Resesi diartikan sebagai memburuknya kondisi perekonomian suatu negara. Berikut penjelasan mengenai penyebab dan dampak resesi. Halaman all [397] url asal
KOMPAS.com -Resesi erat kaitannya dengan kondisi perekonomian suatu negara. Resesi diartikan sebagai memburuknya kondisi perekonomian suatu negara.
Dilansir dari laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu), resesi adalah kondisi terjadinya penurunan aktivitas ekonomi umum secara signifikan di suatu wilayah tertentu.
Resesi ditandai dengan terkontraksinya Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.
Suatu negara disebut mengalami resesi saat PDB memiliki nilai yang negatif, tingkat pengangguran naik, dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut.
Lalu, apa saja hal yang menyebabkan terjadinya resesi?
Dikutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), beberapa kondisi yang menyebabkan resesi antara lain guncangan ekonomi mendadak, perubahan ekonomi, inflasi tinggi, pengelolaan utang yang tidak sehat, gelembung aset, dan tingkat deflasi yang signifikan.
Saat suatu negara mengalami resesi, dalam kehidupan masyarakat akan ditemui beberapa kondisi sebagai berikut:
Lapangan kerja berkurang yang menyebabkan tingkat pengangguran meningkat
Tingkat investasi menurun
Terjadi inflasi maupun deflasi yang tidak terkendali
Penurunan pendapatan masyarakat
Konflik sosial.
Untuk mengantisipasi situasi agar lebih kondusif, biasanya suatu negara akan mengambil kebijakan tertentu, salah satunya merealokasi pendapatan dan belanja negara, memberikan bantuan sosial, hingga memberikan insentif terhadap sektor usaha yang terdampak.
Perlambatan ekonomi yang terjadi akibat resesi, membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya.
Hal tersebut yang membuat terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan beberapa perusahaan mungkin akan menutup produksi dan tak beroperasi lagi.
Selain itu, resesi juga berdampak terhadap kinerja instrumen investasi yang akan mengalami penurunan karena investor cenderung memilih bentuk investasi yang aman.
Kondisi perekonomian yang semakin sulit, juga akan berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Uang akan digunakan lebih dengan fokus pemenuhan kebutuhan prioritas terlebih dahulu.
Demikian ulasan terkait apa itu pengertian resesi, penyebab, dan dampak resesi terhadap kondisi perekonomian suatu negara.
Resesi diartikan sebagai memburuknya kondisi perekonomian suatu negara. Berikut penjelasan mengenai penyebab dan dampak resesi. Halaman all [397] url asal
KOMPAS.com -Resesi erat kaitannya dengan kondisi perekonomian suatu negara. Resesi diartikan sebagai memburuknya kondisi perekonomian suatu negara.
Dilansir dari laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu), resesi adalah kondisi terjadinya penurunan aktivitas ekonomi umum secara signifikan di suatu wilayah tertentu.
Resesi ditandai dengan terkontraksinya Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.
Suatu negara disebut mengalami resesi saat PDB memiliki nilai yang negatif, tingkat pengangguran naik, dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut.
Lalu, apa saja hal yang menyebabkan terjadinya resesi?
Dikutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), beberapa kondisi yang menyebabkan resesi antara lain guncangan ekonomi mendadak, perubahan ekonomi, inflasi tinggi, pengelolaan utang yang tidak sehat, gelembung aset, dan tingkat deflasi yang signifikan.
Saat suatu negara mengalami resesi, dalam kehidupan masyarakat akan ditemui beberapa kondisi sebagai berikut:
Lapangan kerja berkurang yang menyebabkan tingkat pengangguran meningkat
Tingkat investasi menurun
Terjadi inflasi maupun deflasi yang tidak terkendali
Penurunan pendapatan masyarakat
Konflik sosial.
Untuk mengantisipasi situasi agar lebih kondusif, biasanya suatu negara akan mengambil kebijakan tertentu, salah satunya merealokasi pendapatan dan belanja negara, memberikan bantuan sosial, hingga memberikan insentif terhadap sektor usaha yang terdampak.
Perlambatan ekonomi yang terjadi akibat resesi, membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya.
Hal tersebut yang membuat terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan beberapa perusahaan mungkin akan menutup produksi dan tak beroperasi lagi.
