Kisah Koperasi Rimba Lestari di Gununghalu, Produksi Kopi dengan Energi Terbarukan

Kisah Koperasi Rimba Lestari di Gununghalu, Produksi Kopi dengan Energi Terbarukan

Koperasi yang berlokasi di daerah pegunungan Jawa Barat bisa memproduksi kopi dengan memanfaatkan energi terbarukan. Halaman all

(Kompas.com) 15/07/24 13:06 10871319

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa sangka, koperasi yang berlokasi di daerah pegunungan Jawa Barat bisa memproduksi kopi dengan memanfaatkan energi terbarukan, yakni menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro alias PLTMH.

Pemanfaatan PLTMH di desa Dusun Tangsi Jaya yang berlokasi di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, bukan hanya menjadi “lilin” bagi penerang desa itu, namun juga memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar dengan memproduksi kopi.

Sekretaris Koperasi Rimba Lestari Toto Sutanto bercerita, mulanya ide memanfaatkan sungai Ciputri muncul dari inisiatif kampung tetangga yang sudah memanfaatkan energi air sebagai sumber energi listriknya dengan kincir air.

SHUTTERSTOCK/SOMCHAI_STOCK Ilustrasi petani kopi, panen kopi, tanaman kopi.

Akan tetapi, kapasitas energi yang dihasilkan hanya mampu memproduksi listrik untuk 1 atau 2 lampu saja.

"Kecil-kecilan tapi ya hanya bisa buat penerangan saja," ujarnya saat ditemui Kompas.com beberapa pekan yang lalu.

Kemudian pada tahun 2004, ide para tetua di kampung tersebut pun terdengar hingga ke wilayah-wilayah lain di Jawa Barat.

Seorang peneliti dari Cihanjuang, Kota Cimahi pun tergerak untuk melakukan penelitian mengenai pembangkit listrik tenaga air di kampung itu.

Peneliti itu membantu warga membangun pembangkit listrik yang lebih besar memakai generator. Selama peneliti itu berada di kampung itu, Toto pun semakin besar rasa keinginan tahunya untuk mengembangkan PLTMH di kampung tercintanya.

"Kapasitasnya 3.000 watt atau 3 KW. Nah dari sanalah saya tertarik untuk mengembangkan PLTMH ini," imbuhnya.

Singkat cerita, PLTMH akhirnya resmi dibangun pada 2007. Pemerintah pun melirik karya kreativitas desa itu. Desa Gununghalu pun mendapatkan dana hibah dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat untuk merawat dan menjaga fasilitas itu.

Hingga saat ini ada 80 dari 100 rumah yang listriknya dipasok menggunakan PLTMH. Masing-masing rumah tangga mendapatkan jatah 450 watt dengan biaya iuran Rp 25.000 per bulan.

PIXABAY/NONAME_13 Ilustrasi biji kopi.

Pengembangan industri kopi berbasis koperasi dan raup omzet hingga ratusan juta rupiah

Dengan potensi yang ada, masyarakat desa Gununghalu tak mau hanya menikmati PLTMH sebagai penerangan saja.

Meski demikian, mereka sepakat ingin mencari peluang yang ada untuk tambahan penghasilan warganya.

Pada tahun 2009 mahasiswa pascasarjana Universitas Darma Persada yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di sana, melihat desa itu memiliki kopi sebagai komoditas yang subur tumbuh di sana.

Berangkat dari sana, pengolahan kopi dimulai dengan memasang merk kopi Tangsi Wangi dan resmi memulai produksinya dengan rutin sejak tahun 2010.

SHUTTERSTOCK/YAROSLAV ASTAKHOV Ilustrasi petani kopi, panen kopi, tanaman kopi.

Dusun Tangsi Jaya memiliki 89 petani kopi yang juga tergabung dalam koperasi. Tanaman kopi yang ditanam di lahan dengan total luas 50 hektar itu dipanen pada Maret hingga April.

Dalam satu tahun, jumlah biji kopi yang dipanen mencapai 40 ton yang kemudian diolah menjadi bubuk kopi. Selain dari lahan Dusun Tangsi Jaya, koperasi juga menerima pasokan buah kopi dari dusun sekitarnya.

