Komunikasi ke KBRI Dhaka Sempat Terganggu Akibat Kerusuhan Bangladesh

Komunikasi ke KBRI Dhaka Sempat Terganggu Akibat Kerusuhan Bangladesh

Komunikasi ke KBRI di Dhaka, Bangladesh, sempat terganggu akibat kerusuhan di negara tersebut. Halaman all

(Kompas.com) 08/08/24 14:35 13792578

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar NegeriRetno Marsudi mengungkapkan, komunikasi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dhaka, Bangladesh, sempat terganggu akibat kerusuhan di negara tersebut.

"Beberapa kali dengan KBRI kita di Dhaka sempat mengalami masalah komunikasi. Karena dalam beberapa kali off, tidak bisa dihubungi," ujar Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/8/2024).

"Tapi beberapa hari ini sudah dapat berkomunikasi dengan baik," ujar dia.

Untuk diketahui, kerusuhan di Bangladesh mengakibatkan satu orang warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia.

Menurut Retno, WNI tersebut sedang berada di salah satu hotel yg terbakar sebagai dampak dari kerusuhan.

Berdasarkan keterangan tim medis, korban banyak sekali menghirup asap akibat kebakaran hingga meninggal dunia.

"Dari pihak Indonesia, dari pihak kita Kemenlu sudah berkomunikasi dengan pihak keluarga. Dari Kemenlu dan juga dengan duta besar kita di Dhaka terus melakukan komunikasi untuk bagaimana dapat melakukan evakuasi sebaik mungkin," jelas Retno.

Diberitakan sebelumnya, KBRI di Dhaka mengeluarkan status siaga II. Status itu diperbarui dari sebelumnya siaga III akibat kerusuhan yang terjadi di beberapa titik di Bangladesh belakangan ini.

Dengan peningkatan status situasi Bangladesh saat ini, Kemenlu meminta agar WNI yang berencana ke Bangladesh untuk menunda keberangkatannya.

Sedangkan untuk WNI yang berada di Bangladesh diminta meningkatkan kewaspadaan.

Mereka diharapkan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari kerumunan massa dan lokasi demonstrasi.

#menteri-luar-negeri #kbri #retno-marsudi #bangladesh #kemenlu #kerusuhan-bangladesh

https://nasional.kompas.com/read/2024/08/08/14354651/komunikasi-ke-kbri-dhaka-sempat-terganggu-akibat-kerusuhan-bangladesh