Tak Ada Nama Kakek Habib Lutfhi Bin Yahya dalam Dokumen Resmi Pendirian NU
Kakek Habib Luthfi bin Yahya diklaim sebagai salah satu pendiri NU
(Republika) 31/07/24 17:09 12762304
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Munculnya polemik Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, menuai pro dan kontra.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya.
Republika.co.id, mendapatkan sejumlah dokumentasi resmi dalam pendirian NU. Salah satunya adalah Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama, yang diterbitkan pada 1926.
Dokumentasi ini menjadi legal formal organisasi pada masa penjajahan Belanda, mengungkap daftar para pengurus pertama yang NU. Dalam dokumentasi tersebut tak ditemukan kakek Habib Lutfhi.
Dalam ejaan lama, berikut ini daftar nama pengurus NU sekaligus tokoh yang menjadi pengurus pertama NU:
Kjahi Hadji Moehammad Hasjim bin Asj\'ari (Rois)
Kjahi Haji Sa\'id bin Saleh (Wakiloerrois)
Kjahi Haji Mas Alwi bin Abdul Aziz (katib)
Kjahi Abdullah bin Ali (A\'wan)
Haji Hasan Gipo (President)
Haji Ahdjzab (Vice President)
Haji Ihsan (Kassier)
Moehammad Sadiq alias Soegeng Yudhadhiwirya (Secretaris)
Haji Saleh Samil (Commissaris)
Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus...
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As\'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
Baca juga: Salam Hormat Rifda Irfanaluthfi, Kamu Pemenang Sejati!
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
#nahdlatul-ulama #buku-sejarah-nu #buku-penyimpangan-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-habib #na