Kala Keterbatasan Tak Jadi Batu Sandungan Anak-anak Papua Menggapai Cita-citanya
Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak Asmat terus menunjukkan dedikasi dan tekad demi bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Halaman all
(Kompas.com) 05/08/24 21:09 13417844
PAPUA, KOMPAS.com - Di balik hutan lebat dan sungai yang berkelok di Asmat, Papua, terpancar semangat yang luar biasa dari anak-anak yang ingin meraih impian mereka.
Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak Asmat terus menunjukkan dedikasi dan tekad demi bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Sebuah sekolah kecil yang hanya terbuat dari kayu berdiri kokoh meski tampak sederhana.
Sekolah yang hanya memiliki lima ruangan ini menjadi tempat anak-anak Asmat menimba ilmu dan mengejar cita-cita.
Setiap pukul 07.00 WIT anak-anak di kampung Asmat sudah bersiap, langkah kaki tanpa alas mengayun penuh semangat melewati jalan setapak yang terbuat dari kayu menuju sekolah.
Keinginan anak Asmat untuk belajar yang tinggi mengalahkan segala rintangan yang dihadapi.
Meski dihadapi keterbatasan, terselip cita-cita tinggi mereka menjadi cahaya harapan terus menyala.
Salah satunya Franky (18). Di kota-kota besar, anak seusianya seharusnya sudah lulus sekolah menengah atas (SMA).
Namun, di Asmat, anak seusia Franky masih harus duduk di bangku sekolah dasar (SD), tepatnya kelas V. Meski begitu, tak menguburkan mimpi Franky untuk menjadi polisi.
Di daerah yang kerap dihadapkan pada berbagai ancaman, Franky melihat profesi polisi sebagai panggilan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua orang.
“Saya mau jadi polisi. Supaya aman,” ungkap Franky.
Siswa lainnya, Billy (13) memiliki kecintaan yang besar terhadap matematika.
Keterampilan matematika adalah dasar yang kuat untuk meraih cita-citanya menjadi seorang dokter.
Ia berharap suatu hari bisa kembali ke kampung halamannya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Asmat.
“Saya suka matematika dan saya mau jadi dokter. Saya mau mengobati orang yang sakit,” ujarnya.
Siswa lainnya, Septinah (12) bercita-cita menjadi suster gereja. Ia memutuskan untuk mengabdi kepada masyarakat melalui pelayanan di gereja.
“Saya ingin menjadi suster gereja,” ungkap Septinah.
Melihat semangat anak-anak Asmat ini, kita disadarkan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, tanpa memandang di mana mereka berada. Mereka berhak menggapai bintang, meraih cita-cita, dan berkontribusi bagi bangsa.
Namun kenyataannya, masih banyak anak di Asmat yang belum bisa membaca, menulis, dan menghitung.
“Dari segi pendidikan, anak itu banyak yang sudah masuk SD kelas IV, V, VI, itu belum banyak yang bisa baca. Ada yang sudah bisa baca tapi bisa baca saja, tetapi tidak memahami apa yang mereka baca,” ujar fasilitator area wilayah Kabupaten Asmat dari Wahana Visi Indonesia, Maksy Azrul.
Yang paling miris, di 2023 terdapat beberapa anak Asmat yang tidak melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) karena tidak memiliki kemampuan membaca.
“Anak-anak dikembalikan ketika mendaftar SMP. Karena di SMP ketat dan sekarang anak disuruh baca dulu, kalau tidak bisa baca itu dikembalikan. Akhirnya terpaksa mereka tidak lanjut sekolah, nah itu yang paling miris yang saya lihat di kampung,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi sentilan keras bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil harus terus diperjuangkan, agar tidak ada lagi anak yang tertinggal dari mimpi-mimpinya.