#30 tag 24jam
Berawal Jadi Pengasuh, Wanita Asal Tegal Ini Sukses Bisnis Warteg di Turki
Arum Ita Cahyani, atau Nuriye Oruç, sukses buka warteg di Taksim, Istanbul. Dari pengasuh hingga pebisnis, ia kini meraih omzet hingga Rp 20 juta per hari. [541] url asal
#bisnis-warteg #wanita-sukses #tegal #istanbul #arum-ita-cahyani #wanita #suami #urus #konsulat-jenderal-republik-indonesia #kjri #nuriye-oru #turki #warteg #usahanya-warung-tegal #nama #jenis-makanan #pemerintah #nann
(detikFinance - SolusiUKM) 27/10/24 14:00
v/17056195/
Turki - Kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Kata-kata ini mungkin cocok untuk menggambarkan sosok Arum Ita Cahyani yang kini sukses membangun usahanya warung Tegal alias warteg di Taksim, Istanbul, Turki.
Wanita asal Tegal ini mengadu nasib di Turki 9 tahun lalu. Mulanya, ia bekerja nanny atau pengasuh. Setelah itu, ia menemukan pujaan hatinya yang merupakan orang Turki.
Meski sudah menikah, wanita yang kini dikenal dengan nama Nuriye Oruç itu tetap bekerja. Selain itu, ia juga merintis bisnis dengan berjualan online.
"Pertama orang kenal aku itu dari jualan online. Jual bakso frozen bikinan sendiri, jual pempek kan kita punya forum jual beli. Jadi sering posting-posting orang kenal nama Nuriye Oruç dari aktif jualan online," kata Nuriye di tempat usahanya, Taksim, Turki, Jumat malam (25/10/2024).
Nuriye sendiri mulanya bekerja di luar Istanbul. Kemudian, ia melepas pekerjaannya dan pindah ke Istanbul. Setelah itu, ia pun menjalani bisnis dengan menjual makanan rumahan. Dalam menjalankan usahanya, ia mengaku aktif dalam mengikuti kegiatan bazar.
"Kan biasanya KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) sering buat kayak bazar makanan festival makanan. Entah itu ada acara buka bersama pasti ada bazarnya, entah itu Agustusan nanti juga ada bazarnya, kita selalu aktif jualan di situ. Itu sebelum punya restoran. Jadi mengenalkan makanan itu dari bazar dulu, dari jual rumahan sampai orang tahu," katanya.
Puncaknya, pada 2 tahun lalu ia menerima banyak order makanan. Sementara, tempat tinggalnya tak cukup untuk menggarap pesanan tersebut. Akhirnya, ia pun membuka warteg di wilayah Taksim.
Arum Ita Cahyani Pemilik Warteg di Turki Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikcom |
"2 tahun yang lalu kita dapat kateringan banyak banget akhirnya nggak bisa masak di rumah. Kita cari tempat buat buka restoran, ketemulah tempat di sini di Taksim," ungkapnya.
Diakuinya, membuka bisnis di Turki tidaklah mudah. Selain modal, masalah perizinan menjadi tantangannya. Sepengetahuannya, orang Indonesia yang membuka usaha di Turki memakai nama orang Turki.
"Jadi suami saya orang Turki jadi beliau yang urus semuanya, untuk perizinannya," katanya.
Nuriye mengatakan, izin buka usaha dan izin restoran berbeda. Menurutnya, izin usaha lebih mudah didapat dibanding dengan izin membuka restoran. Pemerintah setempat memiliki standar yang tinggi sebagai syarat untuk membuka restoran seperti pembuangan asap, kebersihan dapur dan lain sebagainya.
"Nanti kalau sudah lulus semuanya baru 'OK ini izin restorannya sudah keluar'. Alhamdulillah kita sudah dapat," ungkapnya.
Di Turki, Nuriye menjual berbagai jenis makanan dan minuman. Untuk makanan seperti soto betawi, ketoprak, gado-gado, ayam geprek, nasi goreng, sate ayam, bakso, dan lain sebagainya.
Harga yang bersaing menjadi andalan Nuriye untuk menggaet konsumen. Di warungnya, ia menjual makanan yang paling murah yakni mi nyemek seharga 150 lira turki atau sekitar Rp 60 ribu. Kemudian, untuk yang paling mahal sop buntut 250 lira turki atau sekitar Rp 110 ribu.
"Untuk standar makanan di sini rata-rata harganya 170 tele (lira turki) berarti harganya sekitar Rp 80 ribuan," katanya.
Singkat cerita, bisnis Nuriye pun berkembang. Saat ini, ia bisa menghasilkan omzet antara Rp 8 juta hingga Rp 20 juta per hari. Ia pun kadang juga mendapatkan penghasilan lebih karena bekerja sama dengan travel.
