KCIC Buka Suara soal Whoosh yang Disebut Jadi Penyebab Kerugian WIKA
Selain itu, Eva juga menuturkan bahwa pembangunan Whoosh telah mempertimbangkan banyak hal. Halaman all
(Kompas.com) 17/07/24 15:00 11077281
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) buka suara terkait Whoosh yang disebut menjadi penyebab kerugian PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA.
GM Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, semua proses yang berkaitan dengan penagihan di KCIC harus melalui prosedur administrasi agar dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.
"Adapun terkait klaim sebesar Rp 5 triliun yang disampaikan pada sejumlah pemberitaan, dapat kami sampaikan bahwa dalam prosesnya semua yang berkaitan dengan penagihan di KCIC harus melalui prosedur administrasi agar semuanya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik termasuk dari sisi keuangan sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik (GCG)," ujar Eva dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (17/7/2024).
Selain itu, Eva juga menuturkan bahwa pembangunan Whoosh telah mempertimbangkan banyak hal.
"Dalam proses pembangunannya, proyek Kereta Cepat Whoosh sudah mempertimbangkan banyak hal yang telah dikordinasikan bersama seluruh stakeholder yang terlibat," paparnya.
Diketahui, WIKA mengalami kerugian sebesar Rp 7,12 triliun sepanjang 2023, meningkat signifikan dibandingkan pada 2022 sebesar Rp 59,59 miliar.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengatakan, ada dua faktor menjadi penyebab utama pembengkakan kerugian, yakni beban bunga dan beban lain-lain.
Beban bunga meningkat akibat perusahaan harus menerbitkan surat utang (obligasi) untuk urunan membiayai proyek Whoosh.
Beban lain yang ditanggung termasuk beban provisi dan beban administrasi dari utang yang diperoleh WIKA.
WIKA menjadi bagian dari konsorsium BUMN Indonesia di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi pemegang saham pengendali di KCIC.
Di PSBI, beban terbesar harus ditanggung PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium.
"Beban lain-lain ini di antaranya mulai tahun 2022 kami sudah mencatat adanya kerugian dari PSBI atau kereta cepat," jelas Agung saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (10/7/2024).
Agung menyebut, WIKA menyetor modal cukup besar ke Kereta Cepat Whoosh melalui PSBI yang mencapai Rp 6,1 triliun.
"Penyertaannya saja sudah Rp 6,1 triliun (untuk konsorsium proyek Whoosh). Kemudian, yang masih dispute atau belum dibayar sekitar Rp 5,5 triliun, sehingga hampir Rp 12 triliun," beber dia.
Namun yang jadi masalah, dana yang disetorkan ke PSBI untuk permodalan kereta cepat diperoleh WIKA melalui penerbitan utang. Karenanya, perusahaan harus terbebani dengan beban bunga yang tinggi.
"Untuk memenuhi uang ini, mau tidak mau WIKA harus melakukan pinjaman melalui obligasi,” ungkap Agung.