Puncak Jaya Papua Rusuh, Keluarga \'Pemerintah\' tak Terima dan Bantah Kronologi Versi TNI

Puncak Jaya Papua Rusuh, Keluarga 'Pemerintah' tak Terima dan Bantah Kronologi Versi TNI

Salah satu yang meninggal adalah cucu tokoh Papua yang mendukung bergabung Indonesia.

(Republika) 19/07/24 10:19 11284686

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA - Kapendam XVII Letkol Inf Chandra Kurniawan mengatakan, anggota TNI menembak mati tiga terduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). TNI mengeklaim ketiganya selalu membuat teror di wilayah Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.

"Memang benar, anggota Satgas Yonif RK 753/AVT, Selasa (16/7/2024) malam sekitar pukul 19.45 WIT melakukan penindakan dengan menembak terduga anggota OPM pimpinan Teranus Enumbi," kata Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Chandra Kurniawan dalam keterangan tertulisnya di Jayapura, Rabu (17/7/2024).

Letkol Chandra menceritakan kronologi kejadian hingga ketiga korban ditembak aparat TNI. "Insiden itu berawal dari adanya dugaan keberadaan pimpinan OPM Teranus Enumbi bersama beberapa anggotanya yang memasuki permukiman warga di kampung Karubate, Distrik Muara dengan membawa senjata api," katanya.

Dengan adanya dugaan tersebut, kemudian direspons Satgas Yonif RK 753/AVT dengan melakukan penindakan terhadap gerombolan OPM tersebut. Saat akan ditangkap, kata dia, anggota OPM melakukan perlawanan dengan mengeluarkan tembakan ke arah prajurit sehingga dibalas untuk melumpuhkan mereka.

Tiga orang terduga OPM yang tewas adalah SW (33), YW (41), DW (36). Di TKP, lanjut Letkol Chandra, juga ditemukan satu pucuk senjata api jenis pistol rakitan serta bendera Bintang Kejora .

"Pimpinan OPM Teranus Enumbi berhasil lolos melarikan diri," kata Letkol Chandra tentang Teranus Enumbi yang merupakan salah satu pimpinan OPM yang masuk dalam DPO polisi terkait penyerangan ke aparat keamanan tahun 2018.

Adapun aksi kekerasan yang melibatkan Teranus Enumbi tercatat pada 19 Maret menyerang, menembak, dan membacok dua prajurit yakni Sertu Ismunandar dan Serka Salim. Selanjutnya, 30 Mei menyerang dan menembak tukang ojek Jainul (44), 31 Mei menyerang dan menembak warga sipil Prasetyo (33), dan tanggal 19 Juni penyerangan dan menembak tukang ojek Husen (39).

Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga membantah klaim TNI yang menembak mati tiga separatis bersenjata di Puncak Jaya, di Papua Tengah, Rabu (17/7/2024). Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) Sebby Sambom menegaskan, yang dibunuh oleh militer Indonesia tersebut adalah masyarakat sipil. Pembunuhan tersebut memicu gelombang kerusuhan antara warga pendatang, dan masyarakat asli yang akhirnya juga menghilangkan nyawa warga sipil.“Mereka (yang ditembak TNI) warga sipil.

"Tiga ditembak, dan yang lainnya menderita luka tembak,” begitu kata Sebby saat dihubungi Republika dari Jakarta, Kamis (18/7/2024). TPNPB-OPM, kata Sebby menegaskan, tak ada kaitannya dengan aksi bentrok sesama sipil, pascapenembakan yang dilakukan oleh TNI tersebut. “Warga pendatang yang dibunuh oleh masyarakat sipil Puncak Papua, sebagai balasan. Kami TPNPB-OPM tidak ikut terlibat aksi spontanitas itu,” begitu kata Sebby.

Pada Rabu (17/7/2024), Kodam XVII Cenderawasih melaporkan terjadinya kontak tembak antara kelompok separatis bersenjata dengan personel Satgas Yonif Raider Khusus (RK) 753/Arga Vira Tama di Puncak Jaya. Kontak tembak tersebut, terjadi setelah TNI menerima informasi pentolan separatis Teranus Enumbi bersama kelompoknya memasuki Kampung Karubate, di Distrik Muara. Dari kontak tembak tersebut, TNI mengeklaim menembak mati tiga anggota separatis. “Tiga terduga OPM yang tewas tersebut adalah SS (33 tahun), YW (41), dan DW (36),” begitu kata Kapendam Cenderawasih Letnan Kolonel (Letkol) Chandra Kurniawan.

Dari kontak tembak tersebut, kata Letkol Chandra, menemukan bukti ketiga yang tewas itu adalah anggota separatis karena ditemukan adanya senjata api. Sementara pemimpin ketiganya, Teranus Enumbi lolos dan kabur ke dalam hutan. Kata Letkol Chandra, Teranus Enumbi tercatat memiliki rekam jejak separatisme dan kriminalitas. Seperti penembakan, dan pembacokan teradap warga biasa dari kalangan pendatang, dan juga menyasar prajurit-prajurit TNI. Pada 19 Maret 2024 lalu, kata Letkol Chandra, Teranus Enumbi membacok Sertu Ismunandar, dan Serka Salim.

Terkait dengan penembakan tiga terduga separatis itu, evakuasi yang dilakukan TNI membawa ketiga jenazah ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mulia di Puncak Jaya. Akan tetapi, setelah penembakan oleh TNI terhadap tiga terduga OPM tersebut, terjadi insiden kerusuhan. Sejumlah warga asli Papua menyerang posko, dan kendaraan-kendaraan militer serta kepolisian. Sejumlah kendaraan, dan posko aparat keamanan setempat dibakar. Penyerangan oleh orang-orang asli Papua (OAP) itu juga menyasar ke ruko-ruko milik warga pendatang.

Dari informasi yang tersebar, disebutkan empat warga sipil tewas dalam kerusuhan tersebut. Akan tetapi, sampai Kamis (18/7/2024) belum ada pernyataan resmi dari aparat keamanan terkait situasi keamanan di Puncak Jaya. Kabid Humas Polda Papua Komisaris Besar (Kombes) Ignatius Benny mengatakan kepada Republika, agar mencari tahu, dan mengkonfirmasi informasi terkait kerusuhan, dan situasi terkini di Puncak Jaya kepada pihak TNI. “Kapendam, Kapen Kogabwilhan, dan Kapen Koopshabema yang bisa menjawab ya,” begitu kata Kombes Benny. Sedangkan dari TNI, sampai berita ini ditulis, juga tidak merespons.

#puncak-jaya #kerusuhan-puncak-jaya #penembakan-puncak-jaya #kerusuhan-puncak-jaya-papua #penembakan-warga-puncak-jaya #penembakan-papua #papua-puncak-jaya-rusuh #penembakan-warga-papua #papua-rusuh

https://news.republika.co.id/berita/sgup81487/puncak-jaya-papua-rusuh-keluarga-pemerintah-tak-terima-dan-bantah-kronologi-versi-tni