#30 tag 24jam
5 Hal dari Pro Kontra Nasab Ba Alawi Muara Keturunan Habib Ini Sudah Keterlaluan
Pro kontra nasab habaib di Indonesia telah melampaui batas [875] url asal
#nasab-habib #pro-kontra-nasab-habib #polemik-nasab-habib #nasab-habib-tidak-sambung #nasab-habib-terputus #ba-alawi #nasab-ba-alawi #nasab-ba-alawi-terputus #nasab-habaib
(Republika - Khazanah) 11/08/24 17:31
v/14193676/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mengikuti polemik tersambung atau tidaknya nasab Ba Alawi yang menjadi muara garis keturunan habib di Indonesia dengan Rasulullah SAW, memunculkan kesimpulan tentang hal-hal yang sudah kelewatan, dari kedua belah pihak.
Padahal, sudah sepatutnya, dalam tradisi keilmuan Islam, mesti disertai dengan adab, akhlak, dan amanah ilmiyah. Republika.co.id, mencatat setidaknya ada lima hal yang sudah kelewatan dari pro kontra nasab habaib, yaitu sebagai berikut:
Pertama, hilangnya sikap adil dalam berpikir dan bersikap, sebagai ciri utama pengkaji ilmu. Kedua belah saling merasa dirinya benar. Satu hal yang sangat tidak dianjurkan dalam tradisi keilmuan Islam. Imam asy-Syafii pernah menuturkan demikian:
رأيى صواب يحتمل الخطأ، ورأى غيرى خطأ يحتمل الصواب
“Pendapatku benar namun mungkin saja salah, tetapi pendapat orang lain salah, dan bisa jadi benar.”
Kedua, terlalu berlebihan membanggakan nasab
Tak ada yang istimewa dari nasab. Nasab tidak akan menyelamatkan seseorang dari api neraka atau mengantarkannya dengan mudah menuju surga. Tak sedikit dari oknum habib yang merendahkan nasab orang lain sembari meninggikan dan mensucikan nasabnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, -hanyasanya nenek moyang mereka adalah arang neraka Jahannam- atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya, sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah." (HR Tirmidzi).
Dalam Sunan al-kubra, Imam al-Bukhari menukilkan riwayat tengan nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah agar tidak membanggakan nasab.
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا
Artinya: “Wahai golongan orang Quraisy! Peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Bani Abdi Manaf! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah kepadaku apa saja yang kamu mau (dari hartaku), sungguh aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah.” (HR Bukhari dalam Sunan al-Kubra).
Baca juga: Jubir Al-Qassam Abu Ubaidah: Yahya Sinwar Resmi Dibaiat, Bukti Hamas Kuat Semakin Solid
Ketiga, hilangnya adab dan munculnya saling membenci. Kedua belah pihak saling membenci satu sama lain. Kebencian ini bahkan melibatkan para muhibbin (pecinta) masing-masing. Fenomena ini sangat bahaya jika diteruskan, bisa merusak persaudaraan umat Muslim.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim)
Keempat...
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang.
Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Baca juga:11 Kondisi Sebenarnya Perekonomian Israel Akibat Perangi Gaza yang Ditutup-tutupi
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silakan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
PCNU Tegal Respons Buku Sejarah Sebut Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pendiri NU
Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an picu polemik [499] url asal
#kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-habib #buku-sejarah-nu #buku-penyimpangan-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pendiri-nahdltul-ulama #nahdlatul-ulama
(Republika - Khazanah) 01/08/24 16:46
v/12890936/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, mengklarifikasi beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang memicu polemic.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya.
Sekretaris PCNU Kabupaten Tegal, KH Ahmad Saiful Bahri, menjelaskan buku tersebut sebenarnya sudah beredar enam tahun lalu, sejak kepemimpinan sebelumnya, periode 2016-2021. Jauh hari, sebelum polemik ini mencuat, pihaknya telah menyikapinya dengan menyiapkan tim khusus pengkajian.
Dia mengatakan, buku tersebut selama ini beredar untuk kalangan internal, terutama di lembaga pendidikan NU Wilayah Kabupaten Tegal. Buku tersebut disusun RMI NU Kabupaten Tegal. Dua penulis utamanya, sudah meninggal dunia.
Kendati demikian, pihaknya tetap menelusuri buku tersebut melalui pengurus yang masih hidup.
