Data Ungkap Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Masih Rendah
Berdasarkan data tahun 2021, kesadaran kesehatan mental masyarakat Indonesia masih rendah, termasuk kesadaran untuk berkonsultasi.
(Kompas.com) 05/09/24 21:15 14900216
KOMPAS.com - Ada banyak faktor yang menyebabkan gangguan kesehatan mental. Salah satu yang mempengaruhinya adalah fenomena kesehatan, seperti pandemi.
Menurut data yang didapatkan Litbang Kompas, tingkat rasa tertekan atau stres selama masa pandemi Covid-19 hingga 2021 adalah:
- Ya, merasa cukup tertekan = 33,3%
- Tidak, tidak terlalu tertekan = 28,7%
- Ya, merasa sering atau sangat tertekan = 24,5%
- Tidak, tidak tertekan sama sekali 13,5%
- Menurut data yang sama, berikut kegiatan yang dilakukan ketika merasa tertekan:
- Pasrah, berdoa kepada Tuhan = 51,4%
- Mencari hiburan (menonton film dan mendengarkan musik) = 20,3%
- Berkeluh kesah kepada teman atau kerabat = 6,7%
- Berdiam dan menenangkan diri = 6,6%
- Konsultasi ke ahli (psikolog atau psikiater = 1,6%
- Lainnya = 12,0%
- Tidak tahu = 1,5%
Data tersebut didapatkan melalui metode penelitian pengumpulan pendapat melalui telepon, yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada tanggal 21-21 September 2021. Sebanyak 503 responden berusia minimal 17 tahun dari 34 provinsi berhasil diwawancara.
Sampel ditentukan secara acak dari responden panel Litbang Kompas, sesuai proporsi jumlah penduduk di tiap provinsi.
Dengan menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian ±4,37 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan sampel dimungkinkan terjadi.
"Kita mengukur bahwa kesadaran kesehatan mental masih sangat rendah," ujar Tim Jurnalisme Data Harian Kompas Margaretha Puteri Rosalina dalam acara Kompas Editor\'s Talks: Apakah Masyarakat Insonesia Sudah Cukup Sehat Mental?, belum lama ini.
Artinya, dari 33,3% orang yang merasa cukup tertekan dan 24,5% orang yang merasa sangat tertekan, hanya 1,6 persen yang konsultasi ke profesional.
"Padahal saat pandemi banyak orang yang stres, karena tidak boleh keluar dan sakit Covid," ujar Margaretha.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesadaran untuk berkonsultasi perihal kesehatan mental masih sangat rendah.
Dari data yang sama, didapatkan bahwa kemauan melakukan konsultasi dengan ahli adalah sebagai berikut:
- Ya, asal mudah atau gratis = 35,5%
- Tidak, karena jauh atau sulit dijangkau dan repot = 27,7%
- Tidak, karena enggan atau malu = 19,1%
- Ya, meski sulit dan membayar = 15,5%
- Tidak tahu = 2,3%
"Meskipun kesadaran untuk berkonsultasi langsung masih rendah, namun ada kemauan asal mudah dan gratis," jelas Margaretha.
Adapun, 27,7% tidak mau berkonsultasi karena jauh juga repot. Itu berarti, jika tersedia layanan konsultasi kesehatan mental yang mudah dijangkau juga murah, maka kesadaran kesehatan mental di masyarakat bisa bertambah.
Adapun, 19,1% tidak mau berkonsultasi karena enggan atau malu. Hal tersebut dikarenakan, pergi ke psikiateer atau psikolog untuk memeriksakan kesehatan mental masih dianggap tabu oleh masyarakat.
Lihat postingan ini di Instagram
#kesehatan-mental #kesadaran-kesehatan-mental-masyarakat-indonesia #kesadaran-kesehatan-mental