"Kalau ramai banget Rp 20 juta itu kadang ada omzet dari travel, biasanya kalau travel tagihannya setiap 1 bulan sekali atau 2 minggu sekali, itu biasanya beda dari penghasilan harian yang kita dapat dari customer datang," terangnya.
(acd/das)
Dorong Pertumbuhan UMKM, Warteg Binaan Jadi Sorotan
Warteg diharap menjadi UMKM yang menyejahterakan. [321] url asal
(MedCom - Ekonomi) 24/09/24 17:00
v/15514464/
Jakarta: Rumah makan warung tegal (Warteg) menjadi sorotan PT Mandiri Utama Finance (MUF). Anak perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang bergerak di bidang pembiayaan itu ingin warteg menjadi UMKM yang menyejahterakan."Salah satu fokus BUMN dan anak usahanya adalah pengembangan UMKM. Warteg ini UMKM yang sangat potensial. Melalui program MUF Soul Warteg Binaan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan usaha warteg rumahan" kata Corporate Secretary & Legal Division Head MUF Elisabeth Lidya Sirait saat peresmian program MUF Soul Warteg Binaan.
Program MUF Soul Warteg Binaan ini dibuka serentak di Kabupaten Bogor, Surabaya, Rembang, dan Bekasi. Elisabeth menilai pengembangan warteg tersebut sesuai dengan Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Elisabeth menjelaskan, program MUF Soul Warteg Binaan merupakan implementasi atas SDGs untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat rentan. Program ini memberikan akses masyarakat terhadap makanan bergizi yang terjangkau sehingga membantu mewujudkan kehidupan yang sehat.
Kepala Wilayah Mandiri Utama Finance Jabodetabek I Affan Barieda menyebut UMKM merupakan tulang punggung kebangkitan ekonomi nasional. Affan berharap program ini dapat mendukung UMKM sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan dengan subsidi makanan.
"Dengan adanya bantuan subsidi, diharapkan warteg yang menjadi mitra MUF dapat meningkatkan keuntungan melalui penambahan penjualan. Kalau sebelumnya, penjualan hanya 20-30 porsi per hari, kini bisa 50 porsi per hari," kata Affan.
Program MUF Soul Warteg Binaan menyasar warteg non-franchise (milik sendiri). Melalui program ini, perusahaan berharap dapat berkontribusi mengurangi angka kemiskinan melalui penyediaan makanan bersubsidi bagi kaum duafa sekaligus meningkatkan kesejahteraan usaha warteg rumahan.
"Sebagai pelaku UMKM, kami bersyukur dan terbantu program ini. Dengan penambahan penjualan, kami sebagai warteg rumahan bisa tumbuh dan berkembang. Harapannya, usaha kami maju dan bisa mendapatkan penghidupan yang lebih sejahtera,",kata Dodi, pemilik Warteg Pak Dodi.
Program ini memberikan subsidi kepada kaum duafa, tukang ojek, pemulung, pedagang kecil, pengemis, tukang becak hingga yatim piatu. MUF bekerja sama dengan masjid, gereja, serta komunitas yang berada di sekitar lingkungan warteg binaan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(FZN)
Kisah Sayudi Pemilik Warteg Kharisma Bahari yang Sukses Melalui Waralaba
Kisah sukses Sayudi, pemilik Warteg Kharisma Bahari dengan ratusan cabang dan partner. Perjuangannya sangat menginspirasi. [439] url asal
#warteg #warteg-kharisma-bahari #warung-tegal #investor #sertifikat-rumah #nasi-warteg #bisnis-kuliner #waralaba
(Bisnis Tempo) 08/08/24 13:14
v/13785708/
TEMPO.CO, Jakarta - Apakah Anda pernah makan di Warung Tegal (warteg)? Warteg telah menjadi salah satu tempat makan favorit yang tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia. Beragam pilihan menu dan harga yang terjangkau menjadikannya tetap eksis dan banyak diminati. Tidak mengherankan jika usaha warteg terus berkembang dari waktu ke waktu.
Di antara banyak pengusaha warteg, ada satu yang sangat menginspirasi karena kegigihannya selama puluhan tahun dalam menjalani usaha ini. Saat ini, warteg yang dimilikinya tidak hanya berjumlah puluhan, tetapi sudah mencapai ratusan cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dirangkum dari berbagai sumber, ia adalah Sayudi, pendiri dan pemilik Warteg Kharisma Bahari yang telah merintis usahanya sejak puluhan tahun lalu ketika usianya masih muda dan memutuskan merantau ke Jakarta.
Meskipun hanya lulusan SD, Sayudi menunjukkan kegigihannya untuk sukses di Ibukota. Kini, warung dengan warna hijau kekuningan ini tersebar hampir di setiap sudut Jabodetabek.