Terkait peredaran buku itu sendiri, Kiai Saiful menyatakan, pihaknya telah menjalankan instruksi LP Ma’arif NU untuk menarik buku tersebut dari peredaran. “Kita sudah teruskan sudah jelas intruksi penarikan, sudah teruskan ke Ma’arif dann PCNU Tegal,” kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (1/8/2024).
Sebelumnya Lembaga Pendidikan Ma'arif...
Begitu KH Hasyim Asy’ari duduk, Habib Hasyim langsung berkata, ”Kiai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Aswaja. Saya rela (rida), tapi tolong nama saya jangan ditulis.” Itu wasiat Habib Hasyim. Kiai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas.
Kemudian Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Kholil berkata kepada Kiai Hasyim Asy’ari, “Laksanakan apa niatmu. Saya rida seperti ridanya Habib Hasyim.Tapi, saya juga minta tolong nama saya jangan ditulis.”
Kiai Hasyim agak bingung. Bagaimana ini, kok tidak mau ditulis namanya semua. Terus Mbah Kiai Kholil menimpali Kiai Hasyim. “Kalau mau ditulis silakan tapi sedikit saja.” Itulah wujud tawadunya Mbah Kiai Muhammad Kholil Bangkalan.
Sejarah di atas disampaikan oleh yang Mulia Maulana Al-Habib Luthfi bin Yahya (Rais ‘Aam Jam’iyah Alu Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdiyah pda Harlah Nu di Kota Pekalongan pada 2010. Sejarah ini juga ikut dicatat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Dalam buku ini lalu diberikan keterangan bahwa sejarah tersebut tetap dicantumkan meskipun Habib Hasyim bin Yahya mungkin tidak terlalu berkenan. Tim penulis beralasan jika sejarah semacam ini tidak akan ditemukan lagi di kemudian hari.
Bentuk tim
Untuk merespons ini, PBNU telah memerintahkan kepada lembaga pendidikan Ma'arif dan Rabithah Ma'ahid Al Islamiyah atau asosiasi pesantren-pesantren, untuk melakukan penelitian menyeluruh terhadap laporan adanya upaya penyimpangan atau membuat narasi yang menyimpang tentang sejarah berdirinya NU
Menurut Gus Yahya, sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf, narasi-narasi menyimpang itu tidak sesuai dengan sejarah berdirinya NU yang sesungguhnya. Dia menginstruksikan pencabutan buku menyimpang itu dari peredaran.
Buku tersebut tidak boleh dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan NU sebab bukan hanya mengaburkan, melainkan menyimpangkan dari sejarah berdirinya NU.
"Apabila ditemukan buku-buku atau bahan ajar yang seperti itu, ini harus dicabut, harus ditarik dari peredaran,” tutur Gus Yahya.
Tak Ada Nama Kakek Habib Lutfhi Bin Yahya dalam Dokumen Resmi Pendirian NU
Kakek Habib Luthfi bin Yahya diklaim sebagai salah satu pendiri NU [507] url asal
#nahdlatul-ulama #buku-sejarah-nu #buku-penyimpangan-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-habib #na
(Republika - Khazanah) 31/07/24 17:09
v/12762304/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Munculnya polemik Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, menuai pro dan kontra.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya.
Republika.co.id, mendapatkan sejumlah dokumentasi resmi dalam pendirian NU. Salah satunya adalah Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama, yang diterbitkan pada 1926.
Dokumentasi ini menjadi legal formal organisasi pada masa penjajahan Belanda, mengungkap daftar para pengurus pertama yang NU. Dalam dokumentasi tersebut tak ditemukan kakek Habib Lutfhi.
Dalam ejaan lama, berikut ini daftar nama pengurus NU sekaligus tokoh yang menjadi pengurus pertama NU:
Kjahi Hadji Moehammad Hasjim bin Asj'ari (Rois)
Kjahi Haji Sa'id bin Saleh (Wakiloerrois)
Kjahi Haji Mas Alwi bin Abdul Aziz (katib)
Kjahi Abdullah bin Ali (A'wan)
Haji Hasan Gipo (President)
Haji Ahdjzab (Vice President)
Haji Ihsan (Kassier)
Moehammad Sadiq alias Soegeng Yudhadhiwirya (Secretaris)
Haji Saleh Samil (Commissaris)
Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus...
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
Baca juga: Salam Hormat Rifda Irfanaluthfi, Kamu Pemenang Sejati!
