Pelanggan PLTS Atap Naik 15 Kali Lipat
Peningkatan pelanggan PLTS Atap ini terjadi pada periode 2018-2024. - Halaman all
(InvestorID) 08/08/24 15:21 13798363
JAKARTA, investor.id – Energi surya dinilai sebagai salah energi terbarukan berkualitas yang bisa diakses secara mandiri oleh masyarakat. Hal ini bisa memberi dampak positif karena memungkinkan masyarakat dapat memenuhi layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan serta menggerakkan aktivitas ekonomi. Pelanggan pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) atap pun meningkat 15 kali lipat dalam periode 2018 hingga 2024.
Hal tersebut disampaikan Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan IESR, Marlistya Citraningrum di Focused Group Discussion atau FGD soal \'PLTS dalam Opini Konsumen: Arah, Tantangan, Dukungan Saat Ini dan Masa Depan\' di Jakarta pada Selasa (6/8/2024). FGD tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) berkolaborasi dengan IESR dan Koaksi Indonesia.
Citra menegaskan bahwa energi surya merupakan salah satu ekosistem pendukung tumbuhnya energi terbarukan. Bahkan, kata dia, energi surya merupakan sumber energi yang demokratis.
“Dari beragam contoh pengembangan energi surya di Indonesia, terdapat empat catatan penting untuk memastikan dampaknya berkelanjutan, yaitu; pertama, berorientasi pada pengguna dan dampaknya; kedua, identifikasi sistem yang sesuai dengan konteks lokal, ketiga pendampingan berkelanjutan bagi komunitas dan masyarakat, serta keempat pengelolaan yang profesional,” ujar Citra kepada wartawan, Rabu (7/8/2024).
Citra mengatakan, pemetaan sumber pembiayaan inovatif perlu dilakukan untuk memastikan kebutuhan pengembangan energi surya direalisasikan dengan optimal. “Misalnya, dana desa, iuran swadaya masyarakat, dan program-program corporate social responsibility atau CSR,” tandas dia.
Selain Citra, FGD soal PLTS tersebut hadir juga Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulis Abadi; Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, Fitrianti Sofyan; dan Vice President Penjualan PT PLN (Persero) Rahmi Handayani.
Dalam pemaparannya, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan situasi Indonesia ini membutuhkan pendekatan pembangkit energi terdesentralisasi dengan memanfaatkan potensi sumber energi lokal. Menurut Tulus, pembangkit berbasis energi terbarukan seperti energi surya menjadi pilihan potensial untuk memperkuat akses energi di Indonesia karena potensinya yang mencapai 3.000-20.000 Gwp.
Dari kacamata konsumen, kata Tulus, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sangat penting. Menurut dia, penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab konsumen untuk mewujudkan pola konsumsi yang berkelanjutan atau sustainable consumption.
“Salah satu sumber EBET yang tersedia dan mudah diakses konsumen adalah energi surya. YLKI mendorong semua pihak untuk menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif, sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengakses dan menginstalasi energi surya untuk memenuhi kebutuhan energi mereka,” ungkap Tulus.
Edukasi dan Minat
Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, Fitrianti Sofyan mengatakan edukasi publik untuk pengembangan PLTS juga perlu mendapatkan perhatian serius. Minimnya pengetahuan publik atas informasi energi yang berkelanjutan ini tentunya akan berbanding lurus dengan permintaan, sehingga diperlukan upaya edukasi melalui berbagai medium dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Koaksi Indonesia tahun 2019 diketahui bahwa 64% responden pernah melihat teknologi energi terbarukan, namun tidak merasa relevan dengan kehidupan sehari-hari," tutur Fitrianti.
Sementara Vice President Penjualan PT PLN (Persero) Rahmi Handayani, mengungkapkan kenaikan pelanggan PLTS atap menjadi cerminan minat masyarakat menggunakan energi surya. Dari Tuhan 2018 sampai tahun 2024, jumlah pelanggan PLTS atap naik 15 kali, dari 609 menjadi 9.324 pelanggan. Secara kapasitas juga naik dari 2 MWp pada 2018 menjadi 197 MWp pada tahun 2024 atau naik sebanyak 98 kali.
“Minat masyarakat pada PLTS atap tinggi juga. Terlihat dari kuota PLTS atap pada Juli 2024 yang terjual sebanyak 88 persen atau 901 MWp,” beber Rahmi.
Rahmi mengatakan potensi pemanfaatan energi surya dalam berbagai kondisi perlu terus dilanjutkan. Dia menilai tren adopsi PLTS atap juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam 5 tahun terakhir.
“Kerjasama berbagai pihak melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan pihak-pihak terkait untuk mengedukasi dan mendampingi masyarakat dalam upaya memanfaatkan energi surya dibutuhkan,” pungkas Rahmi.
Diketahui, akses energi yang berkualitas merupakan hak masyarakat. Dengan akses energi berkualitas yang mampu menyediakan listrik selama 24 jam dengan tegangan stabil, aktivitas ekonomi dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pada tahun 2023, lebih dari 99,78 persen wilayah di Indonesia telah teraliri listrik. Angka capaian ini perlu dicermati lebih lanjut untuk memastikan akses energi yang diterima masyarakat dapat memenuhi layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan serta menggerakkan aktivitas ekonomi.
Akses energi berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut penting untuk memastikan bahwa melalui energi yang diterima, masyarakat dapat makin berdaya dan mandiri. Salah satu diantaranya adalah energi surya.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #plts-atap #pelanggan-plts-atap #energi-terbarukan #energi-baru-dan-terbarukan #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/business/369535/pelanggan-plts-atap-naik-15-kali-lipat