3 Tantangan Petani Kakao Indonesia, Sulit Mencari Mitra Bisnis

3 Tantangan Petani Kakao Indonesia, Sulit Mencari Mitra Bisnis

Turunnya produksi kakao Indonesia tak lepas dari produktivitas petani kakao. Sebab, pengerjaannya memang tak mudah. Halaman all

(Kompas.com) 29/07/24 16:31 12546084

KOMPAS.com - Pohon kakao bisa dipanen usai tiga tahun ditanam. Setelahnya, hasil tanam kakao dapat dipanen dua kali dalam setahun.

Indonesia sempat menjadi penghasil kakao terbesar di dunia. Namun, jumlah produksi komoditas ini kian menurun dari tahun ke tahun.

Dari tiga terbesar negara penghasil kakao terbesar di dunia, kini turun menjadi peringkat ketujuh.

Turunnya produksi kakao Indonesia tak lepas dari produktivitas petani kakao. Sebab, pengerjaannya memang tak mudah.

Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, pendamping Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) Jembrana Bali, menyampaikan, setidaknya ada tiga tantangan utama bagi petani kakao dalam menghasilkan produksi bahan baku cokelat yang berkualitas.

1. Sulit mencari mitra bisnis yang peduli proses tanam

Agung yang juga seorang petani kakao, menggambarkan sulitnya produksi kakao berkualitas di Indonesia.

Proses tanam, panen, hingga pascapanen berjalan cukup panjang. Sayangnya, tahapan ini jarang dihargai banyak orang.

Alhasil, sering kali terjadi proses tawar-menawar dalam menentukan harga jual kakao yang menyulitkan petani.

"Kami, sebagai petani dan koperasi kakao, betul-betul mencari partner yang menghargai proses itu dan tidak mudah," kata Agung saat ditemui Kompas.com usai pembukaan pabrik Pipiltin Gunung Sindur, Bogor pada Kamis (26/7/2024).

2. Menghasilkan kakao berkualitas

Menurut Agung, tidak semua petani tahu dan paham soal tingginya nilai kakao yang dihasilkan.

SHUTTERSTOCK/AMMIT JACK Ilustrasi kakao, buah kakao, pohon kakao.

Padahal, kuantitas bukan menjadi satu-satunya fokus produksi kakao secara menyeluruh, melainkan kualitasnya.

Kualitas kakao bisa didapat dari proses pascapanen yang saat ini terbagi menjadi dua, yakni nonfermentasi dan fermentasi.

"Dari segi pascapanen, buat menghasilkan kakao berkualitas itu mesti difermentasi selama enam sampai tujuh hari," jelas Agung.

"Value-nya ada di sana. Nilai tambah kakao berkualitas asalnya dari sana dan itu yang kami jual," tambah dia.

Harga jual kakao berkualitas atau fermentasi tentu berbeda dengan produksi kakao biasa.

Jadi, Agung menuturkan, bila saja petani paham cara menghasilkan kakao berkualitas, harga yang ditawarkan pun bisa lebih premium, lebih mahal daripada harga kakao biasa.

3. Naik-turunnya harga kakao

Sama halnya dengan komoditas lain, petani juga mengalami naik-turun harga kakao. Harga kakao saat ini, per 2024, tercatat mengalami kenaikan tertinggi selama 10 tahun terakhir, seperti disampaikan Agung.

Kompas.com/Krisda Tiofani Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, pendamping Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) Jembrana Bali.

Meski petani merasa bahagia dengan kenaikan harga kakao, di sisi lain, petani perlu pintar-pintar mengatur kerja sama dengan mitra saat hal ini terjadi.

"Harga kakao saat ini sangat mahal. Sekitar dua bulan lalu, harga kakao naik dua hingga tiga kali lipat daripada tahun lalu," ungkap Agung.

"Kami menyampaikan kepada mitra chocolate maker lokal pertama, Pipiltin Cocoa, dan berhasil mempertahankan kerja sama dengan mengirimkan kakao yang terhitung sudah tiga kali dalam tahun ini," lanjutnya.

#tantangan-petani-kakao #penghasil-kakao-terbesar-di-dunia #berapa-kali-kakao-panen-dalam-setahun #harga-kakao #antangan-petani-kakao-indonesia

https://www.kompas.com/food/read/2024/07/29/163100675/3-tantangan-petani-kakao-indonesia-sulit-mencari-mitra-bisnis-