3 Fakta Mengejutkan Simpanse, dari Penghasut Perang dan Suka Daging
Fakta yang mungkin belum banyak diketahui tentang kerabat manusia ini. Halaman all
(Kompas.com) 30/07/24 09:35 12625254
KOMPAS.com -Simpanse merupakan primata yang berkerabat dengan manusia. Simpanse dan manusia memiliki DNA yang sama yaitu 98,8 persen.
Tapi selain itu masih adakah fakta lain mengenai simpanse yang tak banyak diketahui? Berikut 3 di antaranya seperti dikutip dari IFL Science.
Penghasut perang
Manusia bukan satu-satunya hewan yang berperang melawan spesiesnya sendiri. Antara tahun 1974 hingga 1978, perang brutal antara dua kelompok simpanse didokumentasikan di Taman Nasional Gombe Tanzania oleh ahli primata terkenal Jane Goodall.
Setelah kematian pejantan alfa bernama Mike, Goodall melihat kawanan itu terpecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok Kasakela dan Kahama.
Perang tersebut ditandai oleh serangkaian brutal dan terkoordinasi oleh kelompok Kasakela, yang mengakibatkan pembunuhan sistematis terhadap semua anggota jantan dan beberapa betina dari kelompok Kahama.
Kahama secara efektif dibasmi, yang memungkinkan Kasakela untuk memperluas wilayah mereka.
Perang tersebut kemudian dikenal sebagai Perang Simpanse Gombe dan meninggalkan dampak yang mendalam pada Goodall.
“Sering kali ketika saya terbangun di malam hari, gambaran mengerikan dari perang itu muncul tanpa diundang di benak saya," tulis Goodall dalam memoarnya.
Dalam perang yang mengerikan itu, Goodall menyaksikan perilaku simpanse yang tidak dibayangkan sebelumnya seperti meminum darah, menyerang dan memukul lawannya dengan brutal.
Pada tahun 2023 yang lalu, ilmuwan juga mendokumentasikan simpanse di Pantai Gading yang memata-matai kawanan lawan mereka. Kelompok simpanse itu dengan hati-hati bergerak ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik dan mengumpulkan informasi.
Hal ini menurut peneliti pada dasarnya merupakan taktik perang manusia yang sudah ada sejak lama. Ahli berpendapat bahwa perilaku seperti perang di antara simpanse ini dapat memberikan wawasan tentang asal usul evolusi kekerasan terorganisasi pada manusia.
Suka berburu dan makan daging
Simpanse biasanya memakan buah-buahan, akar-akaran, kacang-kacangan, daun-daunan, tanaman, bunga, dan serangga, tetapi daging merupakan bagian kecil dari makanan mereka di alam liar.
Untuk mendapatkan makanan lezat yang kaya protein ini, mamalia yang lebih kecil seperti monyet biasanya menjadi sasaran.
Sekali lagi, Goodall adalah salah satu peneliti pertama yang secara ilmiah mendokumentasikan simpanse yang berperilaku seperti karnivora.
Perilaku yang sangat aneh diamati di Taman Nasional Gombe, tempat para peneliti melihat simpanse memburu dan memakan lusinan bayi monyet colobus merah.
Sambil saling bergiliran dan berbagi hasil tangkapan, simpanse terlihat menggigit tengkorak monyet dan menyantap otaknya. Pada beberapa kesempatan, simpanse bahkan menggunakan ranting dan daun untuk membersihkan bagian terakhir otak.
Dalam contoh lain, para peneliti bahkan mengamati simpanse menggunakan tombak untuk memburu bayi monyet semak yang sedang tidur di Senegal.
Para ilmuwan telah merenungkan apakah perilaku berburu simpanse dapat menjelaskan evolusi awal manusia, serta selera kita terhadap daging.
Simpanse pada dasarnya adalah ilmuwan kecil
Dunia simpanse tidak hanya tentang darah, isi perut, dan kekerasan. Sejumlah besar bukti juga menunjukkan bahwa simpanse mampu menunjukkan kekuatan kognitif dan kecerdasan emosional yang luar biasa.
Pertama, simpanse diketahui secara aktif mencari tanaman obat saat mereka sakit atau terluka.
Sebuah studi pada tahun 2024 mencatat bagaimana simpanse yang terluka dan sakit di Cagar Hutan Budongo Central di Uganda akan memakan tanaman yang memiliki sifat antiperadangan atau secara alami mengandung penghambat patogen yang sangat kuat seperti E. coli.
Demikian pula, simpanse terlihat mengoleskan serangga yang diremas ke luka mereka.
Meskipun manfaat pengobatan dari serangga yang diremas tidak diketahui, serangga secara historis telah digunakan untuk tujuan terapeutik oleh manusia sejak 1400 SM dan terus digunakan di beberapa bagian dunia hingga saat ini.