Selain itu, resesi juga berdampak terhadap kinerja instrumen investasi yang akan mengalami penurunan karena investor cenderung memilih bentuk investasi yang aman.
Kondisi perekonomian yang semakin sulit, juga akan berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Uang akan digunakan lebih dengan fokus pemenuhan kebutuhan prioritas terlebih dahulu.
Demikian ulasan terkait apa itu pengertian resesi, penyebab, dan dampak resesi terhadap kondisi perekonomian suatu negara.
Amerika Serikat (AS) berpotensi masuk ke jurang resesi pada kuartal ketiga 2024. Lantas, apa dampaknya pada Indonesia? Halaman all?page=all [512] url asal
KOMPAS.com - Bayang-bayang resesi menghantui Amerika Serikat (AS) pada kuartal III (Juli, Agustus, dan September) 2024.
Resesi adalah kondisi ketika perekonomian suatu negara lesu atau merosot. Hal ini dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, meningkatnya pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi riil negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Kepada Kompas.com, Rabu (7/8/2024), Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, ada beberapa tanda yang mengisyaratkan resesi Amerika Serikat tahun ini.
Pertama, tingkat pengangguran di AS meningkat sebesar 4,3 persen per Juli 2024 dan angka pembukaan lowongan kerja menurun dari 12,1 juta per Maret 2022 menjadi 8,1 juta per Juni 2024.
Selain itu, penurunan tajam indeks saham di AS, khususnya NASDAQ - 8,59 persen dan S&P -3,96 persen dalam satu bulan terakhir menjadi indikasi kuat bahwa AS mengarah pada resesi.
Kondisi perekonomian AS terkini
Sementara itu, Peneliti Center of Digital Economy and Small Medium Enterprises di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menjelaskan saat ini suku bunga The Fed mengalami kenaikan secara signifikan setelah melakukan kebijakan Quantitative Easing (QE) dan suku bunga rendah.
Ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, pemerintah AS ingin mendorong belanja dan investasi masyarakat melalui kebijakan tersebut dengan harapan mampu menurunkan tingkat pengangguran.
Saat kondisi dinilai sudah stabil, pada 2022 The Fed menaikkan interest mereka dari 0,25 persen menjadi level 5,5 persen pada saat ini.
“Tujuannya adalah menekan inflasi yang ditimbulkan dari ekonomi yang terlalu cepat panas akibat kebijakan QE,” jelas Huda saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
“Dampaknya adalah cost of fund dari investasi meningkat tajam. Inflasi memang turun walaupun cukup tinggi yang membuat The Fed masih menahan suku bunga mereka,” tambahnya.
Akibat kebijakan tersebut, dalam waktu empat bulan terakhir, angka pengangguran di Negeri Paman Sam meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,3 persen.
Tingkat pengangguran di AS meningkat karena cost of fund atau bunga kredit yang cukup tinggi.
“Akibatnya, terjadi crash terhadap pasar modal AS karena cost of fund yang masih cukup tinggi. (Cost of fund) adalah biaya kredit. Jadi, kalau mau investasi dari perbankan, biaya investasinya tinggi karena bunga kreditnya tinggi,” jelas Huda.
“Yang paling kita khawatirkan adalah penurunan daya beli AS di triwulan III dan IV yang dapat diikuti oleh penurunan permintaan dari China," imbuh Huda.
Apa dampak ancaman resesi AS terhadap Indonesia?
Huda menjelaskan, ketika China sudah terdampak pelemahan ekonomi AS, kondisi tersebut bisa berakibat pada pelemahan permintaan barang secara global, termasuk di Indonesia.
KOMPAS.com - Bayang-bayang resesi menghantui Amerika Serikat (AS) pada kuartal III (Juli, Agustus, dan September) 2024.
Resesi adalah kondisi ketika perekonomian suatu negara lesu atau merosot. Hal ini dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, meningkatnya pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi riil negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Kepada Kompas.com, Rabu (7/8/2024), Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, ada beberapa tanda yang mengisyaratkan resesi Amerika Serikat tahun ini.
Pertama, tingkat pengangguran di AS meningkat sebesar 4,3 persen per Juli 2024 dan angka pembukaan lowongan kerja menurun dari 12,1 juta per Maret 2022 menjadi 8,1 juta per Juni 2024.
Selain itu, penurunan tajam indeks saham di AS, khususnya NASDAQ - 8,59 persen dan S&P -3,96 persen dalam satu bulan terakhir menjadi indikasi kuat bahwa AS mengarah pada resesi.
