Rupiah Menguat Tajam, Kenaikan Berlanjut
Pada perdagangan Rabu (14/8/2024) sore, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 157,5 poin. - Halaman all
(InvestorID) 14/08/24 16:08 14414042
JAKARTA, investor.id – Pada perdagangan Rabu (14/8/2024) sore, nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat tajam 158 poin, walaupun sebelumnya sempat menguat 160 poin, di level Rp 15.675 dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.832,5.
Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan, penguatan ini disebabkan indeks harga produsen (PPI) yang lebih lemah dari perkiraan pada Selasa (13/8/2024).
“Secara eksternal, data Selasa meningkatkan harapan inflasi mereda, dan The Federal Reserve (The Fed) akan memiliki lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga. Pembacaan tersebut muncul tepat sebelum data inflasi indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pada Rabu, dan juga diharapkan menunjukkan inflasi mereda pada Juli, meskipun sedikit,” jelasnya, Rabu.
Prospek pemangkasan suku bunga menghadirkan prospek yang lebih cerah bagi ekonomi AS. Terutama di tengah kekhawatiran baru-baru ini yang mengatakan pertumbuhan melambat akan membutuhkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut dari The Fed.
Menurut CME Fedwatch, para trader sedikit lebih condong ke arah pemangkasan 50 basis poin (bps) pada September 2024 dibandingkan pemangkasan 25 bps setelah data yang dirilis Selasa. Selain data inflasi, data produksi industri dan penjualan ritel dari AS dan China juga akan dirilis minggu ini.
“Pasar juga menunggu tanda-tanda langkah selanjutnya oleh Iran, yang telah bersumpah untuk memberikan tanggapan keras terhadap pembunuhan seorang pemimpin Hamas akhir bulan lalu, yang menurut Iran dilakukan oleh Israel. Israel tidak membenarkan atau membantah keterlibatannya,” sambungnya.
Angkatan Laut AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selam ke Timur Tengah untuk memperkuat pertahanan Israel. Laporan semalam mengatakan Hamas telah meluncurkan beberapa roket ke Tel Aviv, Israel.
Secara internal, pasar merespon positif setelah pemerintah mengungkapkan kondisi ekonomi global tengah mengalami kondisi pelemahan yang dalam. Sektor manufaktur Indonesia menjadi salah satu ‘korban’ akibat pelemahan tersebut.
Data Indeks Manajer Pembelian/ Purchasing Manager’s Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan posisi Indonesia berada di level 49,3 pada Juli 2024. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir.
“Pelemahan kinerja manufaktur juga terjadi pada negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS) di level 49,6 dan China di level 49,8. Ini menggambarkan lingkungan global tidak stabil, bahkan hostile to each other. Ini menyebabkan ekonomi relatif berhenti atau stagnan,” jelas Ibrahim.
Ada banyak faktor yang menyebabkan ekonomi global mengalami tekanan. Di antaranya yang paling terlihat adalah kondisi ekonomi AS yang dikabarkan terancam resesi. Hal itu disebabkan para pelaku pasar keuangan memperkirakan AS bakal mengalami hard landing usai mengalami inflasi yang tinggi.
“Inilah yang terjadi pada minggu lalu yang menunjukkan volatilitas besar dari sisi ekonomi AS dan pengaruhnya ke seluruh dunia,” kata dia.
Sedangkan, kondisi perekonomian di Eropa masih terpantau rentan karena sentimen geopolitik serta perang antara Ukraina dan Rusia. Kemudian, perekonomian China mengalami pertumbuhan yang melambat pada kuartal II-2024 di angka 4,7%, di antaranya karena masalah pinjaman dalam negeri yang besar.
Dilihat dari sisi politik, masalah perang antara Ukraina-Rusia serta perang Timur Tengah yang masih bergejolak usai terbunuhnya Ismail Haniyeh menjadi sentimen yang menggoncangkan kondisi perekonomian global.
“Sehingga ekonomi global diperkirakan masih akan melambat,” tutupnya.
Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 15.600 hingga Rp 15.710.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #rupiah #rupiah-menguat-tajam #nilai-tukar-rupiah #kurs-rupiah #dolar-as #ibrahim-assuaibi #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/370141/rupiah-menguat-tajam-kenaikan-berlanjut