Gerakan "Stop" Boros Pangan Diyakini Bisa Bikin RI Bebas Impor
Bapanas sebut ada 30 persen pangan yang hilang akibat terbuangnya makanan.
(Kompas.com) 29/07/24 14:43 12550173
JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) meyakini Program Gerakan Stop Boros Pangan bisa membuat Indonesia bebas dari impor pangan.
Dia mengungkapkan, berdasarkan data BPS dan organisasi pangan dunia, ada sebanyak 30 persen pangan yang hilang akibat terbuangnya makanan. Angka itu dinilai setara dengan memberikan makanan kepada 60-120 juta jiwa penduduk.
“Kalau kita berhemat boros pangan misalnya 20-30 persen yang terbuang, Insha Allah bisa berhemat 6 juta ton. Kalau kita bisa hemat 20 persen saja maka impor tidak perlu dilakukan,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Ketahanan Pangan 2025 di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2024).
Saat ini, pemerintah kembali menambah jumlah kuota impor beras dari sebelumnya hanya 2 juta ton, tetapi ditambah lagi sebanyak 1,6 juta ton. Dengan tambahan itu, impor beras capai 3,6 juta ton pada 2024.
Sementara jumlah total impor beras yang masuk sudah mencapai 2,2 juta ton yang didominasi beras dari Thailand dan Vietnam.
Tak hanya beras, ada beragam impor pangan yang dilakukan pemerintah yakni bawang putih, jagung, dan kedelai.
Adapun Bapanas aktif untuk menyosialisaiskan Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) melalui kegiatan Stop Boros Pangan. Hal itu sebagai upaya pencegahan food waste (sisa pangan) serta perubahan perilaku masyarakat.
Bapanas menggencarkan sosialisasi Stop Boros Pangan melalui tulisan, konten video kreasi, hingga inovasi pengolahan pangan berlebih menjadi varian menu baru sebagai upaya menarik anak-anak muda untuk bisa bergerak mendukung upaya itu.