Emiten Rokok Tertekan

Emiten Rokok Tertekan

Empat emiten rokok laba dan sahamnya sedang tertekan. - Halaman all

(InvestorID) 09/08/24 07:44 14024390

JAKARTA, investor.id - Empat emiten rokok mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang periode semester I-2024. Selain itu saham dari emiten-emiten tersebut kian tertekan.

Keempatnya adalah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), dan PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC).

Pada perdagangan 8 Agustus 2024 kemarin, saham HM Sampoerna (HMSP) jatuh 3,01% ke Rp 645 dan sempat menyentuh Rp 640 yang merupakan level terendahnya dalam 10 tahun terakhir. Dalam periode year to date (ytd) saham HMSP melemah 27,53%.

Saham Gudang Garam (GGRM) berakhir minus 2,03% di Rp 14.500 pada perdagangan 8 Agustus, dan menjadi level terendah GGRM dalam 10 tahun terakhir. Sepanjang periode ytd saham GGRM ambles 30,29%.

Saham Wismilak Inti Makmur (WIIM) turun 2,16% ke Rp 905 pada perdagangan 8 Agustus. Dan dalam periode ytd anjlok hingga 48,87%.

Sedangkan saham Indonesian Tobacco (ITIC) naik tipis 0,78% ke Rp 258 pada perdagangan 8 Agustus. Namun sepanjang periode ytd saham ini telah jatuh 14,57%.

Laba

Melemahnya saham emiten rokok tersebut sejalan dengan kinerja keuangan masing-masing yang mengalami penurunan laba bersih.

HM Sampoerna (HMSP) membukukan laba bersih Rp 3,31 triliun sepanjang semester I-2024. Angkanya menurun 11,55% dari periode yang sama tahun lalu dengan raihan Rp 3,75 triliun.

Penjualan bersih HMSP pada semester I-2024 sebenarnya menguat jadi Rp 57,81 triliun dari sebelumnya Rp 56,15 triliun pada semester I-2023.

Tapi beban pokok penjualan juga membengkak ke Rp 49,12 triliun, dibandingkan paruh pertama 2023 Rp 46,91 triliun.

Dalam materi paparan publik yang telah disampaikan HMSP di keterbukaan informasi baru-baru ini disebutkan bahwa industri tembakau terdampak oleh downtrading dan rokok ilegal meningkat hampir 50% sejak 2020.

Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan tarif cukai sebanyak dua digit yang jauh di atas inflasi dan juga semakin lebarnya jarak tarif cukai antara segmen golongan 1 dan di bawah golongan 1.

“Sampoerna adalah perusahaan nomor 1 di industri tembakau Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 27% pada semester 1 2024, namun dinamika industri berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan,” jelas manajemen HMSP dikutip dari materi paparan publik perseroan.

Gudang Garam (GGRM) mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitis induk Rp 925,51 miliar sepanjang semester I-2024. Angkanya anjlok 71,85% dari Rp 3,28 triliun pada periode yang saa tahun 2023 lalu. 

Penurunan laba Gudang Garam (GGRM) dipicu melemahnya pendapatan menjadi Rp 50,01 triliun di paruh pertama tahun ini. 

Sementara itu Wismilak Inti Makmur (WIIM) membukukan laba bersih Rp 147,24 miliar di paruh pertama tahun ini. Turun dari Rp 246,87 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan Indonesian Tobacco laba bersihnya Rp 8,41 miliar di semester I-2024. Dibandingkan Rp 10,78 miliar pada periode Januari-Juni 2023.

Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #emiten-rokok #hm-sampoerna #hmsp #gudang-garam #ggrm #wismilak-inti-makmur #wiim #indonesian-tobacco #itic #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/369602/emiten-rokok-tertekan