AS Terancam Masuk Jurang Resesi Ekonomi, Apa Dampaknya untuk Indonesia?
Amerika Serikat (AS) berpotensi masuk ke jurang resesi pada kuartal ketiga 2024. Lantas, apa dampaknya pada Indonesia? Halaman all
(Kompas.com) 07/08/24 18:00 13672496
KOMPAS.com - Bayang-bayang resesi menghantui Amerika Serikat (AS) pada kuartal III (Juli, Agustus, dan September) 2024.
Resesi adalah kondisi ketika perekonomian suatu negara lesu atau merosot. Hal ini dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, meningkatnya pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi riil negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Kepada Kompas.com, Rabu (7/8/2024), Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, ada beberapa tanda yang mengisyaratkan resesi Amerika Serikat tahun ini.
Pertama, tingkat pengangguran di AS meningkat sebesar 4,3 persen per Juli 2024 dan angka pembukaan lowongan kerja menurun dari 12,1 juta per Maret 2022 menjadi 8,1 juta per Juni 2024.
Selain itu, penurunan tajam indeks saham di AS, khususnya NASDAQ - 8,59 persen dan S&P -3,96 persen dalam satu bulan terakhir menjadi indikasi kuat bahwa AS mengarah pada resesi.
Kondisi perekonomian AS terkini
Sementara itu, Peneliti Center of Digital Economy and Small Medium Enterprises di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menjelaskan saat ini suku bunga The Fed mengalami kenaikan secara signifikan setelah melakukan kebijakan Quantitative Easing (QE) dan suku bunga rendah.
Ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, pemerintah AS ingin mendorong belanja dan investasi masyarakat melalui kebijakan tersebut dengan harapan mampu menurunkan tingkat pengangguran.
Saat kondisi dinilai sudah stabil, pada 2022 The Fed menaikkan interest mereka dari 0,25 persen menjadi level 5,5 persen pada saat ini.
“Tujuannya adalah menekan inflasi yang ditimbulkan dari ekonomi yang terlalu cepat panas akibat kebijakan QE,” jelas Huda saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
“Dampaknya adalah cost of fund dari investasi meningkat tajam. Inflasi memang turun walaupun cukup tinggi yang membuat The Fed masih menahan suku bunga mereka,” tambahnya.
Akibat kebijakan tersebut, dalam waktu empat bulan terakhir, angka pengangguran di Negeri Paman Sam meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,3 persen.
Tingkat pengangguran di AS meningkat karena cost of fund atau bunga kredit yang cukup tinggi.
“Akibatnya, terjadi crash terhadap pasar modal AS karena cost of fund yang masih cukup tinggi. (Cost of fund) adalah biaya kredit. Jadi, kalau mau investasi dari perbankan, biaya investasinya tinggi karena bunga kreditnya tinggi,” jelas Huda.
“Yang paling kita khawatirkan adalah penurunan daya beli AS di triwulan III dan IV yang dapat diikuti oleh penurunan permintaan dari China," imbuh Huda.
Apa dampak ancaman resesi AS terhadap Indonesia?
Huda menjelaskan, ketika China sudah terdampak pelemahan ekonomi AS, kondisi tersebut bisa berakibat pada pelemahan permintaan barang secara global, termasuk di Indonesia.
"Produksi di Indonesia bisa juga semakin menurun,” ujar Huda.
Selain menurunnya tingkat produksi di Indonesia, ancaman resesi AS juga berpotensi menyebabkan pelemahan kurs Rupiah akibat investor bergeser ke aset yang lebih aman atau safe haven.
Bhima menjelaskan, cadangan devisa juga berpeluang menurun akibat melemahnya permintaan ekspor ke AS.
Dampak lainnya adalah suku bunga masih akan tinggi untuk mencegah keluarnya dana asing terutama di pasar surat berharga dan tekanan ke industri manufaktur terutama yang berorientasi kepada ekspor menguat.
Bhima menyebutkan, pemerintah juga akan mengalami kesulitan mencari pembiayaan untuk tutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di sisa tahun ini dan pembiayaan program Prabowo Subianto jika sudah menjadi presiden pada 2025.
Apa saja antisipasi ancaman resesi ekonomi AS?
Mengingat dampak ancaman resesi AS sudah di depan mata, Bhima meminta pemerintah mempertimbangkan beberapa hal berikut:
- Menunda kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen dan menurunkan tarif PPN saat ini menjadi 8-9 persen untuk menstimulus konsumsi domestik
- Memastikan spillover atau dampak proyek infrastruktur dirasakan ke peningkatan investasi dan daya saing industri pengolahan
- Mendorong investasi yang lebih berkualitas dan lebih menyerap tenaga kerja, memiliki standar lingkungan dan perlindungan pekerja atau masyarakat yang lebih baik
- Menjaga kurs Rupiah dengan mendorong peningkatan DHE atau Dana Hasil Ekspor. Jika diperlukan, pemerintah dapat melakukan capital control untuk menahan DHE selama sembilan bulan di bank domestik. Cara ini bisa dilakukan sebagai emergency responses jika pelemahan kurs mencapai 17.000-17.500 per dollar AS
- Mengeluarkan paket kebijakan khusus ke sektor industri padat karya dalam bentuk diskon tarif listrik 70 persen, pengetatan impor barang jadi yang memiliki substitusi produk lokal, kredit bunga rendah khusus industri (penugasan ke bank himbara), dan berlakukan insentif Pajak Penghasilan (PPh) karyawan ditanggung pemerintah sampai 2025.
#resesi-adalah #resesi-amerika #as-terancam-resesi #resesi-amerika-serikat