Warteg Kharisma Bahari. wartegkharismabaharigroup.com
Menurut laman resmi WKB Group, kisah Sayudi dimulai pada tahun 1996. Sayudi membangun warteg pertamanya di Jakarta Selatan dengan nama MM (Modal Mertua), karena modal awalnya berasal dari pinjaman mertuanya. Mertuanya meminjamkan sertifikat rumah untuk dijadikan jaminan pinjaman di bank.
Awalnya, wartegnya hanya berdiri di bangunan semi permanen yang disediakan oleh pemerintah daerah waktu itu. Setelah memiliki modal, Sayudi menyewa tempat untuk membuka wartegnya.
Ide membuka kemitraan Kharisma Bahari Group muncul secara tidak sengaja. Awalnya, rumah makan ini memiliki tiga cabang, dua di antaranya hanya dikelola oleh karyawan. Karena pengelolaannya semakin berantakan dan merugi, Sayudi mengajak teman atau keluarga yang ingin membuka warteg tanpa modal dengan pembagian hasil 50-50.
Sejak saat itu, Kharisma Bahari Group membuka kemitraan dengan investor untuk bergabung. Hanya dengan membeli satu outlet warteg seharga Rp 130 juta, di luar biaya sewa kios, kemitraan ini terbentuk. Jika investor meminta karyawan dari Kharisma Bahari Group, keuntungannya dibagi dua, 50 persen untuk pengelola dan 50 persen untuk investor.
Kini, bisnis Warteg Kharisma Bahari telah menawarkan skema waralaba atau franchise Warung Tegal yang bisa menjadi pilihan bagi calon pengusaha warteg. Waralaba ini menawarkan tiga jenis gerai warteg, disesuaikan dengan paket harga modal dan ukuran warung.
Pertama, Warteg Kharisma Bahari untuk budget menengah (eksklusif). Kedua, Warteg Mamoka Bahari untuk budget minimal (medium), dan ketiga, Warteg Subsidi Bahari (small), yang cocok untuk budget minimal dan pemula bisnis kuliner.
Modal yang diperlukan untuk franchise warteg ini berkisar antara Rp 135 juta hingga Rp 150 juta, di luar biaya sewa tempat dan penentuan lokasi. Harga tersebut sudah mencakup renovasi atau pembangunan warung, peralatan dapur dan kamar mandi, perlengkapan seperti kulkas dan meja, serta stok awal bahan baku. Dengan sistem waralaba ini, tidak heran jika bisnis Warteg Kharisma Bahari milik Sayudi kini memiliki ratusan cabang.
Menakar Gizi Makan Gratis, Program Andalan Prabowo - kumparan.com
Nama programnya makan bergizi gratis. Kalau anggarannya Rp 7.500–9.000 per porsi, dapat gizi apa? Bisakah program andalan Prabowo ini tetap bergizi meski anggarannya masih diutak-atik? #kumparanNEWS [1,682] url asal
(Kumparan.com - News) 22/07/24 18:46
v/11698037/
Nama programnyamakan bergizi gratis. Kalau anggarannya Rp 7.500–9.000 per porsi, dapat gizi apa? Bisakah program andalanPrabowoini tetap bergizi meski anggarannya masih digodok dan diutak-atik?
***
Ibu penjaga warteg menyodorkan piring berisi nasi putih, tumis taoge kacang panjang, dan tempe orek. Menu itu adalah makan siang yang dibeli dengan uang 9.000 rupiah. Porsi tersebut bisa mengobati perut kosong, tapi kandungan gizinya tak memadai.
kumparan sengaja meminta penjaga warteg menyajikan makanan seharga Rp 9.000 itu. Menu tersebut bisa jadi gambaran jika anggaran makan bergizi gratis, program andalan Prabowo-Gibran, dikurangi dari mulanya Rp 15.000 per porsi menjadi hanya Rp 7.500 sampai Rp 9.000.
“[Harga Rp 9.000] tidak dapat telur,” kata penjaga warteg di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/7).
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan menilai makanan porsi Rp 9.000 dari warteg itu belum mencukupi gizi, sebab di dalamnya tak terdapat protein hewani seperti daging ikan, ayam, sapi, atau telur. Padahal, protein hewani punya fungsi penting untuk mendukung pertumbuhan sel dan memperkuat daya tahan tubuh.
“Untuk program perbaikan gizi harusnya selalu ada pangan hewani,” kata Ali kepada kumparan, Kamis (18/7).
Bila hidangan 9.000 rupiah di Jakarta tak memadai gizinya, apalagi 7.500 rupiah. Menurut Prof. Ali, uang Rp 7.500 hanya cukup untuk snack bergizi, bukan makanan utama, dan minus susu pula.