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Habib Hasyim Bin Yahya Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pernah Dididik Oleh Nabi Khidir
Habib Hasyim bin Yahya merupakan sosok yang alim [805] url asal
#hasyim-bin-yahya #buku-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalongan #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-habib #buku-penyimpangan-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu
(Republika - Khazanah) 31/07/24 07:07
v/12712448/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Habib Hasyim bin Yahya, kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan dikenal sebagai sosok alim juga mempunyai karamah.
M Abdullah Badri dikutip dari laman BSP Radio Pekalongan menyampaikan sejumlah karamah Habib Hasyim. Abdullah mengutip penuturan Habib Luthfi bin Yahya, didengar langsung oleh penulis dari murid khalifah thariqah beliau di Jepara, KH Masduki Ridlwan di rumahnya Sowan, Kedung, Jepara pada Sabtu Malam – Ahad Pahing (2 Maret 2019) usai Isya’. Saksi penuturan kisah ini adalah ibu penulis dan salah satu Pengurus Pusat MATAN, Syukron Makmun (Bugel).
Dalam penuturannya, Abdullah menjelaskan di antara karamah Habib Hasyim adalah di usia 6 tahun, kakek Abah Luthfi tersebut pernah diambil oleh Nabi Khidzir dari abahnya, Habib Umar bin Yahya, selama 9 tahun, untuk dididik dan dibersihkan hatinya. Beliau kembali saat usia 15 tahun dan melanjutkan studi di Yaman.
Usai dari Yaman, Habib Hasyim kemudian diperintah abahnya nyantri kepada KH. Sholeh Darat di Kampung Darat Semarang. Syaratnya, ia tidak boleh mengenalkan diri sebagai putra Habib Umar bin Yahya (guru KH. Sholeh Darat), dan tidak boleh menggunakan fam sâdat “bin Yahya” di belakangnya.
Saat mendaftar menjadi santri KH Sholeh Darat pun, Habib Umar tidak mengantarkan langsung putranya itu. Akibatnya, Kiai Sholeh tidak mengetahui siapa sebetulnya santri barunya itu.
Habib Hasyim remaja kemudian diperlakukan seperti santri biasa, yang tidur di lantai, memasak, ngaji, rokan, bersama-sama santri lainnya. Kiai Sholeh juga biasa memerintah Habib Hasyim untuk keperluan pondok dan ndalem, seperti santri lainnya juga.
Suatu kali, Kiai Sholeh Darat mendengar ada seorang habib muda di Pekalongan, yang dikabarkan memiliki kealiman dan karamah bernama Hasyim.
Dari Semarang, Mbah Sholeh Darat naik kereta sampai ke stasiun Pekalongan. Oleh Habib Hasyim, Mbah Sholeh Darat dijemput dengan andong kuda yang disopiri muridnya tersebut, yang juga dimohon mampir ke rumahnya terlebih dulu. “Mampir ke rumah saya kiai,” demikian pinta Habib Hasyim kepada gurunya.
BACA JUGA:Dampak Foto dengan Presiden Israel, Nurul: Tiap Hari Terlintas untuk Mengakhiri Hidup Saya
Tamu di rumah Habib Hasyim ternyata sesak dipenuhi para tamu yang memanggilnya dengan sebutan “ndoro”. Mbah Sholeh Darat pun baru mengetahui kalau rumah tersebut dikenalnya sebagai ndalem guru beliau, Habib Umar bin Hasan bin Toha bin Yahya. Betapa kagetnya beliau.
“Hasyim, kamu putranya Ndoro Umar kah?”
“Betul, kiai,” jawab Habib Hasyim.
“Mengapa dari dulu kamu tidak memberitahu?”
“Kalau saya beri tahu, jenengan pasti akan membelikan kasur,” jawabnya.
Sejak itulah KH Sholeh Darat mengetahui kalau muridnya adalah putra sang guru, — minal gawagis (bagian dari gus) istilah sekarang.
Demi menjaga keikhlasan menjadi murid ngaji, Habib Hasyim diminta oleh abahnya agar tidak memakai nama fam sâdat di belakangnya.
Sebelumnya, beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya.
Ketua Umum PBNU...
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan Termasuk Pendiri NU?
PBNU perintahkan menarik buku sejarah kontroversial [826] url asal
#buku-penyimpangan-sejarah-nu #buku-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-ba-alawi #nasab-habib #nas
(Republika - Khazanah) 30/07/24 19:56
v/12688747/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Benarkah demikian?
BACA JUGA:Dampak Foto dengan Presiden Israel, Nurul: Tiap Hari Terlintas untuk Mengakhiri Hidup Saya
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
Sementara itu, Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) menarik buku di lingkungan pendidikan Ma'arif NU. Penarikan buku tersebut dilakukan karena telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di dalamnya.
