Seberapa Sering BAB Pengaruhi Kesehatan Seseorang, Studi Ungkap

Seberapa Sering BAB Pengaruhi Kesehatan Seseorang, Studi Ungkap

Frekuensi buang air besar ternyata bisa menjadi tanda sekaligus mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang lho! Halaman all

(Kompas.com) 21/07/24 12:37 11540232

KOMPAS.com - Sebuah studi baru mengungkapkan frekuensi buang air besar secara signifikan dapat memengaruhi fisiologi dan kesehatan jangka panjang seseorang.

Penulis senior Sean Gibbons dari Institute for Systems Biology menyebut penelitian ini akan memberikan wawasan terhadap potensi risiko jika tidak mengatur frekuensi buang air besar.

Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (18/7/2024) dalam studi ini, tim peneliti mengumpulkan data klinis, gaya hidup, dan biologis--termasuk kimia darah, mikrobioma usus, genetika, dan lain-lain--lebih dari 1.400 sukarelawan dewasa sehat yang tidak memiliki tanda-tanda penyakit aktif.

Frekuensi BAB yang dilaporkan para peserta dikategorikan menjadi empat kelompok: sembelit (satu atau dua kali BAB per minggu), rendah-normal (3 hingga 6 kali seminggu), tinggi-normal (satu hingga 3 kali sehari), dan diare.

Ketika BAB terlalu lama berada di dalam usus, mikroba akan menghabiskan serat yang tersedia daripada memfermentasi protein sehingga proses tersebut menghasilkan racun seperti p-cresol sulfate dan indoxyl sulfate.

"Apa yang kami temukan adalah bahkan pada orang sehat yang mengalami konstipasi, terdapat peningkatan racun dalam aliran darah,” kata Gibbons.

Racun ini juga sangat membebani ginjal.

Sementara dalam kasus diare, tim menemukan adanya peradangan dan kerusakan hati. Gibbons menjelaskan selama diare, tubuh mengeluarkan asam empedu berlebihan yang seharusnya didaur ulang oleh hati untuk melarutkan dan menyerap lemak makanan.

Dari situ peneliti kemudian menyimpulkan bahwa waktu optimal untuk buang air besar adalah satu hingga dua kali sehari.

Melansir Gizmodo, tim peneliti menemukan orang yang BAB sekali hingga dua kali sehari cenderung memiliki tingkat penumpukan racun yang rendah.

Mereka tampaknya juga memiliki lebih sedikit tanda-tanda peradangan dan kesehatan hati secara umum lebih baik.

Temuan ini menunjukkan frekuensi BAB dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang serius di kemudian hari.

Namun Gibbons memperingatkan bahwa masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan apakah hal ini benar adanya.

Kendati demikian, peneliti menemukan bahwa orang-orang dalam penelitian yang makan lebih banyak buah dan sayuran cenderung memiliki waktu BAB yang lebih baik.

"Anda dapat menjaga frekuensi BAB yang sehat dengan pola makan, hidrasi yang lebih baik, dan olah raga," tambah Gibbons.

Studi dipublikasikan di Cell Reports Medicine.

#sembelit #bab #seberapa-sering-bab-pengaruhi-kesehatan

https://www.kompas.com/sains/read/2024/07/21/123700823/seberapa-sering-bab-pengaruhi-kesehatan-seseorang-studi-ungkap