AFSI Sebut Indonesia Harus jadi Produsen Produk Halal Global
Masyarakat Indonesia perlu mengubah pola pikir agar tidak hanya jadi konsumen dari produk-produk halal global. Halaman all
(Kompas.com) 07/08/24 14:54 13653809
JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia perlu mengubah pola pikir agar tidak hanya jadi konsumen dari produk-produk halal global.
Sebaliknya, Indonesia perlu memperkenalkan diri sebagai salah satu produsen dan inovator untuk produk halal di pasar internasional.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya mengatakan, Indonesia sempat terjebak dengan hanya menjadi konsumen produk halal.
KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya dalam acara HASAN Startup Demo Day Jakarta 2024, Rabu (7/8/2024)."Kita sudah ter-brainwash kalau barang luar (negeri) pasti bagus. Jadi kita di sini hanya jadi konsumen saja," kata dia saat ditemui dalam acara HASAN Startup Demo Day Jakarta 2024, Rabu (7/8/2024).
Ronald menambahkan, konsumsi masyarakat Indonesia tergolong sangat tinggi. Hal itu turun menarik minat produk luar negeri untuk masuk ke pasar Indonesia.
"Daya beli kita cukup besar. Contoh pada saat Covid-19, Indonesia itu impor sepeda Brompton berapa banyak," imbuh dia.
Untuk itu, Ronald bilang, masyarakat perlu mengubah pola pikir saat ini dengan percaya Indonesia adalah negara produsen. Indonesia perlu punya inovasi yang dapat dikembangkan ke luar negeri.
Hal itu juga perlu dibarengi dengan promosi agar inovasi dan produk halal Indonesia dikenal masyarakat global.
Sebagai informasi, Data State of Global Islamic Economics Report (SGIER) menunjukkan bisnis halal yang memiliki pasar paling besar di Indonesia adalah makanan. Adapun, pakaian atau modest fashion berada pada posisi kedua di sektor bisnis halal.
SHUTTERSTOCK/RIZKY ADE JONATHAN Ilustrasi logo halal.Ronald mengungkapkan, Indonesia dikenal memiliki kreativitas yang baik dalam sektor modest fashion ini.
"Memang tidak harus (pakaian) muslim, karena modest itu kan artinya decent, layak, proper, dan tidak terbuka. Itu ternyata di dunia Indonesia nomor tiga saat ini," terang dia.
Seiring dengan itu, Ronald juga melihat adanya perkembangan signifikan pada sektor pariwisata halal.
Dalam pariwisata halal, penting bagi pelaku bisnis untuk mendatangkan wisatawan muslim mancanegara dengan aman. Hal tersebut sekaligus memastikan semua destinasi dan kegiatan yang ada telah diorganisasi secara kehalalannya.
"Semuanya sudah ter-organize secara kehalalannya," tutup dia.
#produk-halal #pariwisata-halal #konsumsi-masyarakat #konsumen-produk-halal #bisnis-halal