Lara Perempuan Lumpuh di Jaksel, Alami Pelecehan Seksual oleh Sopir Taksi "Online" tapi Tak Dapat Melawan
Pengalaman pahit belum lama ini dialami oleh seorang perempuan lumpuh berinisial CD karena menjadi korban pelecehan seksual sopir taksi online. Halaman all
(Kompas.com) 18/07/24 09:32 11162643
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengalaman pahit belum lama ini dialami oleh seorang perempuan disabilitas berinisial CD (55).
Perempuan yang mengalami lumpuh akibat stroke itu menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang sopir taksi online berinisial IA (69).
Kronologi
Peristiwa bermula ketika CD memesan taksi online dari kantornya yang berlokasi di wilayah Jakarta Barat untuk pulang ke rumahnya di wilayah Jakarta Selatan pada Selasa (9/7/2024) sekitar pukul 14.30 WIB.
Selang beberapa menit, CD mendapatkan taksi online yang disopiri oleh IA.
"Waktu itu, posisi sopir taksi online hanya delapan menit dari kantor saya. Jadi saya tunggu sebentar dan sopirnya datang akhirnya," kata CD saat diwawancarai, Jumat (12/7/2024).
Setelah itu, CD masuk ke dalam mobil taksi online dibantu anak buahnya lantaran keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Usai masuk dan menutup pintu mobil, CD merasa ada sesuatu yang janggal. Tak lama kemudian, IA tiba-tiba bertanya kepadanya.
"Dia (IA) tanya, \'ibu umurnya berapa?\' Dia tanya itu sambil senyum ke arah saya. Habis itu, dia cerita, dia usianya 65 tahun. Dia punya anak 5 dan cucu 9. Lalu dia tanya lagi umur saya berapa. Saya bilang, umur saya 55 tahun," kata CD.
"Dia lalu melihat saya lewat spion tengah, dia bilang usia saya tak terlihat 55 tahun, \'Ah enggak, ibu masih cantik\'," sambungnya.
Ucapan yang disampaikan IA membuat CD mulai merasa tak nyaman. CD semakin tak nyaman setelah IA terus-menerus melihatnya melalui kaca spion.
Pada akhirnya CD berpura-pura memainkan ponselnya agar terlihat sibuk.
Beberapa waktu berselang, CD sudah hampir tiba di rumahnya. Ia langsung membereskan barang yang dibawanya.
"Sambil beberes, saya melihat keadaan sekitar. Saya coba mencari apakah ada orang di sekitar rumah saya yang bisa dimintai tolong karena saya tidak bisa jalan sendiri sampai teras rumah," ujar CD.
Sayangnya, kondisi di lingkungan rumah CD saat itu sepi sehingga tak ada yang bisa diminta tolong.
Mau tak mau CD meminta tolong kepada IA untuk membantunya berjalan meski ia merasa tidak nyaman
"Saya bilang, \'Pak ini sudah sampai, saya boleh minta tolong enggak untuk meminjam lengan bapak? Saya butuh medium untuk membantu saya jalan sampai ke teras\'," ucap CD.
"Pas saya bilang gitu, dia terlihat senang, wajahnya terlihat semringah. Dia lalu bilang, \'Jangankan pegang, saya gendong pun bersedia\'. Dia bilang ini sambil senyum-senyum. Ini menjijikan sekali, jujur, sebal banget," lanjutnya.
Akhirnya CD keluar dari mobil dibantu IA yang menyodorkan lengan kanannya agar tangan kiri CD bisa bertumpu.
Tangan kiri CD memegang lengan kanan IA sebagai tumpuan untuk berjalan karena ia kesulitan berjalan sendiri.
CD bercerita, biasanya sopir taksi online yang ia minta tolong untuk membantunya berjalan merasa risi ketika lengannya dipegang, tetapi tidak dengan IA.
"Tapi sopir ini (IA) beda. Ketika saya taruh telapak tangan kiri saya di atas lengan dia, dia malah menimpa telapak atas tangan saya pakai telapak kirinya. Jadi dia kayak menggenggam telapak saya, seperti orang pacaran," jelas IA.
Saat itu CD mengaku tak berani untuk marah dan menepis telapak tangan kiri IA karena ia bisa terjatuh.
Kondisi orang pasca stroke, kata CD, sudah berbeda dengan orang normal sehingga ia mencoba konsentrasi dan menahan diri agar tidak marah. CD pun berjalan secara perlahan ke teras rumah.
Usai diantar ke depan teras, CD kembali dibuat geram dengan tindakan IA.
"Biasanya, sopir taksi online kalau sudah mengantarkan saya, dia langsung pamit. Tapi sopir ini (IA) berbeda, pas saya sudah lepaskan topangan pada lengannya dan berpindah ke atas kursi besi, dia tak langsung pergi. Dia justru diam dan tak putar balik untuk pergi. Dia lalu memandangi saya dari dekat sambil tersenyum," ujar CD.
Hal tersebut membuat CD memilih tak mau langsung masuk ke dalam rumah. Ia khawatir IA akan ikut masuk ke dalam rumahnya.
Bukannya pergi, IA malah semakin lancang kepada CD. Sopir taksi online itu langsung menarik tubuh CD lalu merangkul dan menciumnya.
"Saya dicium, saya dicium di pipi kanan saya. Saya sebenarnya sudah berusaha mengelak. Saya menunduk ketika dia coba merangkul saya, tapi tetap saja, elakan saya tak terlalu berpengaruh karena keterbatasan saya untuk bergerak, apalagi sambil berdiri," kata CD.
