Penolakan Warga Soal Wacana Kotak Kosong Pada Pilkada Jakarta 2024, Dianggap Hilangkan Demokrasi...

Penolakan Warga Soal Wacana Kotak Kosong Pada Pilkada Jakarta 2024, Dianggap Hilangkan Demokrasi...

Sejumlah warga mengaku tak setuju jika Pilkada Jakarta 2024 hanya diikuti oleh calon tunggal melawan kotak kosong karena dianggap hilangkan demokrasi. Halaman all

(Kompas.com) 09/08/24 18:32 13944452

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024 berpotensi hanya akan diikuti oleh satu pasangan calon (paslon) yang melawan kotak kosong.

Namun, sejumlah warga di Jakarta mengaku tak setuju apabila Pilkada Jakarta 2024 hanya diikuti satu paslon.

Mereka menganggap bahwa calon tunggal pada Pilkada Jakarta 2024 berdampak buruk bagi keberlangsungan demokrasi.

Anggap demokrasi hilang

Pengemudi ojek online (ojol) bernama Herman (60) mengaku tak setuju jika Pilkada Jakarta mendatang hanya diikuti satu paslon. Ia menganggap, hal itu menghilangkan nilai demokrasi dalam pilkada.

“Ya enggak setuju. Masalahnya (kalau itu terjadi), demokrasinya akan hilang. Kan demokratis itu ibaratnya harus ada lawannya. Kalau enggak ada lawannya, ya sama saja bohong,” ujar Herman kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2024).

Menurut warga Pasar Minggu tersebut, persaingan dengan kotak kosong dalam kontestasi politik sangat tidak baik dalam keberlangsungan demokrasi di Indonesia, termasuk Jakarta.

Karena itu, ia berharap agar Pilkada Jakarta 2024 diikuti oleh lebih dari satu paslon.

“Kalau lebih banyak pasangan, lebih bagus demokrasinya, lebih kelihatan. Masyarakat bisa memilih," jelas Herman.

Herman berpandangan, pilkada yang diikuti oleh calon tunggal sama saja dengan penunjukan langsung oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi.

Menurutnya, tak ada demokrasi pada mekanisme tersebut.

“Kalau satu doang, itu bukan demokrasi. Lebih baik ditunjuk saja langsung sama presiden kayak dulu, bukan masyarakat yang pilih,” katanya.

Senada dengan Herman, sopir angkot di Pasar Minggu bernama Hasan Basri (55) juga keberatan jika Pilkada Jakarta hanya ada satu paslon saja.

Alasan Hasan juga serupa dengan Herman, yakni demi demokrasi.

“Saya tidak setuju, soalnya percuma negara kita demokrasi kalau cuma satu paslon. Apa gunanya kita hidup di zaman demokrasi kalau hanya satu paslon?” ujar Hasan.

Berharap ada calon-calon lain

Sementara itu, karyawan swasta asal Lubang Buaya, Jakarta Timur, bernama Bachtiarudin Alam (28) menyadari bahwa tidak ada satu pun partai politik yang bisa mengusung bakal calon gubernur sendirian pada Pilkada Jakarta 2024 karena terhalang jumlah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Namun, menurutnya itu bukan berarti partai politik bisa dengan sengaja menciptakan kondisi hanya satu paslon yang bersaing pada Pilkada, apalagi ada beberapa sosok calon pemimpin yang diharapkan masyarakat Jakarta bisa maju dalam Pilkada Jakarta kali ini.

“Ada Anies, ada Ahok. Ridwan Kamil sebenarnya bagus, tapi alangkah baiknya jika Anies atau Ahok juga masuk dalam kontestasi Pilkada Jakarta melawan Ridwan Kamil,” ucap Bachtiarudin.

“Ini sebagai alternatif untuk pilihan kepada masyarakat. karena dalam demokrasi memang semua ditentukan rakyat. Tapi kan, soal siapa saja yang bakal dipilih, itu ditentukan partai,” lanjut dia.

Oleh karena itu, Bachtiarudin berharap ada sebuah gerakan kolosal dari masyarakat yang berani menyuarakan pengusungan bacagub Jakarta melalui jalur independen.

“Saya juga bingung sebagai masyarakat. Karena para elite hanya memikirkan kekuasaan semata,” kata Bachtiarudin.

Diberitakan sebelumnya, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang kini telah sepakat mengusung Ridwan Kamil diprediksi bakal melawan kotak kosong pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta 2024.

KIM Plus merupakan koalisi partai politik yang beranggotakan anggota KIM ditambah partai politik di luar anggota KIM.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebut hal itu mungkin saja terjadi apabila Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bergabung dengan KIM Plus.

"Saya kira publik menganggap tiga partai di luar KIM dan PDI-P sangat mungkin berkoalisi dengan kubu KIM. Jika itu terjadi maka bisa dipastikan Pilkada Jakarta akan melawan kotak kosong," kata Adi dalam Obrolan Newsroom di Youtube Kompas.com, Selasa (6/8/2024).

Adi menilai sikap ketiga partai politik tersebut belakangan ini mulai berubah, terutama terkait dengan arah dukungan terhadap Anies Baswedan.

Nasdem, misalnya. Pernyataan Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni yang mengatakan bahwa partainya belum tentu memberikan rekomendasi kepada Anies menjadi indikasi terjadinya perubahan sikap politik.

Perubahan yang sama juga terjadi di tubuh PKB yang sejak awal telah pasang badan mendukung Anies.

Namun, sikap tersebut belakangan ini berubah setelah PKS mengajukan sosok Sohibul Iman untuk menjadi calon pendamping Anies.

"PKB sekali pun paling awal menyatakan dukungan ke Anies, itu kan belakangan tidak terlalu ngotot, bahkan tidak happy ketika ada proposal politik dari PKS tentang duet Anies dan Sohibul Iman," ujar Adi.

Adi menambahkan, perubahan sikap juga terjadi pada PKS yang baru-baru ini memberikan batas waktu kepada Anies untuk bisa menjaring partai politik.

Menurutnya, adanya permintaan batas waktu tersebut menunjukkan perubahan dari sikap PKS terhadap Anies.

(Penulis: Baharudin Al Farisi | Editor: Jessi Carina, Fitria Chusna Farisa)

#calon-tunggal-pilkada #pilkada-jakarta-2024 #kotak-kosong-pilkada-jakarta

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/09/18320841/penolakan-warga-soal-wacana-kotak-kosong-pada-pilkada-jakarta-2024