Dalam surat instruksi Nomor 635/PP/SU/LPM-NU/VII/2024 yang ditandatangani Ketua LP Ma'arif NU, Muhammad Ali Ramdhani dan Sekretaris LP Ma'arif NU Harianto Oghie, disampaikan bahwa menindaklanjuti Keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tanggal 27-28 Juli 2024 di Jakarta.
Berkaitan dengan beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, yang isinya telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU).
Oleh karena itu, demi menghindarkan beredarnya pemahaman yang keliru dan salah paham di tengah santri dan siswa-siswi Ma’arif NU, maka LP Ma’arif NU PBNU menginstruksikan untuk:
Pertama, menarik buku tersebut dan dilarang untuk diajarkan dalam lingkup satuan Pendidikan Ma’arif NU.
Kedua, kepada seluruh guru atau murid yang memegang buku tersebut agar menyerahkan ke kepala satuan Pendidikan Ma’arif NU atau ke pengurus Ma’arif NU terdekat di wilayahnya masing-masing.
Ketiga, menelaah kembali buku-buku Mata Pelajaran Ke-NU-an atau Ke-Aswaja-an yang diterbitkan oleh Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang di setiap satuan pendidikan baik madrasah maupun sekolah.
Keempat, pengurus LP Ma’arif NU Wilayah wajib melaporkan kepada Pengurus LP Ma’arif NU PBNU setiap buku yang diterbitkannya baik berkaitan Sejarah NU, Sejarah Tokoh NU, dan Sejarah LP Ma’arif NU.
Baca juga: Ini Bakal Cawagub Sumut dengan Elektabilitas Tertinggi Menurut Survei Terbaru LSI
Kelima, kepada seluruh guru dalam lingkup LP Maarif NU, baik yang mengajarkan mata pelajaran Ke-aswaja-an dan Ke-NU-an atau mata pelajaran apapun agar selalu berkoordinasi dengan pengurus LP Maarif NU di tingkat MWC NU, PCNU, atau PWNU terdekat jika sekiranya menemukan hal-hal yang janggal dan tidak sesuai nilai-nilai ideologi dan falsafah berbangsa yang diajarkan oleh para kiai dan ulama di lingkungan NU selama ini.
Keenam, jika Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang tidak memperhatikan hal yang dimaksudkan poin 1 dan 2 di atas, maka Pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan mengambil tindakan sebagaimana mestinya.
Ketujuh, pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan segera membentuk Tim Penelaah untuk melakukan penelitian secara menyeluruh dan mendalam terhadap Buku Ajar Ke-NU-an dan Ke-Aswaja-an yang diterbitkan Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah dan Cabang, sebagaimana amanat Keputusan Rapat Pleno PBNU tanggal 27-28 Juli 2024.
Ketua Umum...
Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Termasuk Pendiri NU?
PBNU perintahkan menarik buku sejarah kontroversial [812] url asal
#buku-penyimpangan-sejarah-nu #buku-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-ba-alawi #nasab-habib #nas
(Republika - Khazanah) 30/07/24 19:56
v/12678444/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Benarkah demikian?
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
Sementara itu, Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) menarik buku di lingkungan pendidikan Ma'arif NU. Penarikan buku tersebut dilakukan karena telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di dalamnya.
Dalam surat instruksi Nomor 635/PP/SU/LPM-NU/VII/2024 yang ditandatangani Ketua LP Ma'arif NU, Muhammad Ali Ramdhani dan Sekretaris LP Ma'arif NU Harianto Oghie, disampaikan bahwa menindaklanjuti Keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tanggal 27-28 Juli 2024 di Jakarta.
Berkaitan dengan beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, yang isinya telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU).
Oleh karena itu, demi menghindarkan beredarnya pemahaman yang keliru dan salah paham di tengah santri dan siswa-siswi Ma’arif NU, maka LP Ma’arif NU PBNU menginstruksikan untuk:
Pertama, menarik buku tersebut dan dilarang untuk diajarkan dalam lingkup satuan Pendidikan Ma’arif NU.
Kedua, kepada seluruh guru atau murid yang memegang buku tersebut agar menyerahkan ke kepala satuan Pendidikan Ma’arif NU atau ke pengurus Ma’arif NU terdekat di wilayahnya masing-masing.
Ketiga, menelaah kembali buku-buku Mata Pelajaran Ke-NU-an atau Ke-Aswaja-an yang diterbitkan oleh Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang di setiap satuan pendidikan baik madrasah maupun sekolah.
