1,7 juta secara tunai. Uang itu disebut akan digunakan untuk seragam dan biaya pelatihan awal.
Sementara, PS mengaku, hanya memiliki uang tunai sebesar Rp 100.000 di dalam dompet.
W kemudian meminta PS menyerahkan uang tunai yang ada di dompet, lalu memintanya juga untuk mengambil sisa uang di ATM. W juga mengambil KTP PS sebagai jaminan PS akan kembali membayar sisanya, yakni Rp 1,6 juta.
W meminta sekuriti PT MLI mengantar PS ke ATM Bank DKI.
Setelah mengambil uang sesuai yang dibutuhkan, PS kembali lagi ke dalam kantor untuk pelunasan pembayaran. Seiring dengan itu, PS diminta menandatangani sebuah surat bermaterai.
PS tak ingat isi surat tersebut. Ia hanya ingat materai dalam surat itu dibeli sendiri dengan harga Rp 15.000.
Tidak berhenti sampai di situ, W meminta PS pergi ke sebuah kantor di Kalideres, Jakarta Barat untuk memulai training. Di sana, PS bertemu seorang traineer pria berinisial SM.
Di kantor itu, ia juga bertemu dengan 14 orang pelamar kerja yang ia duga sebagai korban. Seluruhnya disebut telah melunasi pembayaran sebesar Rp 1,7 juta kepada W di kantor Duren Sawit.
Di sana, PS dan belasan pencari kerja lainnya diberikan penjelasan tentang teknis pekerjaan. Mereka juga diberikan informasi bahwa uang Rp 1,7 juta akan kembali apabila tidak diterima di tiga perusahaan rekanan PT MLI.
Akan tetapi, uang tersebut tak akan kembali apabila mereka diterima di salah satu perusahaan rekanan.
"Jadi nanti kita ada pilihan tempat kerja. Kalau di tempat A enggak diterima, dicarikan di tempat B atau C. Mentok di tiga pilihan. Kalau enggak keterima, dana bakal kembali," tambah dia.
Belum selesai sampai di situ, PS beserta belasan pencari kerja lain diminta untuk mengikuti sesi wawancara lanjutan di sebuah restoran seafood di daerah Jatikarya, Bekasi pada 8 Juli 2024.
PS pun pulang dan menceritakan pengalaman melamar kerjanya itu ke sang suami. Mendengar cerita PS, sang suami merasa bahwa proses itu adalah bentuk penipuan.
Setelah berpikir masak-masak, akhirnya PS memutuskan untuk tidak meneruskan sesi wawancara di restoran itu dan merelakan uang Rp 1,7 jutanya.
Kejanggalan pada sekuriti
PS sebenarnya sempat curiga ketika menjalani proses melamar kerja di PT MLI di Duren Sawit.
Pihak sekuriti meminta keponakan PS tidak masuk ke dalam kantor. Keponakan PS diminta menunggu di luar ruko, tepatnya di sebuah warung yang jaraknya kira-kira 10 meter.
Ketika PS keluar ruko untuk mengambil uang di ATM, keponakannya menghampiri dan memberitahukan kejanggalan pada gerak-gerik sekuriti.
"Sekuritinya nyuruh keponakan saya cari makan. Cari makannya juga katanya yang jauh karena ini (proses interview-nya) masih lama, dua jam katanya," ungkap PS.
Selain itu, sekuriti selalu datang saat keponakannya itu berinteraksi dengan warga sekitar dan pedagang warung. Sekuriti seolah-olah menghalau komunikasi antara keponakan dengan warga yang berada di dekat ruko.
"Jadi setiap warga di warung mau ngomong sama keponakan saya, sekuriti selalu dateng nyamperin," kata PS.
Tetapi, keponakannya itu sempat berbincang dengan warga yang beraktivitas di warung dekat ruko. Warga itu berpesan agar sebaiknya tidak melanjutkan melamar kerja di sana.
"Waktu saya mau ambil uang ke ATM, kan sempat ngomong tuh sama keponakan. Kata dia, warga sekitar bilang, 'jangan daftar di sana'," ujar PS.
Rangkaian peristiwa ini membuat PS semakin yakin bahwa pembukaan kerja oleh PT MLI itu diduga kuat merupakan penipuan.
Keyakinan itu bertambah setelah kasus itu mencuat di media massa dan tersebar di media sosial, ternyata banyak akun yang mengaku sebagai korban.
Kesaksian warga sekitar
Salah seorang warga sekitar berinisial SJ (49) mengatakan, ruko tempat PT MLI diduga melakukan penipuan itu sudah beroperasi sejak sekitar satu tahun terakhir.
Selama rentang waktu itu, ia sering mendapati cekcok pelamar kerja dengan pihak PT MLI dan sekuritinya.
"Sepuluh kali ribut mungkin ada tuh selama setahun terakhir," ujar dia.
Tetapi, dia tidak pernah mendalami apa penyebab cekcok itu. Ia hanya mendengar sepintas pelamar kerja itu protes karena telah memberikan uang, tetapi tidak kunjung mendapat pekerjaan.
SJ mengatakan, orang-orang di ruko itu memang tertutup. Mereka membatasi diri berinteraksi dengan warga yang beraktivitas di sekitar ruko.
Pihak sekuriti juga melarang pelamar kerja untuk beristirahat sekadar beli kopi di warung dekat ruko. Para pelamar kerja itu diminta segera pulang apabila proses di dalam sudah selesai.