Kondisi perekonomian AS terkini
Sementara itu, Peneliti Center of Digital Economy and Small Medium Enterprises di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menjelaskan saat ini suku bunga The Fed mengalami kenaikan secara signifikan setelah melakukan kebijakan Quantitative Easing (QE) dan suku bunga rendah.
Ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, pemerintah AS ingin mendorong belanja dan investasi masyarakat melalui kebijakan tersebut dengan harapan mampu menurunkan tingkat pengangguran.
Saat kondisi dinilai sudah stabil, pada 2022 The Fed menaikkan interest mereka dari 0,25 persen menjadi level 5,5 persen pada saat ini.
“Tujuannya adalah menekan inflasi yang ditimbulkan dari ekonomi yang terlalu cepat panas akibat kebijakan QE,” jelas Huda saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
“Dampaknya adalah cost of fund dari investasi meningkat tajam. Inflasi memang turun walaupun cukup tinggi yang membuat The Fed masih menahan suku bunga mereka,” tambahnya.
Akibat kebijakan tersebut, dalam waktu empat bulan terakhir, angka pengangguran di Negeri Paman Sam meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,3 persen.
Tingkat pengangguran di AS meningkat karena cost of fund atau bunga kredit yang cukup tinggi.
“Akibatnya, terjadi crash terhadap pasar modal AS karena cost of fund yang masih cukup tinggi. (Cost of fund) adalah biaya kredit. Jadi, kalau mau investasi dari perbankan, biaya investasinya tinggi karena bunga kreditnya tinggi,” jelas Huda.
“Yang paling kita khawatirkan adalah penurunan daya beli AS di triwulan III dan IV yang dapat diikuti oleh penurunan permintaan dari China," imbuh Huda.
Apa dampak ancaman resesi AS terhadap Indonesia?
Huda menjelaskan, ketika China sudah terdampak pelemahan ekonomi AS, kondisi tersebut bisa berakibat pada pelemahan permintaan barang secara global, termasuk di Indonesia.
"Produksi di Indonesia bisa juga semakin menurun,” ujar Huda.
Selain menurunnya tingkat produksi di Indonesia, ancaman resesi AS juga berpotensi menyebabkan pelemahan kurs Rupiah akibat investor bergeser ke aset yang lebih aman atau safe haven.
Bhima menjelaskan, cadangan devisa juga berpeluang menurun akibat melemahnya permintaan ekspor ke AS.
Dampak lainnya adalah suku bunga masih akan tinggi untuk mencegah keluarnya dana asing terutama di pasar surat berharga dan tekanan ke industri manufaktur terutama yang berorientasi kepada ekspor menguat.
Bhima menyebutkan, pemerintah juga akan mengalami kesulitan mencari pembiayaan untuk tutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di sisa tahun ini dan pembiayaan program Prabowo Subianto jika sudah menjadi presiden pada 2025.
Apa saja antisipasi ancaman resesi ekonomi AS?
Mengingat dampak ancaman resesi AS sudah di depan mata, Bhima meminta pemerintah mempertimbangkan beberapa hal berikut:
Menunda kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen dan menurunkan tarif PPN saat ini menjadi 8-9 persen untuk menstimulus konsumsi domestik
Memastikan spillover atau dampak proyek infrastruktur dirasakan ke peningkatan investasi dan daya saing industri pengolahan
Mendorong investasi yang lebih berkualitas dan lebih menyerap tenaga kerja, memiliki standar lingkungan dan perlindungan pekerja atau masyarakat yang lebih baik
Menjaga kurs Rupiah dengan mendorong peningkatan DHE atau Dana Hasil Ekspor. Jika diperlukan, pemerintah dapat melakukan capital control untuk menahan DHE selama sembilan bulan di bank domestik. Cara ini bisa dilakukan sebagai emergency responses jika pelemahan kurs mencapai 17.000-17.500 per dollar AS
Mengeluarkan paket kebijakan khusus ke sektor industri padat karya dalam bentuk diskon tarif listrik 70 persen, pengetatan impor barang jadi yang memiliki substitusi produk lokal, kredit bunga rendah khusus industri (penugasan ke bank himbara), dan berlakukan insentif Pajak Penghasilan (PPh) karyawan ditanggung pemerintah sampai 2025.