Wajar, sebab harga susu UHT satuan ukuran 125 ml saja sudah Rp 4.000–5.000, sedangkan ukuran yang lebih besar Rp 6.000. Itu pun masih hitungan harga di Pulau Jawa, belum di luar Jawa, termasuk Papua, yang harganya bakal lebih tinggi karena tambahan biaya distribusi.
Kalau sekadar snack bergizi, ujar Prof. Ali, bisa mencontoh program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) yang pernah digalakkan Orde Baru, lalu dimunculkan lagi pada era Reformasi di beberapa daerah, termasuk Jakarta.
PMTAS menggunakan pangan lokal bergizi. Dengan begitu, penggunaan bahan makanan impor seperti gandum pun bisa diminalisir.
Meski demikian, bukan berarti Rp 7.500 tak bisa dianggarkan untuk makanan pokok yang terdiri dari nasi, telur, dan sayur alakadarnya. Menurut Ali, menu itu masih bisa didapat dengan harga Rp 7.500 di beberapa daerah yang harga telurnya lebih terjangkau, yakni Rp 2.000–2.500 per butir.
“Tetapi tidak mungkin anak-anak dikasih nasi telur terus,” kata Ali.
Linda Lestari, Kepala Sekolah SDN Kedaung Kaliangke 03 Pagi, Jakarta Barat, menerima kumparan yang menyambangi sekolahnya di tengah jam istirahat siswa nan riuh. Lima tahun lalu, saat Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta, anak didik Linda pernah mendapat sarapan gratis.
Ketika itu, sekolah tempat Linda bertugas pernah memberikan sarapan gratis untuk siswa lewat program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) yang digelar Pemprov DKI Jakarta.
PMTAS yang digalakkan Anies menyasar sebagian anak SD, PAUD, dan SLB yang tak sempat sarapan sebelum berangkat sekolah. Pada 2019, program ini disebut memberi manfaat kepada 144.722 peserta didik dari 459 sekolah di Jakarta.
Pada awal PMTAS dilancarkan Pemprov DKI, pemberian sarapan gratis ke peserta didik dilakukan setiap hari. Namun, program ini terhenti waktu pandemi COVID-19. Meski kemudian sempat dilanjutkan tahun 2022 usai pandemi, pemberiannya tak lagi harian. Kini, program ini pun telah berhenti.
Pemberian makan gratis versi PMTAS dikelola oleh Komite Sekolah. Pemprov DKI menggelontorkan dana beserta menu makanan yang telah ditentukan dengan harga paket Rp 10.890 per anak.
Menu paketnya ditentukan Pemprov lewat pengawasan gizi, sedangkan kandungan makanannya diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ada 29 jenis makanan yang dimasukkan dalam daftar menu untuk disajikan bergantian seperti nasi goreng dan telor ceplok, susu UHT dan kroket, sayur sop daging, roti dan pisang, jagung susu keju (jasuke) dan salak, onde-onde kacang hijau dan susu UHT, lemper isi ayam dan kelengkeng, maupun puding buah dan jambu air.
“Komite [Sekolah] yang punya dapur. Jadi mereka dikasih wewenang untuk mengelola,” kata Linda.
Perempuan yang sudah mengabdi sebagai guru SD sejak 1996 itu mengatakan, dengan harga Rp 10 ribu, mereka masih bisa menyediakan sarapan dengan takaran gizi yang sudah ditentukan. Tapi untuk makan bergizi gratis, kata dia, belum tentu bisa diterapkan.
“Kalau [program] yang baru ini kan makan [pokok], berarti ada nasinya, lauknya 4 sehat 5 sempurna. Kalau yang kemarin PMTAS doang, bentuknya kue sama susu. Kalau buat kue-kue aja, sih, insyaallah cukup, [asal] bukan makanan berat,” ujar Linda.
kumparan mendatangi sekolah swasta di Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk melihat bagaimana penyajian menu makan bergizi yang ideal kepada siswa.
Kepala Sekolah SDI Tunas Mandiri, Saeful Anwar, menyodorkan daftar menu makan siang dari Senin sampai Jumat. Di sana tertulis rapi dan jelas makanan jasa boga yang disediakan sekolah bekerja sama dengan penyedia jasa makanan di sekitar sekolah.
Tercantum untuk Senin tersedia: nasi putih, ayam goreng mentega, sauteed mix vege, cimory yoghurt; Selasa ada nasi, dori mayonaise, tumis buncis jagung, pudding; lalu Rabu nasi putih, soto betawi daging, kerupuk ikan, buah; Kamis tersedia spaghetti bolognese, sosis bakar, chicken nugget, dan susu; untuk Jumat disediakan mie ayam dan yakult.
Menu tersebut berubah setiap minggu agar anak tidak bosan dan dikirimkan ke orang tua siswa. Pemesanan dilakukan seperti jasa katering pada umumnya dengan nilai di atas Rp 15.000.
