Konflik Timur Tengah Berlanjut, Harga SUN Bakal Menurun?
Harga SUN diprediksi menurun pada pekan ini. Dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah - Halaman all
(InvestorID) 05/08/24 04:00 13276732
JAKARTA, investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi akan bergerak sideways dengan kecenderungan mengalami penurunan pada pekan ini. Bahkan, imbal hasil (yield) dengan tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada rentang 6,8% hingga 7,2%.
Head of Economic Research Division PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menyebutkan, ketidakpastian geopolitik pasca gugurnya Ismail Haniyeh, pimpinan Hamas, menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar. “Konflik di Timur Tengah setelah serangan Israel ke Iran menambah ketidakpastian dan membuat harga SUN tertekan,” ungkapnya kepada Investor Daily, Minggu (4/8/2024).
Suhindarto menambahkan, pada pekan lalu, harga SUN sempat naik, dengan yield turun dari 7% menjadi 6,9%. Kenaikan tersebut dipicu oleh masuknya modal asing setelah sinyal dari Ketua The Fed Jerome Powell mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September mendatang. “Bank of England juga memangkas suku bunga acuannya, membawa sentimen positif bagi pasar domestic,” jelasnya.
Menurutnya, aliran modal asing mencapai Rp10,27 triliun dalam periode 29 Juli - 1 Agustus 2024, dengan Rp5,77 triliun masuk ke pasar SBN, Rp2,19 triliun ke pasar SRBI, dan Rp2,31 triliun ke pasar saham. Namun, pekan ini diperkirakan pasar SUN akan tetap dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik.
“Yield 10 tahun akan bergerak di kisaran 6,8% hingga 7,2%, dengan kemungkinan sedikit naik kembali ke sekitar 7,0%," papar Suhindarto.
Pada pekan ini, lanjutnya, data pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II-2024 yang dijadwalkan pada Senin (5/8/2024) bakal menjadi perhatian utama. Namun, pasar tampakanya khawatir terhadap daya beli masyarakat setelah data inflasi Juli 2024 turun menjadi 2,13% dari 2,51% pada Juni 2024
Pertumbuhan Ekonomi Solid
Meski demikian, Suhindarto tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi akan tetap solid didorong oleh perhelatan dan hari besar keagamaan pada kuartal kedua.
Sedangkan dari sisi eksternal, Suhindarto mengatakan, pekan ini relatif sepi dari rilis data di Amerika Serikat (AS) setelah keputusan dovish dari The Fed. Di Eropa, data inflasi final Jerman dan di Asia, rilis data inflasi China serta risalah rapat kebijakan BoJ Jepang menjadi sorotan. Ketidakpastian geopolitik terutama respons Iran terhadap serangan Israel akan terus menjadi perhatian pasar global.
"Pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi untuk menentukan arah investasi pada SUN. Meskipun kondisi geopolitik menekan harga, potensi keuntungan dari yield tinggi di Indonesia tetap menarik bagi investor," pungkas dia. (fur)
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-sun #imbal-hasil-sun #sun #surat-utanmg-negara #geopolitik-di-timur-tengah #the-fed #pemangkasan-suku-bunga #ekonomi-indonesia #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/369112/konflik-timur-tengah-berlanjut-harga-sun-bakal-menurun