Kemenperin: Banyak Barang Impor, Utilitas Industri Elektronika Masih Rendah
Kemenperin mencatat bahwa utilitas industri elektronika, makanan dan minuman, serta kosmetik masih rendah akibat produk impor dan kebijakan baru. Halaman all
(Kompas.com) 29/08/24 22:00 14815126
BOGOR, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencermati perkembangan industri menyusul diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan Impor.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif menyatakan utilitas industri elektronika masih di bawah 50 persen sejak Juli 2024. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena pasar dalam negeri masih dibanjiri produk impor akibat adanya relaksasi aturan.
"Kami lihat utilisasinya rendah belum sampai 50 persen.Kami menilai ini disebabkan karena banyak produk elektronik impor yang beredar di pasar domestik terutama sejak diberlakukannya Permendag 8/2024," kata Febri di Sentul, Kabupaten Bogor, Kamis (29/8/2024).
Baca juga: Kemenperin: Belanja Pilkada 2024 Wajib Pakai Produk Dalam Negeri
Fenomena serupa juga terjadi di industri kosmetik. Menurut Febri, industri kosmetik dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk impor.
"Kami menengarai juga bahwa pasar domestik masih dibanjiri oleh produk impor kosmetik," ujarnya.
Febri juga mengungkapkan bahwa penurunan utilitas dialami industri makanan dan minuman (Mamin) pada Agustus 2024. Banyak pengusaha menahan produksi terkait rencana pemerintah mengenakan tarif cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan.
"Walaupun masih kecil, kami melihat industri di subsektor minuman mulai merespons soal pemberlakuan cukai MBDK, meskipun belum mendalam," ucap dia.
Sebelumnya, Kemenperin menyampaikan bahwa Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat 52,40 poin pada Agustus 2024, yang stagnan dari Juli 2024.
"IKI pada bulan Agustus 2024 mencapai 52,40, tidak ada perbedaan dengan nilai IKI bulan Juli 2024. Namun melambat 0,82 poin dibandingkan dengan nilai IKI Agustus tahun lalu yang sebesar 53,22," kata Febri dalam Konferensi Pers IKI Bulan Agustus 2024 di Sentul, Kabupaten Bogor, Kamis (29/8/2024).
Febri melaporkan dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 20 subsektor mengalami ekspansi dan 3 subsektor mengalami kontraksi. Dua puluh subsektor ekspansi memiliki kontribusi sebesar 94,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2024.
"Tiga subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri tekstil yang sudah tiga bulan berturut-turut, industri kertas dan barang kertas, serta industri pengolahan lainnya," ujarnya.
Selain itu, Febri menyatakan adanya percepatan ekspansi nilai IKI variabel pesanan baru sebesar 1,74 poin dari 52,92 pada Juli 2024 menjadi 54,66 pada Agustus 2024.
Nilai IKI variabel persediaan produk juga mengalami peningkatan sebesar 0,01 poin menjadi 55,54. Sebaliknya, nilai IKI variabel produksi mengalami pendalaman kontraksi sebesar 2,90 poin menjadi 46,54.
Terakhir, Febri mengatakan bahwa nilai IKI selama Agustus 2024 ini menurunkan optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usaha selama enam bulan mendatang.
"Persentase pesimisme pandangan pelaku usaha terhadap kondisi usaha 6 bulan ke depan sebesar 5,9 persen turun tipis dari 6,0 persen pada bulan Juli 2024," ucapnya.
#cukai-minuman-berpemanis #indeks-kepercayaan-industri #utilitas-industri-rendah #produk-impor-elektronika