Cerita Pengusaha Warteg Kehilangan Pelanggan VIP Setelah Pandemi, Dulu Sering Diborong Instansi Pemerintahan
Pandemi Covid-19 membuat pengusaha warteg kehilangan pelanggan VIP mereka. Halaman all
(Kompas.com) 19/07/24 16:54 11324154
JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat pengusaha warteg kehilangan pelanggan VIP mereka. Contohnya Fasiha (61), pengusaha warteg di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dulu punya pelanggan orang-orang di instansi pemerintahan.
Sebelum pandemi Covid-19, sejumlah kementerian dan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat rutin memesan makan siang ke sejumlah warteg yang ada di Jakarta Pusat. Namun, setelah pandemi, instansi ini tak lagi memesan dari warteg milik masyarakat.
“Dulu sebelum pandemi Covid-19, Wali Kota, kecamatan pada ke sini-sini (pesan makanan). Sekarang saja pada online,” ujar Fasiha (61) saat ditemui di wartegnya di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2024).
Bahkan, Fasihan masih ingat dengan menu kesukaan dari istri Wali Kota yaitu nasi dengan ayam bakar atau ayam panggang.
“Dulu sebelum pandemi Covid-19. (Pesan) seminggu dua kali, bisa 100 atau 200 pax (sekali pesan),” imbuh Fasiha.
Saat itu, untuk paket nasi dengan ayam bakar lengkap dengan tahu tempe serta buah dibandrol dengan harga Rp 20.000. Tapi, paket yang sama sekarang dihargai Rp30.000.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Resa (30). Wartegnya yang berada di Gambir juga sering menjadi langganan catering makan siang untuk rapat-rapat di Kementerian Perhubungan.
“Setelah pandemi Covid-19 enggak ada (pesan makan). Enggak ada rapat-rapat lagi. Dulu di Kemenhub sering banget. Sekali pesan 100 pax,” ucap Resa saat ditemui di wartegnya di Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2024).
Bahkan, Istana Negara juga pernah memesan makan siang di warteg Resa. Terutama untuk pekerja bongkar pasang tenda peringatan 17 Agustus.
“Dulu pesan 50 atau 100 paket. Semenjak pandemi Covid-19 sudah enggak ada,” lanjut Resa.
Fasiha dan Resa sedikit kecewa. Mereka pun tidak tahu kenapa sekarang instansi-intansi pemerintahan tidak lagi memesan kepada mereka. Padahal, pesanan jumlah besar yang datang dari instansi pemerintahan bisa membuat wartegnya mendapat keuntungan lebih di tengah kenaikan harga.
Kondisi saat ini, banyak pedagang warteg yang terpaksa tutup karena tidak sanggup membayar sewa dan besarnya biaya operasional.
Baik Fasiha dan Resa sama-sama mengeluhkan tingginya harga bahan-bahan pokok. Untuk beras 50 kg, mereka harus merogoh kocek antara Rp 650.000-700.000. Padahal, dulu harganya hanya Rp 550.000.
“Tadinya sempat Rp 850.000, pas El Nino itu. Ternyata El Nino sudah selesai, harga masih tetap tinggi,” lanjut Resa.
Belum lagi dengan harga gas dan sayur-mayur yang ikut melonjak tinggi. Termasuk, cabai merah yang saat ini bisa menyentuh Rp 90.000 per kg.
Pedagang berharap, pemerintah dapat segera menekan atau bahkan menurunkan harga bahan pokok.
#kondisi-pengusaha-warteg #dampak-kenaikan-beras-ke-pengusaha-warteg #warteg