Penipuan Lowongan Kerja di Duren Sawit: Berawal dari Pesan WA, Korban Dimintai Uang Jutaan Rupiah

Penipuan Lowongan Kerja di Duren Sawit: Berawal dari Pesan WA, Korban Dimintai Uang Jutaan Rupiah

Namun, usai membayarkan uang tersebut, para korban tak mendapat pekerjaan seperti yang dijanjikan. Halaman all

(Kompas.com) 18/07/24 11:54 11176876

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus penipuan lowongan kerja oleh sebuah perusahaan bodong yang semula bermarkas di ruko kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, terungkap baru-baru ini.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial Instagram dan Tiktok, para korban mengaku dimintai sejumlah uang saat wawancara. Jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Namun, usai membayarkan uang tersebut, para korban tak mendapat pekerjaan seperti yang dijanjikan.

Menjaring korban lewat WA

Menurut seorang saksi bernama Zaky (55), banyak korban tertipu lowongan pekerjaan di perusahaan tersebut setelah menerima panggilan wawancara melalui WhatsApp (WA).

Padahal, korban sebelumnya tak pernah mengirimkan lamaran kerja.

"Kebanyakan yang kena tipu ini dapat panggilan untuk wawancara dari WA," kata Zaky saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (16/7/2024).

"Biasanya kan kita ngelamar dulu baru nanti menunggu, katakan sebulan baru ada panggilan wawancara. Nah, ini enggak," lanjut dia.

Pria yang berprofesi sebagai sekuriti di ruko kawasan Duren Sawit ini mengatakan, perusahaan itu ilegal atau tidak mengantongi izin beroperasi.

"Nah yang dipermasalahkan, perusahaan itu semacam yayasan gelap. Kalau resmi kan biasanya ada izin Depnaker (Departemen Ketenagakerjaan), nomor-nomor, dan sebagainya," terangnya.

"Jadi kasihan saja, orang-orang hanya tahu dari medsos. Sudah datang jauh-jauh untuk wawancara malah kena tipu," ujar Zaky.

Senada dengan Zaky, saksi lainnya bernama Banar (40) juga mengamini bahwa perusahaan tersebut banyak menjaring korban lewat pesan WhatsApp.

"Pernah ada korban saya minta bentuk WA-nya kayak gimana. Jadi ya itu langsung panggilan wawancara kerja saja," kata Banar.

Dimintai uang saat wawancara

Berdasarkan penuturan para korban, kata Zaky, nama perusahaan tersebut kerap kali berubah-ubah.

Namun, modus penipuan hampir selalu sama. Korban dimintai sejumlah uang untuk pembayaran seragam atau penyaluran kerja ke perusahaan lain.

"Katanya sih, PT-nya itu ada bermacam-macam. Cuma sebelum wawancara korban pasti dimintai uang dengan alasan untuk membayar seragam atau pendaftaran ke PT yang lain, jadi semacam penyaluran kerja gitulah," ujar Zaky.

Zaky mengatakan, uang yang diminta pelaku ke korban jumlahnya beragam.

"Yang nominalnya paling tinggi itu yang diminta sampai Rp 1,7 juta," kata dia.

Menurut pengakuan salah seorang korban kepada Zaky, mulanya korban mentransfer uang ke pihak perusahaan senilai Rp 1,2 juta. Selanjutnya, korban diminta untuk mengirimkan uang tambahan sebesar Rp 500.000.

"Setelah transfer itu, korban kemudian disuruh ke Kalideres karena katanya ditunggu lamarannya di sana," terang Zaky.

"Sesampainya di Kalideres, dia cerita kalau enggak ketemu sama orang yang dijanjikan untuk menyerahkan lamaran itu," lanjut dia.

Sementara itu, Banar mengungkapkan, korban dimintai uang dengan jumlah yang beragam saat proses wawancara, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari Rp 1 juta.

"Sampai ada yang cuma punya duit Rp 20.000 itu tetap diminta, kan sudah kacau banget," tambah dia.

Karyawan tak interaksi

Kecurigaan warga sekitar terhadap perusahaan bodong itu semakin diperkuat dengan gerak-gerik karyawan ruko yang cenderung tertutup.

Banar mengaku, ia tidak pernah melihat karyawan di ruko tersebut berinteraksi dengan warga sekitar.

"Kayaknya karyawan-karyawannya itu pada enggak boleh bersosialisasi," kata dia.

"Jadi, misalnya ya, ada yang mau beli bakso, nanti ada office boy (OB) yang keluar. Itu makanan dibawa ke dalam. Orangnya enggak boleh keluar," lanjutnya.

Sependapat dengan Banar, Zaky juga mengakui bahwa karyawan di ruko bernomor 1H itu sangat tertutup.

"Kita masing-masing saja sih, enggak pernah mau ikut campur juga. Soalnya dari awal sudah tertutup," ungkapnya.

Bahkan, kata Zaky, setiap ada yang selesai melakukan proses wawancara di ruko tersebut, pelamar tidak diperbolehkan untuk makan, minum, atau hanya sekadar duduk-duduk di warung terdekat.

"Meja ini pernah sampai digebrak sama sekuritinya gara-gara ada pelamar yang mau duduk-duduk sambil minum. Terus diusir enggak boleh minum di sini" imbuh dia.

Kata polisi

Sampai saat ini, polisi mengaku belum menerima laporan terkait kasus penipuan lowongan kerja tersebut.

Saat dilakukan pengecekan, ruko yang diduga menjadi markas penipuan tersebut sudah kosong.

"Terkait dengan kasus yang viral itu, langkah yang dilakukan Polres Metro Jakarta Timur adalah melakukan pengecekan di TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kapolres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Nicolas Ary Lilipaly kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (15/7/2024).

"Dan didapat bahwa ruko yang dimaksud sampai saat ini kosong, tidak berisi," ujar dia.

Kendati demikian, polisi tetap akan menindaklanjuti kasus ini apabila ada laporan dari korban atau orang-orang yang merasa dirugikan.

"Tapi untuk kelanjutannya belum dapat kita tindaklanjuti, karena belum ada laporan resmi dari pihak yang merasa dirugikan sampai saat ini," ucap Nicolas.

Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dengan modus operandi penipuan secara online. Apalagi, sudah banyak kasus serupa yang dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Timur.

"Untuk itu, kami harap ada partisipasi seluruh warga masyarakat di wilayah Polres Metro Jakarta Timur, khususunya, untuk menyampaikan informasi dengan segera apabila ada modus-modus, ada perilaku-perilaku warga yang seperti," imbau Nicolas.

"Kalau ada yang merasa dirugikan, silakan melapor ke Polres Metro Jakarta Timur, atau polsek di mana wilayah hukumnya di tempat kejadian perkara, supaya kita dapat menangani dengan segera," imbuh dia.

#interview-bodong-duren-sawit #penipuan-kerja-duren-sawit

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/18/11545811/penipuan-lowongan-kerja-di-duren-sawit-berawal-dari-pesan-wa-korban