Yang Dilakukan Nabi Muhammad Kepada Pemakinya Hingga Buat itu Orang Syahadat

Yang Dilakukan Nabi Muhammad Kepada Pemakinya Hingga Buat itu Orang Syahadat

Nabi Muhammad selalu berbuat baik, meski kepada musuhnya.

(Republika) 21/07/24 09:42 11524178

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengingat dan menghayati kearifan Nabi Muhammad SAW akan membuat hati terenyuh, hingga meneteskan air mata. Betapa tidak, pribadi yang jauh dari kehidupan glamor, hidup apa adanya, gemar membantu orang, selalu memikirkan kehidupan orang lain meski dirinya hidup seadanya.

Bahkan dalam keadaannya yang tidak kaya harta, Nabi Muhammad justru memikirkan \'musuh\'-nya, yaitu seorang tua buta Yahudi di Madinah, dekat Masjid Nabawi.

Setiap hari putra Abdullah itu selalu menyuapkan makanan ke mulut si tua bangka. Saat itu pula itu si orang tua terus mencaci Nabi Muhammad. Jangan dekati Muhammad, hindari Muhammad, Muhammad begini...begini...begini....terus dia ucapkan demikian karena hatinya penuh dengan kebencian sangat kepada orang yang paling mulia di alam semesta ini.

Namun segala cacian itu tidak membuat Sang Nabi marah. Hatinya sama sekali tak tergores luka. Mungkin keadaan ini merupakan imbas dari perjalanan Isra dan Miraj-nya yang dijelaskan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dalam syair Maulid Simthud Durornya:

وَ زَادُوْاهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ فِيْ قَلْبِهِ وَ هُوَ مَعَ ذَالِكَ فِي قُوةٍ وَ ثَبَات

Sesungguhnya para malaikat menambahkan kesucian demi kesucian ke dalam hati Nabi Muhammad, sehingga dia semakin kuat dan tetap pada pendiriannya.

Dengan begitu, tangan Nabi Muhammad ringan saja menyuapkan makanan ke mulut si orang tua. Wajahnya tetap saja tersenyum ketika mendengarkan segala cacian dari mulut busuk si orang tua itu.

Hingga suatu ketika, Nabi mengucapkan khotbah wada, sakit, dan tutup usia. Dunia berduka ketika itu. Makkah dan Madinah dipenuhi tangisan mereka-mereka yang saat itu sudah menjauhi berhala dan berketetapan mengimani tauhidullah.

Kesedihan itu sangat dirasakan oleh para sahabat dan orang dekat Nabi Muhammad. Mereka mengetahui apa saja kebaikan yang biasa diamalkan sang Nabi, salah satunya adalah memberi makan orang tua. Kebiasaan ini pun dilanjutkan Sayidina Abu Bakar yang selalu berkata jujur as-Shiddiq.

Bapak Aisyah itu pun menyuapi makanan ke mulut orang tua tersebut. Namun orang tua itu menolaknya. Siapa kamu, kamu bukanlah orang yang biasa menyuapi saya.

Lihat halaman berikutnya >>>

Namun Abu Bakar terus memaksakan diri menyuapkan makanan kepada orang itu. Dan terus saja ditolak si orang tua. Hingga akhirnya Abu Bakar tak kuasa menahan diri, kemudian mengatakan, wahai orang tua, orang yang selama ini menyuapkan makanan ke mulutmu, tiada lain adalah orang yang selama ini kamu caci maki, dia adalah Nabi Muhammad, orang yang kami cintai. Kami meneruskan kebaikannya memberi makanmu agar kami selalu mengenang kebaikannya, karena Muhammad kini sudah wafat meninggalkan kita semua.

Mendengar perkataan itu, si orang tua yang biasanya mencaci maki nabi, mendadak terdiam, lalu menangis, karena tidak menyangka orang yang selama ini berbuat baik adalah justru yang dia jelekkan, yang dia fitnah. Dalam keadaan itu, dia pun tak lagi sempat memohonkan maaf Nabi Muhammad, meski sang nabi sudah memaklumi keadaan si orang tua itu.

Dalam keadaan demikian, si orang tua memutuskan bersyahadat, mengimani Islam, hingga akhirnya tutup usia dalam keadaan Islam.

Sungguh Allah mahamembolak-balikkan hati hamba-Nya, dari yang semula kafir, diganti menjadi beriman.

Sungguh mulia hati Nabi Muhammad yang sangat penyabar dan selalu berbuat baik, meskipun kepada \'musuh\'nya.

#nabi-muhammad #orang-yahudi #akhlak-nabi-muhammad #nabi-muhammad-menghadapi-orang-yang-mencacinya

https://khazanah.republika.co.id/berita/sgycvj451/yang-dilakukan-nabi-muhammad-kepada-pemakinya-hingga-buat-itu-orang-syahadat