PCNU Tegal Respons Buku Sejarah Sebut Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pendiri NU

PCNU Tegal Respons Buku Sejarah Sebut Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pendiri NU

Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an picu polemik

(Republika) 01/08/24 16:46 12890936

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, mengklarifikasi beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang memicu polemic.

Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya.

Sekretaris PCNU Kabupaten Tegal, KH Ahmad Saiful Bahri, menjelaskan buku tersebut sebenarnya sudah beredar enam tahun lalu, sejak kepemimpinan sebelumnya, periode 2016-2021. Jauh hari, sebelum polemik ini mencuat, pihaknya telah menyikapinya dengan menyiapkan tim khusus pengkajian.

Dia mengatakan, buku tersebut selama ini beredar untuk kalangan internal, terutama di lembaga pendidikan NU Wilayah Kabupaten Tegal. Buku tersebut disusun RMI NU Kabupaten Tegal. Dua penulis utamanya, sudah meninggal dunia.

Kendati demikian, pihaknya tetap menelusuri buku tersebut melalui pengurus yang masih hidup.

Terkait peredaran buku itu sendiri, Kiai Saiful menyatakan, pihaknya telah menjalankan instruksi LP Ma’arif NU untuk menarik buku tersebut dari peredaran. “Kita sudah teruskan sudah jelas intruksi penarikan, sudah teruskan ke Ma’arif dann PCNU Tegal,” kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (1/8/2024).

Sebelumnya Lembaga Pendidikan Ma\'arif...

Begitu KH Hasyim Asy’ari duduk, Habib Hasyim langsung berkata, ”Kiai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Aswaja. Saya rela (rida), tapi tolong nama saya jangan ditulis.” Itu wasiat Habib Hasyim. Kiai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas.

Kemudian Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Kholil berkata kepada Kiai Hasyim Asy’ari, “Laksanakan apa niatmu. Saya rida seperti ridanya Habib Hasyim.Tapi, saya juga minta tolong nama saya jangan ditulis.”

Kiai Hasyim agak bingung. Bagaimana ini, kok tidak mau ditulis namanya semua. Terus Mbah Kiai Kholil menimpali Kiai Hasyim. “Kalau mau ditulis silakan tapi sedikit saja.” Itulah wujud tawadunya Mbah Kiai Muhammad Kholil Bangkalan.

Sejarah di atas disampaikan oleh yang Mulia Maulana Al-Habib Luthfi bin Yahya (Rais ‘Aam Jam’iyah Alu Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdiyah pda Harlah Nu di Kota Pekalongan pada 2010. Sejarah ini juga ikut dicatat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dalam buku ini lalu diberikan keterangan bahwa sejarah tersebut tetap dicantumkan meskipun Habib Hasyim bin Yahya mungkin tidak terlalu berkenan. Tim penulis beralasan jika sejarah semacam ini tidak akan ditemukan lagi di kemudian hari.

Bentuk tim

Untuk merespons ini, PBNU telah memerintahkan kepada lembaga pendidikan Ma\'arif dan Rabithah Ma\'ahid Al Islamiyah atau asosiasi pesantren-pesantren, untuk melakukan penelitian menyeluruh terhadap laporan adanya upaya penyimpangan atau membuat narasi yang menyimpang tentang sejarah berdirinya NU

Menurut Gus Yahya, sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf, narasi-narasi menyimpang itu tidak sesuai dengan sejarah berdirinya NU yang sesungguhnya. Dia menginstruksikan pencabutan buku menyimpang itu dari peredaran.

Buku tersebut tidak boleh dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan NU sebab bukan hanya mengaburkan, melainkan menyimpangkan dari sejarah berdirinya NU.

"Apabila ditemukan buku-buku atau bahan ajar yang seperti itu, ini harus dicabut, harus ditarik dari peredaran,” tutur Gus Yahya.

#kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-habib #buku-sejarah-nu #buku-penyimpangan-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pendiri-nahdltul-ulama #nahdlatul-ulama

https://khazanah.republika.co.id/berita/shj9ts320/pcnu-tegal-respons-buku-sejarah-sebut-kakek-habib-luthfi-pekalongan-pendiri-nu