“Memang itu orang tua harus membayar, besarannya kisaran Rp 20 ribu untuk lunch box,” kata Saeful sambil menunjukkan paket berisi mie ayam dan minuman yakult. Hari itu bertepatan Jumat yang berarti waktunya makan berat non-nasi.
Saeful juga menunjukkan kantin tempat makan siswa. Di ruangan yang dilengkapi dengan tempat menyusun makanan anak yang siap santap itu, Saeful memperlihatkan kotak plastik berisi hamburger dan kentang goreng, kemudian di tangan satunya ada kotak sama di dalamnya ada teh kotak ukuran sedang-makaroni-bakpao kecil. Itu adalah paket sarapan yang juga disediakan bagi peserta didik.
“[Harganya] 17 ribu untuk snacks box,” kata Saeful.
Peserta didik SD Islam Tunas Mandiri tidak sebanyak sekolah negeri. Kelas mereka hanya dibatasi 25 siswa di tiap ruangan. Para siswa berada di sekolah dari pukul 7.30 WIB sampai 14.15 WIB. Waktu panjang di sekolah tersebut menjadi alasan sekolah menyediakan dan memfasilitasi katering makan siang.
“Supaya meringankan beban orang tua untuk menyiapkan makan siang anak-anak,” kata Saeful.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengusulkan penyiapan makanan dilakukan di sebuah dapur umum di tiap-tiap kelurahan atau desa. Mereka yang memasak adalah kader lokal seperti ibu-ibu PKK, Posyandu, maupun tenaga kesehatan, dengan upah tertentu. Selanjutnya makanan yang sudah jadi disalurkan ke sekolah-sekolah.
“Kalau diserahkan sekolah nanti harus masak kasihan gurunya, nanti tidak fokus ngajar, fokusnya masak,” ucapnya.
Adapun secara ideal, kata Ali, gizi ideal yang dibutuhkan anak per hari adalah 2.000 kalori dan 40-50 gram protein. Hitungan ini dapat ditakar dalam tiga kali makan, yang dibagi masing-masing sarapan menyumbang 25%, makan siang 35%, dan santap malam 30%.
Untuk menggenapi 100%, berasal dari jajanan atau snack di antara makan siang dan makan malam. Pencapaian 2.000 kalori dan 50 gram protein lebih mudah dicapai bila anak makan bergizi tiga kali sehari ditambah snack dua kali sehari.
Jika anggaran makan gratis benar-benar dipangkas Rp 7.500 sampai Rp 9.000 per porsi, kebutuhan gizi masih bisa didapat namun kualitasnya tidak sama dan menunya terbatas.
“Misalnya Rp 15.000 bisa dapat telur dan daging ayam, kalau dananya turun dikasih tempe dan telur saja. Jadi hitung-hitungan proteinnya bisa terpenuhi, tapi kualitasnya beda. [Sebab] daya cerna protein pangan hewani jauh lebih unggul dibandingkan pangan nabati,” ujar Ali.
Hasto Wardoyo menilai skenario yang paling memungkinkan jika anggaran makan bergizi dipangkas setengah, adalah mengutamakan lauk-pauknya. Sedangkan nasinya siswa membawa dari rumah.
“Semisal kalau karbohidrat kenapa harus diberi, pasti sudah punya beras. Jadi bisa hanya diberi lauknya. Harapannya komponen lainnya seperti sayur harganya relatif terjangkau. Bagi saya karbohidrat tiap keluarga pasti punya,” kata Hasto saat ditemui kumparan di kantornya, Jakarta Timur, Jumat (19/7).
Skenario tersebut bisa dipakai dalam rangka penghematan. Hemat menyusun menu dengan mengeluarkan karbohidrat dan memprioritaskan pada pangan hewani seperti daging-dagingan yang tak terjangkau masyarakat.
Jika ingin memperluas target penerima, Hasto mengusulkan agar melibatkan pengusaha lewat skema corporate social responsibility (CSR).
“Ini skenario gotong royong, jadi tidak semua mengandalkan pemerintah uangnya. Banyak perusahaan yang bisa jadi bapak asuh anak stunting lewat CSR. Berarti yang dikawal CSR tidak perlu dicover pemerintah,” kata Hasto.
Terpenting, kata Hasto, makanan yang disediakan untuk program ini bahan bakunya harus berbasis lokal, bukan impor. Ia mencontohkan apabila tidak menggunakan nasi sebagai sumber karbohidrat, maka penggantinya bisa singkong atau ubi jalar. Jangan sampai sumber karbohidratnya menggunakan mie atau roti yang bahan bakunya impor yakni gandum.
“Spirit makan gratis salah satu dampak yang sangat bermanfaat adalah mendongkrak ekonomi rakyat, uang Rp 71 triliun berputar di lokal. Sayang kalau diganti roti atau mie. Kalau begitu berarti capital flight (uang keluar)” ucap Hasto.
