JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/8/2024). Kurs rupiah naik 114,5 poin, bahkan sebelumnya sempat menguat 130 poin ke level Rp 15.435,5 dari penutupan sebelumnya di posisi Rp 15.550 per dolar AS.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan ini disebabkan sejumlah faktor. Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (20/8/2024) dan Rabu (21/8/2024) pekan ini.
“Salah satu yang paling ditunggu pasar adalah pernyataan BI mengenai kebijakan ke depan. The Federal Reserve (The Fed) sudah mengisyaratkan pemangkasan pada September dan BI diperkirakan akan mengikutinya,” jelas Ibrahim dalam catatan Selasa.
Adapun BI sudah mengerek suku bunga sebesar 275 basis poin (bps) dari 3,5% pada Agustus 2022 menjadi 6,25% saat ini. Pemangkasan suku bunga diharapkan bisa mendongrak kredit dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI juga akan memutuskan suku bunga acuan atau BI Rate periode Agustus 2024.
Secara eksternal, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken pada Senin (19/8/2024) mengatakan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menerima "usulan penghubung" yang diajukan oleh AS. Ini dilakukan untuk mengatasi perselisihan yang menghalangi kesepakatan gencatan senjata di Gaza, serta mendesak Hamas untuk melakukan hal yang sama.
Namun, kelompok Islamis Palestina telah mengumumkan dimulainya kembali pengeboman bunuh diri di Israel setelah bertahun-tahun. Mereka mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Tel Aviv pada Minggu (18/8/2024) malam.
Petugas medis mengatakan serangan militer Israel menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina di Jalur Gaza pada Senin, hanya ada sedikit tanda-tanda rekonsiliasi di lapangan dan kekhawatiran akan perang yang lebih luas.
Sementara itu, investor juga menunggu indikasi rencana The Fed keputusan suku bunga berikutnya. The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps dari tiga pertemuan yang tersisa pada 2024.
“Satu pengurangan lebih banyak dari yang diperkirakan bulan lalu, menurut mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters yang mengatakan resesi tidak mungkin terjadi,” jelas Ibrahim.
Anggota The Fed Mary Daly dan Austan Goolsbee selama akhir pekan mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran pada September 2024. Sementara itu, risalah pertemuan kebijakan terakhir yang akan dirilis minggu ini seharusnya menggarisbawahi prospek yang dovish.
Gubernur The Fed Jerome Powell berpidato di Jackson Hole pada akhir pekan lalu dan investor berasumsi ia akan mengakui alasan pemangkasan suku bunga.
Selain itu, kata Ibrahim, Bank Rakyat China (PBoC) mempertahankan suku bunga acuan pinjaman tetap tidak berubah, seperti yang diharapkan secara luas. Namun, langkah tersebut masih mengecewakan beberapa trader yang mengharapkan lebih banyak penurunan suku bunga di negara tersebut, terutama setelah bank sentral secara tak terduga memangkas suku bunga pada Juli 2024.
“Sejak kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tidak jauh-jauh dari level 5%. Meski begitu, dalam Pidato Kenegaraannya, Jokowi mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang masih berada di level 5% merupakan hal yang patut disyukuri,” lanjutnya.
Pasalnya, banyak negara lain yang tidak mengalami pertumbuhan ekonomi bahkan masuk dalam kategori melambat pertumbuhannya. Namun, Indonesia mampu pulih lebih cepat, bahkan terus bertumbuh.
Ibrahim menekankan, perekonomian Indonesia pada pemerintahan Jokowi bukan di desain untuk tumbuh di kisaran 6%. Melainkan untuk menahan agar pertumbuhan tidak turun lebih lanjut, sebagaimana tren penurunan pertumbuhan di pengujung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sedangkan untuk perdagangan besok, Rabu (21/8/2024), mata uang rupiah ditakar akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di kisaran Rp 15.350 hingga Rp 15.450 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News