Kopi yang ditanam oleh warga desa itu akan dibeli koperasi Rimba dengan harga yang kompetitif yakni mulai Rp 10.000 hingga Rp 18.000 per kilogram.

“Semua proses produksinya kami pakai energi terbarukan, mulai dari proses penggilingan hingga packaging,” ungkap Toto.

Freepik.com Ilustrasi biji kopi

Kopi Tangsi Wangi itu pun dijual ke berbagai kota dari Jakarta hingga Jawa Timur. Dalam setahun, koperasi itu berhasil meraup omzet hingga Rp 400 juta.

Harapan Toto dengan PLTMH itu masih panjang. Dia berharap ada potensi lain yang bisa digarap di sana.

Bahkan pihaknya juga berencana akan membangun PLTMH II berkapasitas lebih besar.

“Jadi kalau pembangunan nanti yang PLTMH kedua selesai, PLTMH sekarang akan dipakai semua untuk produksi kopi dan yang baru itu akan jadi kebutuhan listrik warga semuanya,” pungkasnya.

KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki usai rapat terbatas membahas sertifikasi halal di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (15/5/2024).

KemenKop UKM dukung pengembangan kopi rakyat dari hulu ke hilir

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkpakan, kopi menjadi komoditas unggulan yang menggerakkan kinerja UMKM dan koperasi, baik dari sisi hulu dan hilir.

Hal ini dibuktikan dengan 96 persen perkebunan kopi Indonesia dikuasai oleh 1,3 juta petani dan lebih dari 2.950 kedai kopi dikelola anak muda dan pelaku ekonomi kreatif.

“Kopi dan rempah adalah komoditas unggulan negara kita yang harus dikelola baik. Harus dikuasai inovasi teknologinya, punya nilai tambah dan menyejahterakan petani," ungkapnya dalam keterangan resmi, Sabtu (21/5/2024).

Dirinya pun menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan dalam pengembangan kopi rakyat dari hulu ke hilir.

SHUTTERSTOCK/Efetova Anna Ilustrasi kopi.

Hal ini dilakukan untuk menyelesaikan tiga tantangan pengembangan komoditas tersebut, yakni kelembagaan usaha masih lemah karena dikelola secara perorangan, produktivitas dan kualitas produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maupun koperasi masih rendah, serta kesulitan akses pembiayaan maupun pasar.

“Dari hulu, kami ingin melakukan penguatan kelembagaan usaha melalui korporatisasi petani kopi berbasis koperasi dan pengembangan model bisnis terintegrasi hulu-hilir dari mulai produksi, akses pembiayaan, rantai pasok, dan pemasarannya,” kata Teten.

Menteri Teten juga menyebutkan pihaknya sudah melakukan beberapa piloting terkait korporatisasi petani di sektor kopi.

Salah satunya ialah Koperasi Produsen Baitul Qiradh Baburrayyan di Aceh Tengah yang diusahakan untuk menguasai pasar ekspor dengan menjual 345,6 ton kopi Arabica Gayo ke pasar Amerika Serikat dan Eropa.

"Ini akan menjadi satu-satunya koperasi yang memiliki akses penjualan kopi langsung ke Starbucks," kata Teten.

Selain itu, terdapat pula Koperasi Klasik Beans-Sunda Hejo di Jawa Barat yang mengonsolidasikan petani perhutanan sosial dan akan memasok kopi specialty untuk kebutuhan dalam negeri dan mancanegara.

Kemudian, ada juga Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo) yang menjadi satu-satunya koperasi wanita di Asia Tenggara yang masuk ke dalam organisasi petani kopi wanita internasional berbasis di Peru, Amerika Selatan, yakni Organic Product Trading Company (OPTCO) Cafe Femenino.

#kopi #industri-kopi #energi-terbarukan #pltmh #pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro #kemenkop-ukm

https://money.kompas.com/read/2024/07/15/130626726/kisah-koperasi-rimba-lestari-di-gununghalu-produksi-kopi-dengan-energi