Anggota Tim Gugus Tugas Sinkronisasi Prabowo-Gibran Hasan Nasbi membantah adanya penurunan nilai anggaran per anak untuk makan bergizi gratis. Keputusan mengenai nilai paket per anak saat ini belum ditentukan. Tim mereka masih terus melakukan uji coba.
“Angka-angka Rp 7.500 hingga Rp 9.000 itu enggak ada sama sekali di tim yang sedang melakukan uji coba,” kata Hasan Nasbi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai program penambahan gizi anak memang diperlukan karena tingkat stunting masih tinggi. Namun ia mewanti-wanti agar program yang dimulai dengan anggaran besar ini targetnya tepat sasaran, yakni balita dan anak SD.
“Jadi, saya melihat itu [balita, SD, dan ibu hamil] yang paling prioritas saat ini,” kata dia.
Hasto juga berharap baduta atau bayi sejak dalam kandungan hingga usia 24 bulan, masuk dalam sasaran program makan bergizi gratis. Sebab 1.000 hari pertama anak sangat krusial untuk menekan stunting.
“Kalau di negara-negara maju ibu hamil dan balita menjadi focus of interest untuk program-program seperti ini. Karena usia kritisnya ada di 1.000 hari pertama kehidupan,” ucap Hasto.
Pada Februari 2024, Airlangga menyebut target penerima makan gratis total berjumlah 70,5 juta jiwa. Rincian penerimanya yakni balita 22,3 juta, siswa TK 7,7 juta, siswa SD 28 juta, dan siswa madrasah/SMP 12,5 juta orang. Tahap awal, makan gratis akan diberikan untuk balita dan ibu hamil. Tahap selanjutnya untuk murid TK, SD, SMP di daerah yang memiliki angka stunting tinggi.
Cerita Pengusaha Warteg Kehilangan Pelanggan VIP Setelah Pandemi, Dulu Sering Diborong Instansi Pemerintahan
Pandemi Covid-19 membuat pengusaha warteg kehilangan pelanggan VIP mereka. Halaman all [513] url asal
#kondisi-pengusaha-warteg #dampak-kenaikan-beras-ke-pengusaha-warteg #warteg
(Kompas.com) 19/07/24 16:54
v/11324154/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat pengusaha warteg kehilangan pelanggan VIP mereka. Contohnya Fasiha (61), pengusaha warteg di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dulu punya pelanggan orang-orang di instansi pemerintahan.
Sebelum pandemi Covid-19, sejumlah kementerian dan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat rutin memesan makan siang ke sejumlah warteg yang ada di Jakarta Pusat. Namun, setelah pandemi, instansi ini tak lagi memesan dari warteg milik masyarakat.
“Dulu sebelum pandemi Covid-19, Wali Kota, kecamatan pada ke sini-sini (pesan makanan). Sekarang saja pada online,” ujar Fasiha (61) saat ditemui di wartegnya di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2024).
Bahkan, Fasihan masih ingat dengan menu kesukaan dari istri Wali Kota yaitu nasi dengan ayam bakar atau ayam panggang.
“Dulu sebelum pandemi Covid-19. (Pesan) seminggu dua kali, bisa 100 atau 200 pax (sekali pesan),” imbuh Fasiha.
Saat itu, untuk paket nasi dengan ayam bakar lengkap dengan tahu tempe serta buah dibandrol dengan harga Rp 20.000. Tapi, paket yang sama sekarang dihargai Rp30.000.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Resa (30). Wartegnya yang berada di Gambir juga sering menjadi langganan catering makan siang untuk rapat-rapat di Kementerian Perhubungan.
“Setelah pandemi Covid-19 enggak ada (pesan makan). Enggak ada rapat-rapat lagi. Dulu di Kemenhub sering banget. Sekali pesan 100 pax,” ucap Resa saat ditemui di wartegnya di Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2024).
Bahkan, Istana Negara juga pernah memesan makan siang di warteg Resa. Terutama untuk pekerja bongkar pasang tenda peringatan 17 Agustus.
“Dulu pesan 50 atau 100 paket. Semenjak pandemi Covid-19 sudah enggak ada,” lanjut Resa.
Fasiha dan Resa sedikit kecewa. Mereka pun tidak tahu kenapa sekarang instansi-intansi pemerintahan tidak lagi memesan kepada mereka. Padahal, pesanan jumlah besar yang datang dari instansi pemerintahan bisa membuat wartegnya mendapat keuntungan lebih di tengah kenaikan harga.
Kondisi saat ini, banyak pedagang warteg yang terpaksa tutup karena tidak sanggup membayar sewa dan besarnya biaya operasional.
