Bos BI Bantah "Senjatanya" Buat Perbankan Kekeringan Likuiditas
Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, sampai dengan saat ini likuiditas perbankan nasional masih terjaga. Halaman all
(Kompas.com) 17/07/24 18:34 11090729
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pihak menilai, instrumen surat utang Bank Indonesia (BI), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat likuditas perbankan "mengering". Pasalnya, SRBI memiliki tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibanding deposito dengan tenor yang lebih pendek dari surat berharga negara (SBN).
Namun demikian, pandangan tersebut dibantah oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. Ia menilai, sampai dengan saat ini likuiditas masih terjaga.
Hal itu ditunjukan dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tercatat sebesar 25,36 persen. Data itu disebut mencermintkan likuiditas perbankan yang masih memadai untuk mendukung penyaluran kredit.
"Apakah ini cukup? lebih dari cukup karena sepanjang history alat likuid per DPK pada umumnya tidak akan lebih dari 15 persen, jadi lebih dari cukup," kata dia, dalam konferensi pers, di Gedung BI, Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Perry pun menampik adanya fenomena crowding out dari perbankan ke SRBI yang merupakan "senjata" bank sentral untuk menstabilkan rupiah. Crowding out sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi terjadinya peralihan dana secara besar-besaran di salah satu instrumen keuangan.
Ia membenarkan, tingkat imbal hasil atau yield yang ditawarkan SRBI lebih tinggi dibanding SBN. Namun, hal itu menjadi diperlukan untuk menarik minat investor asing menempatkan modalnya di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.
"Apakah terjadi crowding out? Jawabannya tidak. Dari sisi SRBI dan SBN, baik dari suku bunga dan juga lelangnya SBN untuk pembiayaan fiskal," tuturnya.
Alih-alih membuat likuiditas perbankan "kering", Perry bilang, BI justru memberikan likuiditas tambahan kepada industri perbankan melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Perry bilang, sejak KLM diterapkan pada tahun lalu, BI sudah menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 255 triliun.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Doni Primanto Joewono juga menampik pandangan SRBI membuat likuiditas perbankan mengetat. Salah satu data pendukung likuiditas perbankan yang masih terjaga ialah masih tumbuh pesatnya kredit perbankan.
Berdasarkan data BI, kredit perbankan tumbuh pesat 12,36 persen pada kuartal II-2024. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 8,45 persen.
Doni membenarkan, terjadi peralihan penempatan dana investor dari SBN ke SRBI. Akan tetapi, hal itu tidak mempengaruhi kemampuan penyaluran kredit perbankan.
"Memang tadi betul ada sedikit alokasi dari SBN ke SRBI. Tapi ini tidak mengurangi komposisi memberikan kredit lebih jauh dari sebelumnya," ucap dia.