Kemenag: Harusnya Tidak Ada Orang Miskin di Indonesia, Kalau Kita Semua Berzakat
“Seharusnya tidak ada orang miskin di Indonesia, kalau kita semua berzakat dengan baik,” kata Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag. Halaman all
(Kompas.com) 16/07/24 17:48 10977045
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Agama (Kemenag) meyakini, pengumpulan dan penyaluran zakat bisa menjadi salah satu instrumen untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
“Saya sangat yakin bahwa filantropi Islam, Zakat ini akan menjadi instrumen yang sangat kuat untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin di Kantor Kemenag, Selasa (16/7/2024).
“Seharusnya tidak ada orang miskin di Indonesia, kalau kita semua berzakat dengan baik,” tegasnya.
Kamaruddin mengungkapkan bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 400 triliun per tahun.
Namun, zakat yang berhasil dihimpun saat ini rata-rata baru mencapai Rp 31 Triliun per tahun.
Untuk itu, Kemenag bersama para pemangku kebijakan terkait akan berupaya memaksimalkan potensi yang ada.
Dengan begitu, dana yang dapat dihimpun diharapkan bisa meningkat dan bisa lebih menjangkau para penerima manfaat.
“5 tahun ke depan pengumpulan zakat kami harapkan mencapai di atas 100 triliun setiap tahun. Ini tentu melibatkan Baznas di seluruh Indonesia, melibatkan LAZ di seluruh Indonesia, melibatkan masyarakat juga,” kata Kamaruddin.
Dengan meningkatnya jumlah dana terhimpun dan penyaluran yang tepat, Kamaruddin yakin bahwa zakat akan bisa membantu mengatasi persoalan kemiskinan di Indonesia.
“Karena kita melihat demografi Indonesia kelas mendengar kita itu menuju 114 juta. Jadi angka kelas menengah terus bertambah,” ungkap Kamaruddin.
“Sehingga kalau semuanya melaksanakan tugas atau kewajiban keagamaannya, Insyaallah seharusnya tidak ada orang miskin di Indonesia,” pungkasnya.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Waryono Abdul Ghofur menambahkan, pengelolaan zakat secara maksimal akan membuat lebih banyak lagi masyarakat yang bisa terbantu.
Sebab, dari pengelolaan zakat yang bisa diperoleh saat ini, sudah menjangkau lebih 21 juta penerima manfaat setiap tahunnya.
“Dari Rp 31 triliun per tahun yang sekarang saja, sudah lebih dari 21 juta mustahik atau penerima manfaatnya,” pungkas Waryono.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin meminta penyaluran zakat harus tepat sasaran, guna membantu meningkatkan taraf hidup orang yang tidak mampu atau tergolong miskin.
“Pastikan penyaluran zakat tepat sasaran dan tepat manfaat dengan basis data yang akurat, utamanya pada program yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan,” kata Wapres di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (16/7/2024).
Ma’ruf Amin mendorong adanya langkah-langkah strategis dalam tata kelola dan regulasi penyaluran zakat yang harus terus dilakukan.
Wapres juga meminta kebermanfaatan zakat dalam upaya pengentasan kemiskinan tidak hanya diarahkan untuk mengentaskan mustahik (penerima zakat) dari garis kemiskinan ekstrem, tetapi juga memberdayakan mustahik agar bertransformasi menjadi muzaki (pembayar zakat).
“Pendistribusian zakat perlu terus didorong untuk lebih produktif dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, melalui program pemberdayaan ekonomi umat seperti pemberian modal usaha mikro dan kecil,” kata Wapres.
#zakat #kementerian-agama #kemiskinan-di-indonesia #zakat-bisa-hapus-kemiskinan-di-indonesia