Baik Fasiha dan Resa sama-sama mengeluhkan tingginya harga bahan-bahan pokok. Untuk beras 50 kg, mereka harus merogoh kocek antara Rp 650.000-700.000. Padahal, dulu harganya hanya Rp 550.000.
“Tadinya sempat Rp 850.000, pas El Nino itu. Ternyata El Nino sudah selesai, harga masih tetap tinggi,” lanjut Resa.
Belum lagi dengan harga gas dan sayur-mayur yang ikut melonjak tinggi. Termasuk, cabai merah yang saat ini bisa menyentuh Rp 90.000 per kg.
Pedagang berharap, pemerintah dapat segera menekan atau bahkan menurunkan harga bahan pokok.
Makan Bergizi Gratis Dikaji Rp 7.500 per Anak, Dapat Apa di Warteg?
Prabowo tengah mengkaji rencana agar biaya makan bergizi gratis bisa mencapai Rp 7.500 - Rp 9.000 per anak. Namun biaya tersebut, tidak cukup untuk membeli menu warteg lengkap di Jakarta. [561] url asal
#makan-bergizi-gratis #warteg #prabowo #update-me #warung-tegal-warteg #prabowo-subianto #stunting #kandungan-gizi #jakarta
(Katadata - FINANSIAL) 19/07/24 13:52
v/11304874/
Prabowo Subianto dikabarkan tengah mengkaji penurunan alokasi biaya program makan bergizi gratis berkisar Rp 9.000 - Rp 7.500 per anak. Padahal sebelumnya, Prabowo berencana mengalokasikan biaya hingga Rp 15.000 per anak.
Opsi ini dipilih karena anggaran yang dialokasi begitu terbatas. Karena untuk tahun pertama program ini, pemerintah hanya mengalokasikan dana Rp 71 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025.
Banyak pihak khawatir jika dana program ini dipangkas, maka tujuan untuk meningkatkan gizi dan mengatasi masalah stunting pada anak-anak di Indonesia akan sulit tercapai. Sebab, kandungan gizi makanan sulit terkecukupi jika dana terbatas.
Warteg yang Menjual Makanan Seharga Rp 7.500
Katadata.co.id pun menelusuri sejumlah warteg di Jakarta yang menjual menu makanan dari nasi, sayuran hingga lauk-pauk. Dari penulusaran yang dilakukan, penjual warteg bingung jika harus menjual makanan dengan porsi lengkap seharga Rp 7.500.
“Waduh kalau makanan Rp 7.500 kayaknya nggak bisa ini. Tapi ya paling dapat sedikit,” kata penjual Warteg Irfan Bahari, Depok, Nana, Jumat (19/7).
Meskipun begitu, Warteg Irfan Bahari itu bisa memberikan menjual makanan seharga Rp 7.500 berisi nasi dengan dua lauk yang porsinya cukup sedikit. Makanan tersebut berisi nasi, telur rebus, dan sayur labu.
Hal yang sama juga terjadi di warteg lainnya seperti warteg di Pasar Depen, Depok. Penjual di warteg Pasar Depen itu juga kesulitan jika harus menentukan makanan seharga Rp 7.500.
Akhirnya makanan yang bisa disuguhkan seharga Rp 7.500 masih bisa dengan dua lauk dengan seporsi nasi. “Paling cuma nasi, telur ceplok, sama sayur timunnya sedikit,” ucap Anto, penjual di warteg Pasar Depen.
Sementara itu, Warteg Bumi Cimanggis juga tidak pernah menjual lagi makanan seporsi di bawah Rp 10 ribu. Inah, penjual di Warteg Bumi Cimanggis mengatakan paling sedikit porsi yang bisa dijual seharga Rp 10 ribu.
“Kalau di bawah Rp 10 ribu paling ya lebih sedikit. Ini lauknya juga jadi sedikit pilihannya,” ujar Inah.
Inah akhirnya memberikan makanan seporsi Rp 7.500 dengan dua lauk dan nasi namun porsinya tidak sebanyak biasanya. Menu yang didapatkan nasi, sayur acar timun wortel, dan sayur tempe.
Tim Prabowo Masih Mengkaji
Sebelumnya, ekonom Verdhana Sekuritas, Heriyanto Irawan, membocorkan hasil pertemuannya dengan tim ekonomi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dengan sejumlah ekonom. Salah satunya terkait rencana untuk mengkaji alokasi makan bergizi gratis bisa di bawah Rp 15 ribu per anak.
Heriyanto menuturkan bahwa tim ekonomi Prabowo sudah menyetujui anggaran program tersebut sebesar Rp 71 triliun dalam RAPBN 2025. Dengan demikian, alokasi penggunaannya akan disesuaikan.