Keempat, pengurus LP Ma’arif NU Wilayah wajib melaporkan kepada Pengurus LP Ma’arif NU PBNU setiap buku yang diterbitkannya baik berkaitan Sejarah NU, Sejarah Tokoh NU, dan Sejarah LP Ma’arif NU.
Baca juga: Ini Bakal Cawagub Sumut dengan Elektabilitas Tertinggi Menurut Survei Terbaru LSI
Kelima, kepada seluruh guru dalam lingkup LP Maarif NU, baik yang mengajarkan mata pelajaran Ke-aswaja-an dan Ke-NU-an atau mata pelajaran apapun agar selalu berkoordinasi dengan pengurus LP Maarif NU di tingkat MWC NU, PCNU, atau PWNU terdekat jika sekiranya menemukan hal-hal yang janggal dan tidak sesuai nilai-nilai ideologi dan falsafah berbangsa yang diajarkan oleh para kiai dan ulama di lingkungan NU selama ini.
Keenam, jika Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang tidak memperhatikan hal yang dimaksudkan poin 1 dan 2 di atas, maka Pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan mengambil tindakan sebagaimana mestinya.
Ketujuh, pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan segera membentuk Tim Penelaah untuk melakukan penelitian secara menyeluruh dan mendalam terhadap Buku Ajar Ke-NU-an dan Ke-Aswaja-an yang diterbitkan Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah dan Cabang, sebagaimana amanat Keputusan Rapat Pleno PBNU tanggal 27-28 Juli 2024.
Ketua Umum...
Pertanyaan Besar kepada Mereka yang Meragukan Nasab Ba Alawi Muara Para Habib
Ulama disebut bersepakat tentang ketersambungan nasab Ba Alawi [751] url asal
#nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus #nasab-dalam-islam
(Republika - Khazanah) 29/07/24 15:27
v/12533668/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Polemik ketersambungan nasab Ba Alawi kepada Rasulullah SAW masih munai pro dan kontra. Bagi mereka yang meragukan nasab Ba Alawi, sebuah pertanyaan dilontarkan para kubu pendukung Ba Alawi. Jika nasab sadah (tuan-tuan) Ba Alawi itu diragukan, berarti semua ulama salah?
Pertanyaan ini dilontarkan pegiat keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi), murid KH Idrus Romli.
Dia menggarisbawahi beberapa hal. Pertama kalau kajian tersebut benar, berarti semua gurunya salah. "Apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?"
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dikutip dari wawancara di NabawyTV, Senin (29/7/2024).
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu).
Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
“Kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini,” kata dia.
Sementara itu, mantan mufti Mesir, Syekh Ali Jumah, menyatakan nasab para sadah Balawi sudah menjadi kesepakatan para ulama,
“Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui,” ujar Syekh Ali Jumah.
Pro kontra...
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Ditanya Soal Nasab Ba Alawi Muara Habib Indonesia, Begini Jawaban Mantan Mufti Mesir
Polemik keabsahan nasab Ba Alawi masih menghangat di media sosial [597] url asal
#ba-alawi #nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus
(Republika - Khazanah) 29/07/24 07:42
v/12496651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Beredar secara viral, saat mantan Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah, ditanya perihal keabsahan nasab Baalawi yang menjadi muara nasab para habib di Indonesia. Apa jawabannya?
Syekh Ali Jum’ah mengatakan, “Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui.”
Pendapat Syekh Ali Jum’ah ini sejalan dengan apa yang disampaikan Imam an-Nabhani dalam kitab Riyadh al Jannah. Dia menyebutkan sebagai berikut:
«إن سادتنا آل باعلوي، قد أجمعت الأمة المحمدية في سائر الأعصار و الأقطارِ، على أنهم من أصح أهل بيتِ النبوة نسباً، وأثبتهم حسباً، و أكثرهم علماً و عملاً و فضلاً و أدباً. وهم كلهم من أهل السنة والجماعة، على مذهب إمامنا الشافعي رضي الله عنه
“Sesungguhnya para sadat kita Ba Alawi telah berijma umat Nabi Muhammad SAW di seluruh masa dan daerah bahwa sesungguhnya mereka termasuk dari paling sahihnya nasab ahli bait Nabi, dan paling tetap pangkatnya, dan paling banyak ilmu, amal, keutamaan, dan akhlaknya. Dan mereka semuanya dari Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Imam Sayfi’i.”
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.