Karena mengalami lumpuh setengah badan, CD pasrah saat IA merangkul dan menciumnya. Ia tak mau mengelak lebih ekstrem karena bisa membuatnya jatuh.
"Kalau jatuh, saya akan susah berdiri. Sementara, saya enggak bisa berdiri sendiri. Harus digendong dulu oleh seseorang sampai posisi saya bisa bertumpu. Makanya amit-amit saya terjatuh. Karena saya takut dia (IA) nanti menggendong saya," ucap CD.
Usai IA menciumnya, DC hanya bisa senyum, diam, dan menahan emosi. Kemudian, IA malah menyuruh DC untuk menatap matanya.
Saat itu, pikiran DC masih mencerna apa maksud dari perkataan IA.
"Pas otak saya masih memproses perkataannya, dia bilang gini, \'Bu boleh saya tutup enggak pintu pagarnya\'. Dia ngomong gini dengan suara agak bergetar dan saya rasa dia sudah nafsu sekali. Jijik banget. Jujur," tutur DC.
Saat meminta izin menutup pintu pagar, DC merasa IA punya niat lain. Seketika DC langsung meminta IA untuk keluar dari rumahnya karena takut terjadi hal yang tak diinginkan lebih jauh.
"Dalam hitungan detik saya langsung tegaskan bahwa dia harus keluar, \'Saya harus masuk, tolong bapak keluar\'. Aku benar-benar marah. Aku enggak takut, tapi aku gak bisa menunjukkan kemarahanku. Aku harus tenang, berusaha tegas supaya dia tidak marah, makanya saya enggak meminta dia pergi sambil teriak," ucapnya.
Usai diminta keluar dari rumah, IA malah kembali mencium DC. Setelah itu, IA keluar dari rumah DC.
"Dia minta ke saya untuk cium lagi, \'Boleh enggak saya cium lagi\'. Pas dia ngomong gitu, belum sempat saya respons, dia langsung melakukan gerakan serupa. Menarik bahu saya, merangkul menggunakan tangan kanannya, dan mencium pipi kanan saya," terang DC.
"Kemudian, dia langsung berbalik arah dan berjalan ke arah pagar. Tapi jalannya pelan karena jalannya sudah agak bungkuk. Pas dia tutup pintu pagar, aku cepat-cepat buka pintu, masuk rumah dan aku teriak sekencang-kencangnya di dalam," imbuhnya.
Lapor polisi
Dua hari setelah kejadian, CD akhirnya melaporkan IA ke polisi atas perbuatannya.
“Atas masukan seorang teman, aku akhirnya melaporkan sopir taksi online ini (IA) ke polisi,” ujar CD.
CD mengatakan, dirinya membuat laporan terkait pelecehan tersebut di Polda Metro Jaya.
Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/B/3919/VII/2024/SPKT/Polda Metro Jaya.
“Laporan polisi ini saya buat dua hari setelah kejadian, tepatnya pada 11 Juli 2024,” tutur dia.
Untuk memperkuat laporannya, DC membawa alat bukti tangkapan layar riwayat pemesanan taksi online.
Dalam bukti itu, terlihat jelas wajah dan nama pelaku yang dua kali mencium pipi DC.
“Jadi aku melaporkan sopir taksi online berinisial IA ke Polda Metro. Untungnya aku sempat screenshot riwayat perjalanan dari kantor ke rumah sesaat setelah peristiwa pelecehan,” ungkap dia.
Kendati membawa kasus ini ke jalur hukum, korban mengaku tak bermaksud untuk memenjarakan pelaku.
Ia ingin pelaku sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah sehingga tak diulangi lagi.
“Saya enggak berniat memenjarakan dia. Apalagi dia cerita punya lima anak dan sembilan cucu. Pasti dia kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Makanya setidaknya dia sadar dan orang-orang tahu bahwa dia pelaku pelecehan,” tegas CD.
Kecewa pelaku hanya diblokir akunnya
CD menyampaikan, ia telah melaporkan peristiwa pelecehan yang dialaminya ke pihak aplikator layanan taksi online.
Namun, ia merasa kecewa dengan respons pihak aplikator karena hanya memblokir akun milik IA.
“Saya sempat melaporkan kasus ini (pelecehan) melalui Instagram aplikator, tetapi pada akhirnya si sopir hanya diblokir akunnya,” ujar IA.
Menurut CD, hukuman yang diberikan pihak aplikator ke pelaku berinisial IA tidak setimpal. Mestinya, pelaku pelecehan seksual mendapat hukuman pemutusan mitra.
“Saya sudah mencari soal hukuman pelaku pelecehan yang diterapkan perusahaan ini. Pas saya baca, hukumannya itu langsung putus mitra, bukan blokir akun,” tutur dia.
CD khawatir IA kembali melakukan pelecehan ketika akunnya sudah dapat digunakan kembali.
“Jadi saya sangat menyayangkan keputusan bahwa sopir ini hanya diblokir saja, bukan putus mitra,” ucap dia.
(Penulis: Dzaky Nurcahyo | Editor: Irfan Maullana, Fitria Chusna Farisa)
#pelecehan-seksual #sopir-taksi-online-lecehkan-penumpang #perempuan-lumpuh-jadi-korban-pelecehan-sopir-taksi-online