"Kemudian tugasnya presiden terpilih ke tim ekonomi itu memikirkan apakah biaya makanan per hari itu bisa diturunin menjadi lebih hemat dari Rp 15 ribu mungkin ke Rp 9 ribu, atau ke Rp 7.500 per anak?" kata Heriyanto dalam acara Market Outlook 2024 Mandiri Investasi, Selasa (16/7).
Rencana pemangkasan itu, kata Heriyanto, dilakukan agar program tersebut dapat dirasakan banyak orang. Heriyanto menilai pandangan Prabowo itu untuk mendorong programnya tetap berjalan meski anggaran terbatas Rp 71 triliun.
"Pemikiran beliau (Prabowo) itu adalah mendorong programnya dalam keterbatasan. Keterbatasan di dalam Rp 71 triliun, tidak kemudian mendorongnya ke Rp 200 triliun atau Rp 300 triliun," kata Heriyanto.
Untuk itu, Heriyanto menilai opsi pemangkasan anggaran yang dipilih Prabowo bukan sesuatu yang buruk. Heriyanto menilai pemerintahan ke depan berupaya memaksimalkan anggaran sebesar Rp 71 triliun.
Mau Buka Usaha Warteg, Butuh Duit Berapa?
Warung Tegal atau biasa disebut warteg telah menjadi tempat makan yang dekat dengan masyarakat. [425] url asal
(detikFinance - SolusiUKM) 12/05/24 14:00
v/11049210/
Jakarta - Warung Tegal atau biasa disebut warteg telah menjadi tempat makan yang dekat dengan masyarakat. Keberadaannya yang mudah ditemui serta harga yang relatif murah membuat masyarakat menjadikan warteg sebagai salah satu tempat makan favorit.
Berapa modalnya jika mau buka bisnis warteg?
Warteg Kharisma Bahari
Saat ini ada warteg yang bisa dibilang terkenal dengan brand Warteg Kharisma Bahari (WKB). Warteg tersebut menawarkan konsep yang lebih bersih dan modern.
Masyarakat pun kini berpeluang untuk membuka usaha warteg WKB dengan skema waralaba atau franchise. Marketing Support WKB Group Deddy Henggar mengatakan, biaya yang ditawarkan untuk franchise ini mulai dari Rp 160-200 juta untuk wilayah Jabodetabek.
"Dan dari harga kemitraan belum termasuk harga sewa kios," katanya kepada detikcom, pada 2023 lalu.
Biaya yang dikeluarkan tersebut sudah termasuk renovasi penuh dengan standar Warteg Kharisma Bahari. Kemudian, seluruh peralatan dan perabotan yang dibutuhkan. Sementara, untuk lokasi warteg bisa mencari sendiri atau dibantu dengan pihak WKB.
Lanjutnya, dengan modal segitu diperkirakan modal bisa kembali kurang lebih dua tahun. Bahkan, kata dia, modal bisa balik lebih cepat sampai satu tahun. "Balik lagi, lokasi atau tempat sangat menentukan," katanya.
Warteg New Bahari
Warteg New Bahari menawarkan kemitraan waralaba (franchise) dengan modal Rp 3 juta. Dengan Rp 3 juta, masyarakat yang bergabung akan mendapat free marketing tools, free sosmed management, free administration, dan fee monitoring business.
"Cuma memasarkan lah ibaratnya," kata Arsenal, salah satu penjaga stand Warteg New Bahari di The 21st International Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2023, ICE BSD Tangerang pada tahun lalu.
Bagi mereka yang membuka usaha ini, akan mendapatkan keuntungan sebesar 10% dari penjualan makanan. Makanan yang dipesan konsumen akan dipasok dari Warteg New Bahari. Keuntungan dari bisnis ini tergantung dari usaha memasarkan produk. Yang pasti, kata dia, keuntungan 10% ini sudah tidak dipotong lagi.
Selain itu, Warteg New Bahari menawarkan kemitraan seperti Warteg Express. Dalam event ini, biaya investasi yang ditawarkan sebesar Rp 75 juta di luar tempat. Sementara, biaya investasi normal Rp 125 juta.
Adapun Warteg Express untuk luas outlet 10-25 m2 dengan segmentasi kantin kantor, apartemen, lokasi wisata, taman, sekolah dan kampus. Dengan biaya tersebut akan mendapat 15 menu standar.
Kemudian, ada juga kemitraan Warteg Konvensional yang ditawarkan sebesar Rp 140 juta pada event ini. Sementara, biaya investasi normalnya sebesar Rp 190 juta. Untuk Warteg Konvensional luas outletnya 25-50m2 untuk segmentasi rumah sakit, pemukiman, pasar, kampus dan area komersial. Mereka yang berminat akan mendapat 30 menu standar.
Lalu, ada juga Warteg Modern yang ditawarkan dengan biaya investasi Rp 180 juta di event ini. Untuk biaya investasi normalnya sebesar Rp 230 juta.
(fdl/fdl)


