Studi Aroma Jelaskan Mengapa Makanan Terasa Tak Enak di Luar Angkasa
Studi ini berguna untuk misi luar angkasa jangka panjang Halaman all
(Kompas.com) 22/07/24 14:00 11668970
KOMPAS.com - Para ilmuwan dari Universitas RMIT melakukan penelitian pertama di dunia tentang aroma makanan yang umum.
Studi mengenai aroma makanan ini dapat membantu menjelaskan mengapa para astronot yang mereka makan di luar angkasa terasa hambar sehingga kesulitan mendapatkan asupan nutrisi normal.
Tapi tidak hanya itu saja, seperti dikutip dari Phys, Rabu (17/7/2024) studi memiliki implikasi yang lebih luas dalam memperbaiki pola makan dengan mempersonalisasi aroma untuk meningkatkan cita rasa makanan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa aroma berperan besar dalam cita rasa makanan.
Dalam studi, tim dalam penelitian ini menguji bagaimana persepsi orang terhadap ekstrak vanila dan almond serta bagaimana minyak esensial lemon berubah dari lingkungan normal di Bumi ke lingkungan terbatas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang disimulasikan untuk peserta dengan kacamata realitas virtual.
Hal yang luar biasa dari penggunaan VR ini adalah penelitian benar-benar memberikan simulasi pengalaman berada di stasiun luar angkasa. Dan studi juga benar-benar mengubah cara mencium sesuatu dan bagaimana merasakan sesuatu.
Lebih lanjut, peneliti utama Julia Low dari School of Science mengatakan aroma vanilla dan almond lebih kuat di lingkungan simulasi ISS, sedangkan aroma lemon tetap tidak berubah.
Tim menemukan bahwa bahan kimia manis tertentu dalam aroma vanilla dan almond yang disebut benzaldehida dapat menjelaskan perubahan persepsi, selain kepekaan individu terhadap bau tertentu.
“Rasa kesepian dan isolasi yang lebih besar mungkin juga berperan dan ada implikasi dari penelitian ini mengenai bagaimana orang-orang yang terisolasi mencium serta merasakan makanan,” kata Low.
Ini juga merupakan penelitian pertama yang melibatkan ukuran sampel besar yakni 54 orang dewasa.
Studi menangkap variasi pengalaman pribadi individu mengenai aroma dan rasa di lingkungan terisolasi.
“Salah satu tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk membuat makanan yang lebih disesuaikan untuk para astronot, serta orang lain yang berada di lingkungan terisolasi, untuk meningkatkan asupan nutrisi mereka mendekati 100%,” kata Low.
Low menjelaskan pula bahwa persepsi spasial memainkan peran penting dalam cara orang mencium aroma. Hal ini melengkapi hasil penelitian lain mengenai topik pengalaman makan astronot di luar angkasa, termasuk fenomena perpindahan cairan.
Keadaan tanpa bobot menyebabkan cairan berpindah dari tubuh bagian bawah ke bagian atas, sehingga menimbulkan pembengkakan pada wajah dan hidung tersumbat yang memengaruhi indera penciuman dan rasa.
Gejala-gejala tersebut biasanya mulai hilang dalam beberapa minggu setelah berada di stasiun luar angkasa.
“Astronot masih belum menikmati makanan mereka bahkan setelah efek perpindahan cairan telah hilang, hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dari ini,” kata Low.
Mantan instruktur astronot dan rekan peneliti Gail Iles dari RMIT mengatakan meskipun rencana diet dirancang dengan cermat, jika astronot tidak merasakan makanannya, itu dapat berimbas pada pemenuhan kebutuhan nutrisi yang berbahaya untuk misi jangka panjang.
“Apa yang akan kita lihat di masa depan dengan misi Artemis adalah misi yang jauh lebih lama, bertahun-tahun, terutama ketika kita pergi ke Mars, jadi kita benar-benar perlu memahami masalah pola makan dan makanan serta bagaimana kru berinteraksi dengan makanan mereka." katanya.
Penelitian dipublikasikan di International Journal of Food Science and Technology.
#makanan #astronot #luar-angkasa #makanan-terasa-tak-enak-di-luar-angkasa